alexametrics
24.4 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Masif Lakukan Percepatan Desa Layak Anak

Siap Sinergi dengan NGO

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sepanjang Januari-Februari 2021 lalu, pelaporan kejadian pelecehan dan kekerasan yang menimpa anak sudah mencapai 37 kasus dengan jumlah korban mencapai 19 anak. Dari data Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jember, ini mengindikasikan bahwa perlindungan dan pemenuhan hak anak masih belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah masih sedikitnya penetapan desa layak anak.

Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan, Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Joko mengungkapkan bahwa jumlah kekerasan pada anak lebih tinggi dibandingkan kekerasan dan pelecehan yang menimpa perempuan. “Tiga kali lebih banyak. Jumlah korban perempuan Januari hingga Februari ada tiga dan jumlah kasusnya ada enam,” kata Joko saat ditemui di Aula Pemkab Jember, Kamis (25/3).

Mengacu pada data tersebut, DP3AKB melakukan percepatan pembentukan desa layak anak secara masif. “Ada tambahan lima desa yang sudah dideklarasikan. Lalu, ada pembentukan desa layak anak empat desa. Berarti ada 15 desa layak anak,” papar Joko.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepala DP3AKB Suprihandoko mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah lebih baik jika dibandingkan dengan dua tahun lalu. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh eksistensi sekolah ramah anak yang mulai dikampanyekan di lembaga pendidikan formal maupun nonformal.

Terlebih, saat ini pihaknya mengupayakan secara maksimal untuk menciptakan program inovatif pada forum anak. Dalam hal ini, menurutnya, pihak organisasi nirlaba yang konsentrasi pada isu-isu anak tidak bisa dilepaskan dari sinergi. “Kami melakukan pendekatan, apa yang bisa dikolaborasikan,” imbuh Suprihandoko.

Ke depan, pihaknya akan menginisiasi program desa layak anak sesuai dengan kearifan lokal setiap daerah. Sebab, program konkret pada desa layak anak melalui forum anak tidak bisa diseragamkan. Itu karena setiap desa memiliki kemampuan finansial dan kondisi yang berbeda.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sepanjang Januari-Februari 2021 lalu, pelaporan kejadian pelecehan dan kekerasan yang menimpa anak sudah mencapai 37 kasus dengan jumlah korban mencapai 19 anak. Dari data Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jember, ini mengindikasikan bahwa perlindungan dan pemenuhan hak anak masih belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah masih sedikitnya penetapan desa layak anak.

Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan, Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Joko mengungkapkan bahwa jumlah kekerasan pada anak lebih tinggi dibandingkan kekerasan dan pelecehan yang menimpa perempuan. “Tiga kali lebih banyak. Jumlah korban perempuan Januari hingga Februari ada tiga dan jumlah kasusnya ada enam,” kata Joko saat ditemui di Aula Pemkab Jember, Kamis (25/3).

Mengacu pada data tersebut, DP3AKB melakukan percepatan pembentukan desa layak anak secara masif. “Ada tambahan lima desa yang sudah dideklarasikan. Lalu, ada pembentukan desa layak anak empat desa. Berarti ada 15 desa layak anak,” papar Joko.

Kepala DP3AKB Suprihandoko mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah lebih baik jika dibandingkan dengan dua tahun lalu. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh eksistensi sekolah ramah anak yang mulai dikampanyekan di lembaga pendidikan formal maupun nonformal.

Terlebih, saat ini pihaknya mengupayakan secara maksimal untuk menciptakan program inovatif pada forum anak. Dalam hal ini, menurutnya, pihak organisasi nirlaba yang konsentrasi pada isu-isu anak tidak bisa dilepaskan dari sinergi. “Kami melakukan pendekatan, apa yang bisa dikolaborasikan,” imbuh Suprihandoko.

Ke depan, pihaknya akan menginisiasi program desa layak anak sesuai dengan kearifan lokal setiap daerah. Sebab, program konkret pada desa layak anak melalui forum anak tidak bisa diseragamkan. Itu karena setiap desa memiliki kemampuan finansial dan kondisi yang berbeda.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sepanjang Januari-Februari 2021 lalu, pelaporan kejadian pelecehan dan kekerasan yang menimpa anak sudah mencapai 37 kasus dengan jumlah korban mencapai 19 anak. Dari data Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jember, ini mengindikasikan bahwa perlindungan dan pemenuhan hak anak masih belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah masih sedikitnya penetapan desa layak anak.

Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan, Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Joko mengungkapkan bahwa jumlah kekerasan pada anak lebih tinggi dibandingkan kekerasan dan pelecehan yang menimpa perempuan. “Tiga kali lebih banyak. Jumlah korban perempuan Januari hingga Februari ada tiga dan jumlah kasusnya ada enam,” kata Joko saat ditemui di Aula Pemkab Jember, Kamis (25/3).

Mengacu pada data tersebut, DP3AKB melakukan percepatan pembentukan desa layak anak secara masif. “Ada tambahan lima desa yang sudah dideklarasikan. Lalu, ada pembentukan desa layak anak empat desa. Berarti ada 15 desa layak anak,” papar Joko.

Kepala DP3AKB Suprihandoko mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah lebih baik jika dibandingkan dengan dua tahun lalu. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh eksistensi sekolah ramah anak yang mulai dikampanyekan di lembaga pendidikan formal maupun nonformal.

Terlebih, saat ini pihaknya mengupayakan secara maksimal untuk menciptakan program inovatif pada forum anak. Dalam hal ini, menurutnya, pihak organisasi nirlaba yang konsentrasi pada isu-isu anak tidak bisa dilepaskan dari sinergi. “Kami melakukan pendekatan, apa yang bisa dikolaborasikan,” imbuh Suprihandoko.

Ke depan, pihaknya akan menginisiasi program desa layak anak sesuai dengan kearifan lokal setiap daerah. Sebab, program konkret pada desa layak anak melalui forum anak tidak bisa diseragamkan. Itu karena setiap desa memiliki kemampuan finansial dan kondisi yang berbeda.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/