alexametrics
23.4 C
Jember
Friday, 12 August 2022

Digiring Gunakan Gas Nonsubsidi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan gas LPG 3 kilogram atau gas melon yang akhir-akhir ini kerap dikeluhkan langka, dipastikan tidak ada penambahan pasokan. Sebab, gas LPG bertuliskan ‘untuk masyarakat miskin’ itu, dinilai sudah sering dilakukan penambahan pasokan tiap kali terjadi kelangkaan. Ini artinya, masyarakat digiring menggunakan gas nonsubsidi yang hingga kini penggunaannya masih rendah.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Daerah Besuki Soepratigto menjelaskan, gas melon 3 kilogram selama ini sudah sering ditambah. Bahkan jumlahnya telah melebihi dari yang dialokasikan. “Jika terus-terusan dilakukan penambahan pasokan, subsidi kita yang tidak kuat. Karena gas melon itu memakai subsidi dan diperuntukkan bagi orang miskin,” jelasnya.

Menurut dia, jika pasokan terus ditambah, hal itu akan membuat biaya subsidi semakin membengkak. Hal ini dinilai kurang berdampak baik terhadap keberadaan pasokan LPG jenis lainnya atau yang nonsubsidi. Sebab, selama ini, gas melon sudah jadi idola. Tak hanya untuk masyarakat miskin, tapi juga mereka kalangan menengah ke atas. Sementara, peminat terhadap gas jenis ukuran lain, 9 kilogram misalnya, dan yang nonsubsidi, daya konsumsinya terus menurun.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan gas LPG 3 kilogram atau gas melon yang akhir-akhir ini kerap dikeluhkan langka, dipastikan tidak ada penambahan pasokan. Sebab, gas LPG bertuliskan ‘untuk masyarakat miskin’ itu, dinilai sudah sering dilakukan penambahan pasokan tiap kali terjadi kelangkaan. Ini artinya, masyarakat digiring menggunakan gas nonsubsidi yang hingga kini penggunaannya masih rendah.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Daerah Besuki Soepratigto menjelaskan, gas melon 3 kilogram selama ini sudah sering ditambah. Bahkan jumlahnya telah melebihi dari yang dialokasikan. “Jika terus-terusan dilakukan penambahan pasokan, subsidi kita yang tidak kuat. Karena gas melon itu memakai subsidi dan diperuntukkan bagi orang miskin,” jelasnya.

Menurut dia, jika pasokan terus ditambah, hal itu akan membuat biaya subsidi semakin membengkak. Hal ini dinilai kurang berdampak baik terhadap keberadaan pasokan LPG jenis lainnya atau yang nonsubsidi. Sebab, selama ini, gas melon sudah jadi idola. Tak hanya untuk masyarakat miskin, tapi juga mereka kalangan menengah ke atas. Sementara, peminat terhadap gas jenis ukuran lain, 9 kilogram misalnya, dan yang nonsubsidi, daya konsumsinya terus menurun.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan gas LPG 3 kilogram atau gas melon yang akhir-akhir ini kerap dikeluhkan langka, dipastikan tidak ada penambahan pasokan. Sebab, gas LPG bertuliskan ‘untuk masyarakat miskin’ itu, dinilai sudah sering dilakukan penambahan pasokan tiap kali terjadi kelangkaan. Ini artinya, masyarakat digiring menggunakan gas nonsubsidi yang hingga kini penggunaannya masih rendah.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Daerah Besuki Soepratigto menjelaskan, gas melon 3 kilogram selama ini sudah sering ditambah. Bahkan jumlahnya telah melebihi dari yang dialokasikan. “Jika terus-terusan dilakukan penambahan pasokan, subsidi kita yang tidak kuat. Karena gas melon itu memakai subsidi dan diperuntukkan bagi orang miskin,” jelasnya.

Menurut dia, jika pasokan terus ditambah, hal itu akan membuat biaya subsidi semakin membengkak. Hal ini dinilai kurang berdampak baik terhadap keberadaan pasokan LPG jenis lainnya atau yang nonsubsidi. Sebab, selama ini, gas melon sudah jadi idola. Tak hanya untuk masyarakat miskin, tapi juga mereka kalangan menengah ke atas. Sementara, peminat terhadap gas jenis ukuran lain, 9 kilogram misalnya, dan yang nonsubsidi, daya konsumsinya terus menurun.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/