alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Eks Napiter, Tebarkan Paham Moderasi Beragama

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, Radar Jember – Irfan Suhardianto, seorang eks napiter menceritkan pengalamannya saat menjadi seorang yang pernah bergelut bersama kelompok Ansarud Daulah. Sebuah kelompok kajian yang mengklaim kelompok dirinya sebagai kelompok Muslim yang berjihad.

Irfan mengatakan, dulu, dirinya termotivasi mengikuti kajian kelompok tersebut karena semangat mencari hidayah. Baginya, sebagai umat Islam mencari hidayah adalah kewajiban umat Islam karena berkenaan dengan ajaran agama Islam.

Salah satu doktrin yang paling teringat di dalam kepala Irfan adalah doktrin tentang fikih jihad. Dimana, salah satu kelompok memahami bahwa Islam hanya bisa ditegakkan melalu gerakan Jihad. Pemahaman tentang Jihad inilah, yang dikuatkan dengan ayat-ayat, di mana seseorang yang memutuskan perkara tanpa hukum Tuhan, didoktrin kafir.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dirinya menyadari doktrin ini ternyata mencoba untuk memusuhi pemerintah yang membuat hukum, serta para pendukung pemerintah yang melegitimasi semua hukum-hukum yang diciptakan oleh pemerintah dan antek-anteknya. Saat itu, salah satu organisasi sasaran Irfan dan kelompoknya adalah aparat kepolisian.

“Sebab, aparat kepolisian dinilai sebagai salah satu pasak pemerintah yang memiliki kekuatan dalam menjalankan kepentingan pemerintah,” ungkap Irfan saat menjadi pembicara dalam kegiatan Sarasehan Bareng (Sabar) yang digelar oleh Cangkir Opini di kedai Nong, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Sebagai mantan napiter , Irfan jelas menyesali kekeliruannya dalam menyebarkan paham radikal. Ia mengakui, dirinya sudah termasuk dalam kelompok terorisme yang menentang ciri khas Islam yang sebenarnya. Menurutnya, Islam yang harus dipahami adalah islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam, manusia, dan makhluk Tuhan. “Tauhid yang kita pahami jangan sampai pemahaman yang kita anut adalah pemahaman tauhid yang mengkafir-kafirkan orang lain yang berbeda dengan kita,” ujarnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, Radar Jember – Irfan Suhardianto, seorang eks napiter menceritkan pengalamannya saat menjadi seorang yang pernah bergelut bersama kelompok Ansarud Daulah. Sebuah kelompok kajian yang mengklaim kelompok dirinya sebagai kelompok Muslim yang berjihad.

Irfan mengatakan, dulu, dirinya termotivasi mengikuti kajian kelompok tersebut karena semangat mencari hidayah. Baginya, sebagai umat Islam mencari hidayah adalah kewajiban umat Islam karena berkenaan dengan ajaran agama Islam.

Salah satu doktrin yang paling teringat di dalam kepala Irfan adalah doktrin tentang fikih jihad. Dimana, salah satu kelompok memahami bahwa Islam hanya bisa ditegakkan melalu gerakan Jihad. Pemahaman tentang Jihad inilah, yang dikuatkan dengan ayat-ayat, di mana seseorang yang memutuskan perkara tanpa hukum Tuhan, didoktrin kafir.

Dirinya menyadari doktrin ini ternyata mencoba untuk memusuhi pemerintah yang membuat hukum, serta para pendukung pemerintah yang melegitimasi semua hukum-hukum yang diciptakan oleh pemerintah dan antek-anteknya. Saat itu, salah satu organisasi sasaran Irfan dan kelompoknya adalah aparat kepolisian.

“Sebab, aparat kepolisian dinilai sebagai salah satu pasak pemerintah yang memiliki kekuatan dalam menjalankan kepentingan pemerintah,” ungkap Irfan saat menjadi pembicara dalam kegiatan Sarasehan Bareng (Sabar) yang digelar oleh Cangkir Opini di kedai Nong, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Sebagai mantan napiter , Irfan jelas menyesali kekeliruannya dalam menyebarkan paham radikal. Ia mengakui, dirinya sudah termasuk dalam kelompok terorisme yang menentang ciri khas Islam yang sebenarnya. Menurutnya, Islam yang harus dipahami adalah islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam, manusia, dan makhluk Tuhan. “Tauhid yang kita pahami jangan sampai pemahaman yang kita anut adalah pemahaman tauhid yang mengkafir-kafirkan orang lain yang berbeda dengan kita,” ujarnya.

SUMBERSARI, Radar Jember – Irfan Suhardianto, seorang eks napiter menceritkan pengalamannya saat menjadi seorang yang pernah bergelut bersama kelompok Ansarud Daulah. Sebuah kelompok kajian yang mengklaim kelompok dirinya sebagai kelompok Muslim yang berjihad.

Irfan mengatakan, dulu, dirinya termotivasi mengikuti kajian kelompok tersebut karena semangat mencari hidayah. Baginya, sebagai umat Islam mencari hidayah adalah kewajiban umat Islam karena berkenaan dengan ajaran agama Islam.

Salah satu doktrin yang paling teringat di dalam kepala Irfan adalah doktrin tentang fikih jihad. Dimana, salah satu kelompok memahami bahwa Islam hanya bisa ditegakkan melalu gerakan Jihad. Pemahaman tentang Jihad inilah, yang dikuatkan dengan ayat-ayat, di mana seseorang yang memutuskan perkara tanpa hukum Tuhan, didoktrin kafir.

Dirinya menyadari doktrin ini ternyata mencoba untuk memusuhi pemerintah yang membuat hukum, serta para pendukung pemerintah yang melegitimasi semua hukum-hukum yang diciptakan oleh pemerintah dan antek-anteknya. Saat itu, salah satu organisasi sasaran Irfan dan kelompoknya adalah aparat kepolisian.

“Sebab, aparat kepolisian dinilai sebagai salah satu pasak pemerintah yang memiliki kekuatan dalam menjalankan kepentingan pemerintah,” ungkap Irfan saat menjadi pembicara dalam kegiatan Sarasehan Bareng (Sabar) yang digelar oleh Cangkir Opini di kedai Nong, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Sebagai mantan napiter , Irfan jelas menyesali kekeliruannya dalam menyebarkan paham radikal. Ia mengakui, dirinya sudah termasuk dalam kelompok terorisme yang menentang ciri khas Islam yang sebenarnya. Menurutnya, Islam yang harus dipahami adalah islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam, manusia, dan makhluk Tuhan. “Tauhid yang kita pahami jangan sampai pemahaman yang kita anut adalah pemahaman tauhid yang mengkafir-kafirkan orang lain yang berbeda dengan kita,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/