alexametrics
22 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Dua Tahun Tidak Operasi, Banyak Bus Rusak

Kisah Pilu Usaha Transportasi di Jember Dampak pandemi korona masih menyisakan PR. Ada sejumlah usaha belum bangkit, seperti transportasi bus Jember Indah.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perusahaan Otobus (PO) Jember Indah yang mempunyai jalur trayek Jember–Situbondo banyak yang rusak dan mangkrak akibat pandemi dua tahun terakhir. Biaya untuk memperbaikinya tidak sebanding dengan pemasukan. Karenanya, sampai saat ini banyak yang tidak beroperasi.

Operator Bus PO Jember Indah, Jumaati, menceritakan, membaiknya kondisi aktivitas masyarakat saat ini turut memengaruhi jumlah penumpang. Pelan-pelan mulai berangsur naik. “Walaupun tidak banyak, tapi sudah mulai naik sedikit,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, di kantornya, lingkungan Kedungpiring, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, kemarin (25/5).

Baca Juga: Kasus Kekerasan Seksual di Kampus Butuh Perhatian Khusus

Dirinya belum bisa menghitung secara pasti jumlah rata-rata kenaikannya. Namun, kondisi ini masih lumayan daripada tahun-tahun sebelumnya. “Tapi, masyarakat itu sudah terbiasa naik sepeda atau taksi online. Jadi, penumpang harus penyesuaian kembali,” imbuh perempuan yang biasa dipanggil Jum itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Trayek bus ini mulai start di Terminal Arjasa dengan tarif 14.000 ke Situbondo. Setiap harinya, ada 10 bus yang beroperasi. Bus mulai beroperasi dari pukul 07.00 sampai pukul 19.00. “Pagi bus keluar, jam 7 malam itu sudah di gudang semua,” paparnya.

Sebelum pandemi, jumlah penumpang mencapai 70 persen dari jumlah tempat duduk. Sedangkan pada saat pandemi tidak ada yang beroperasi sama sekali. Terlebih saat pemberlakuan PPKM yang sampai berlevel-level.

Saat aktivitas masyarakat ada pengetatan, mulai dari work from home, sosial distancing, hingga physical distancing, masih ada 1 sampai 2 bus yang beroperasi. Nah, sejak PPKM diberlakukan, hampir tidak ada bus yang beroperasi sama sekali. “Dari kejadian tersebut, banyak armada bus yang mangkrak, sehingga banyak bus yang rusak. Sebab, tidak ada aktivitas sama sekali,” tegasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perusahaan Otobus (PO) Jember Indah yang mempunyai jalur trayek Jember–Situbondo banyak yang rusak dan mangkrak akibat pandemi dua tahun terakhir. Biaya untuk memperbaikinya tidak sebanding dengan pemasukan. Karenanya, sampai saat ini banyak yang tidak beroperasi.

Operator Bus PO Jember Indah, Jumaati, menceritakan, membaiknya kondisi aktivitas masyarakat saat ini turut memengaruhi jumlah penumpang. Pelan-pelan mulai berangsur naik. “Walaupun tidak banyak, tapi sudah mulai naik sedikit,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, di kantornya, lingkungan Kedungpiring, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, kemarin (25/5).

Baca Juga: Kasus Kekerasan Seksual di Kampus Butuh Perhatian Khusus

Dirinya belum bisa menghitung secara pasti jumlah rata-rata kenaikannya. Namun, kondisi ini masih lumayan daripada tahun-tahun sebelumnya. “Tapi, masyarakat itu sudah terbiasa naik sepeda atau taksi online. Jadi, penumpang harus penyesuaian kembali,” imbuh perempuan yang biasa dipanggil Jum itu.

Trayek bus ini mulai start di Terminal Arjasa dengan tarif 14.000 ke Situbondo. Setiap harinya, ada 10 bus yang beroperasi. Bus mulai beroperasi dari pukul 07.00 sampai pukul 19.00. “Pagi bus keluar, jam 7 malam itu sudah di gudang semua,” paparnya.

Sebelum pandemi, jumlah penumpang mencapai 70 persen dari jumlah tempat duduk. Sedangkan pada saat pandemi tidak ada yang beroperasi sama sekali. Terlebih saat pemberlakuan PPKM yang sampai berlevel-level.

Saat aktivitas masyarakat ada pengetatan, mulai dari work from home, sosial distancing, hingga physical distancing, masih ada 1 sampai 2 bus yang beroperasi. Nah, sejak PPKM diberlakukan, hampir tidak ada bus yang beroperasi sama sekali. “Dari kejadian tersebut, banyak armada bus yang mangkrak, sehingga banyak bus yang rusak. Sebab, tidak ada aktivitas sama sekali,” tegasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perusahaan Otobus (PO) Jember Indah yang mempunyai jalur trayek Jember–Situbondo banyak yang rusak dan mangkrak akibat pandemi dua tahun terakhir. Biaya untuk memperbaikinya tidak sebanding dengan pemasukan. Karenanya, sampai saat ini banyak yang tidak beroperasi.

Operator Bus PO Jember Indah, Jumaati, menceritakan, membaiknya kondisi aktivitas masyarakat saat ini turut memengaruhi jumlah penumpang. Pelan-pelan mulai berangsur naik. “Walaupun tidak banyak, tapi sudah mulai naik sedikit,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, di kantornya, lingkungan Kedungpiring, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, kemarin (25/5).

Baca Juga: Kasus Kekerasan Seksual di Kampus Butuh Perhatian Khusus

Dirinya belum bisa menghitung secara pasti jumlah rata-rata kenaikannya. Namun, kondisi ini masih lumayan daripada tahun-tahun sebelumnya. “Tapi, masyarakat itu sudah terbiasa naik sepeda atau taksi online. Jadi, penumpang harus penyesuaian kembali,” imbuh perempuan yang biasa dipanggil Jum itu.

Trayek bus ini mulai start di Terminal Arjasa dengan tarif 14.000 ke Situbondo. Setiap harinya, ada 10 bus yang beroperasi. Bus mulai beroperasi dari pukul 07.00 sampai pukul 19.00. “Pagi bus keluar, jam 7 malam itu sudah di gudang semua,” paparnya.

Sebelum pandemi, jumlah penumpang mencapai 70 persen dari jumlah tempat duduk. Sedangkan pada saat pandemi tidak ada yang beroperasi sama sekali. Terlebih saat pemberlakuan PPKM yang sampai berlevel-level.

Saat aktivitas masyarakat ada pengetatan, mulai dari work from home, sosial distancing, hingga physical distancing, masih ada 1 sampai 2 bus yang beroperasi. Nah, sejak PPKM diberlakukan, hampir tidak ada bus yang beroperasi sama sekali. “Dari kejadian tersebut, banyak armada bus yang mangkrak, sehingga banyak bus yang rusak. Sebab, tidak ada aktivitas sama sekali,” tegasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/