alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Bocah Itu Berdagang Belas Kasihan

Dugaan Eksploitasi Anak Terselubung

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seorang anak berusia 12 tahun duduk di pinggir jembatan, tak jauh dari gedung DPRD Jember. Bocah itu duduk sembari menjaga barang dagangannya. Ada sapu lidi, sapu ijuk, dan kemoceng. Jumlahnya tak banyak, hanya 26 biji. Harganya mulai Rp 17 ribu hingga Rp 25 ribu. Tangannya terlihat memegang sebuah buku. Rupanya, sembari menjaga dagangan, dia juga menyempatkan belajar. Bocah berpenampilan lusuh ini bernama Opang (bukan nama sebenarnya).

Opang bukanlah bocah asli Jember. Ia berasal dari sebuah desa di Kecamatan Bringin, Banyuwangi. Orang tua bungsu empat bersaudara ini bekerja sebagai penjual sapu dan kemoceng seperti dirinya. Ketiga kakaknya telah bekerja. Kondisi ini sebenarnya menggambarkan taraf ekonominya lumayan baik. Kebutuhan Opang untuk pendidikan juga terpenuhi cukup baik.

Namun, pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap aktivitas belajar di sekolah membuatnya belajar secara daring. Sudah setengah tahun lebih dia melakukannya. Semua aktivitas belajar dipantau melalui WhatsApp. Lamanya sekolah jarak jauh itu membuat Opang berjualan. Membantu orang tuanya. Pekerjaan ini dilakoninya sejak tiga bulan terakhir. Ia memulai di daerah rumahnya. Hanya berbeda tempat dengan orang tuanya. “Kadang jualan di daerah Pulau Merah (Banyuwangi, Red),” ujar Opang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lantaran kondisi Banyuwangi mulai sepi, Opang memutuskan untuk berjualan di Jember. Tak butuh waktu lama. Orang tuanya langsung menyetujui. Mereka mengantar Opang ke Jember dengan mengendarai sepeda motor.

Opang diberhentikan di depan rumah kosong di jalan wilayah Sumbersari, dekat dengan kawasan kampus. Orang tuanya membelanjakan sapu lidi dan ijuk untuk dijual. Lalu, mereka meninggalkan anaknya sendirian. Empat hari awal kedatangannya, Opang tidur di depan teras rumah kosong. Untuk memenuhi kebutuhan sanitasi, ia memanfaatkan aliran sungai di bawah jembatan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seorang anak berusia 12 tahun duduk di pinggir jembatan, tak jauh dari gedung DPRD Jember. Bocah itu duduk sembari menjaga barang dagangannya. Ada sapu lidi, sapu ijuk, dan kemoceng. Jumlahnya tak banyak, hanya 26 biji. Harganya mulai Rp 17 ribu hingga Rp 25 ribu. Tangannya terlihat memegang sebuah buku. Rupanya, sembari menjaga dagangan, dia juga menyempatkan belajar. Bocah berpenampilan lusuh ini bernama Opang (bukan nama sebenarnya).

Opang bukanlah bocah asli Jember. Ia berasal dari sebuah desa di Kecamatan Bringin, Banyuwangi. Orang tua bungsu empat bersaudara ini bekerja sebagai penjual sapu dan kemoceng seperti dirinya. Ketiga kakaknya telah bekerja. Kondisi ini sebenarnya menggambarkan taraf ekonominya lumayan baik. Kebutuhan Opang untuk pendidikan juga terpenuhi cukup baik.

Namun, pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap aktivitas belajar di sekolah membuatnya belajar secara daring. Sudah setengah tahun lebih dia melakukannya. Semua aktivitas belajar dipantau melalui WhatsApp. Lamanya sekolah jarak jauh itu membuat Opang berjualan. Membantu orang tuanya. Pekerjaan ini dilakoninya sejak tiga bulan terakhir. Ia memulai di daerah rumahnya. Hanya berbeda tempat dengan orang tuanya. “Kadang jualan di daerah Pulau Merah (Banyuwangi, Red),” ujar Opang.

Lantaran kondisi Banyuwangi mulai sepi, Opang memutuskan untuk berjualan di Jember. Tak butuh waktu lama. Orang tuanya langsung menyetujui. Mereka mengantar Opang ke Jember dengan mengendarai sepeda motor.

Opang diberhentikan di depan rumah kosong di jalan wilayah Sumbersari, dekat dengan kawasan kampus. Orang tuanya membelanjakan sapu lidi dan ijuk untuk dijual. Lalu, mereka meninggalkan anaknya sendirian. Empat hari awal kedatangannya, Opang tidur di depan teras rumah kosong. Untuk memenuhi kebutuhan sanitasi, ia memanfaatkan aliran sungai di bawah jembatan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seorang anak berusia 12 tahun duduk di pinggir jembatan, tak jauh dari gedung DPRD Jember. Bocah itu duduk sembari menjaga barang dagangannya. Ada sapu lidi, sapu ijuk, dan kemoceng. Jumlahnya tak banyak, hanya 26 biji. Harganya mulai Rp 17 ribu hingga Rp 25 ribu. Tangannya terlihat memegang sebuah buku. Rupanya, sembari menjaga dagangan, dia juga menyempatkan belajar. Bocah berpenampilan lusuh ini bernama Opang (bukan nama sebenarnya).

Opang bukanlah bocah asli Jember. Ia berasal dari sebuah desa di Kecamatan Bringin, Banyuwangi. Orang tua bungsu empat bersaudara ini bekerja sebagai penjual sapu dan kemoceng seperti dirinya. Ketiga kakaknya telah bekerja. Kondisi ini sebenarnya menggambarkan taraf ekonominya lumayan baik. Kebutuhan Opang untuk pendidikan juga terpenuhi cukup baik.

Namun, pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap aktivitas belajar di sekolah membuatnya belajar secara daring. Sudah setengah tahun lebih dia melakukannya. Semua aktivitas belajar dipantau melalui WhatsApp. Lamanya sekolah jarak jauh itu membuat Opang berjualan. Membantu orang tuanya. Pekerjaan ini dilakoninya sejak tiga bulan terakhir. Ia memulai di daerah rumahnya. Hanya berbeda tempat dengan orang tuanya. “Kadang jualan di daerah Pulau Merah (Banyuwangi, Red),” ujar Opang.

Lantaran kondisi Banyuwangi mulai sepi, Opang memutuskan untuk berjualan di Jember. Tak butuh waktu lama. Orang tuanya langsung menyetujui. Mereka mengantar Opang ke Jember dengan mengendarai sepeda motor.

Opang diberhentikan di depan rumah kosong di jalan wilayah Sumbersari, dekat dengan kawasan kampus. Orang tuanya membelanjakan sapu lidi dan ijuk untuk dijual. Lalu, mereka meninggalkan anaknya sendirian. Empat hari awal kedatangannya, Opang tidur di depan teras rumah kosong. Untuk memenuhi kebutuhan sanitasi, ia memanfaatkan aliran sungai di bawah jembatan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/