alexametrics
23.1 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Semua Tulisan Terinspirasi dari Permasalahan di Sekolah

Peran guru tak hanya mengajar, tapi juga mendedikasikan kiprahnya di dunia literasi. Inilah yang dilakukan Utami Devi, guru yang gemar menulis sejak duduk di bangku SD. Karya tulisnya berupa cerpen maupun buku telah beberapa kali diterbitkan. Tujuan menulisnya hanya satu, untuk mengubah karakter siswanya yang menyimpang.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Orang tua Utami sejak kecil tidak pernah mengarahkannya untuk rajin membaca dan menulis. Ayahnya seorang wiraswasta yang gemar olahraga. Sedangkan ibunya adalah seorang penjahit. Nah, Utami mulai mengenal dunia literasi ketika dia dipertemukan dengan Mudawamah, guru agama di SD tempatnya bersekolah.

Kala itu, Utami sudah duduk di bangku kelas dua SD, namun belum bisa mengaji. Dari situ Mudawamah mulai istiqamah untuk mengajari Utami mengaji sembari memperkenalkan dan memberi beberapa buku bacaan. Benih ketertarikan pada dunia literasi muncul. Lambat laun, Utami ketagihan untuk membaca buku cerita. Setiap bertemu dengan Mudawamah, Utami selalu meminta dan bertanya buku baru untuk dibaca.

Lalu hobinya pun berlanjut, Utami mulai rajin menulis. Dia mengawali tulisannya mengenai kehidupan sehari-hari. Kebanyakan mengulas tentang kehidupan keluarga dan perkembangan masa remaja dengan dibumbui khayalan khas remaja pada umumnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berkat guru agamanya itu, beberapa kali tulisan cerpen Utami mendapat penghargaan lomba. Tak hanya itu, tulisannya juga langganan muncul di beberapa media cetak. “Guru agama saya itulah yang berjasa membuat saya bisa menulis hingga sekarang,” kenangnya.

Dulu, tulisan Utami lebih banyak mengulas tentang hidupnya. Serupa dengan sebuah buku harian dan khayalan ketika remaja. Kini tulisannya banyak terinspirasi dari tingkah laku murid-muridnya di sekolah. Apalagi murid yang terkena masalah atau berperilaku menyimpang.

Utami belajar tentang masalah yang menimpa muridnya melalui beberapa literatur. Lalu, dari data itu, wanita berhijab ini mencoba menarasikannya dalam sebuah cerita yang relevan dengan kehidupan sehari-hari hari muridnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Orang tua Utami sejak kecil tidak pernah mengarahkannya untuk rajin membaca dan menulis. Ayahnya seorang wiraswasta yang gemar olahraga. Sedangkan ibunya adalah seorang penjahit. Nah, Utami mulai mengenal dunia literasi ketika dia dipertemukan dengan Mudawamah, guru agama di SD tempatnya bersekolah.

Kala itu, Utami sudah duduk di bangku kelas dua SD, namun belum bisa mengaji. Dari situ Mudawamah mulai istiqamah untuk mengajari Utami mengaji sembari memperkenalkan dan memberi beberapa buku bacaan. Benih ketertarikan pada dunia literasi muncul. Lambat laun, Utami ketagihan untuk membaca buku cerita. Setiap bertemu dengan Mudawamah, Utami selalu meminta dan bertanya buku baru untuk dibaca.

Lalu hobinya pun berlanjut, Utami mulai rajin menulis. Dia mengawali tulisannya mengenai kehidupan sehari-hari. Kebanyakan mengulas tentang kehidupan keluarga dan perkembangan masa remaja dengan dibumbui khayalan khas remaja pada umumnya.

Berkat guru agamanya itu, beberapa kali tulisan cerpen Utami mendapat penghargaan lomba. Tak hanya itu, tulisannya juga langganan muncul di beberapa media cetak. “Guru agama saya itulah yang berjasa membuat saya bisa menulis hingga sekarang,” kenangnya.

Dulu, tulisan Utami lebih banyak mengulas tentang hidupnya. Serupa dengan sebuah buku harian dan khayalan ketika remaja. Kini tulisannya banyak terinspirasi dari tingkah laku murid-muridnya di sekolah. Apalagi murid yang terkena masalah atau berperilaku menyimpang.

Utami belajar tentang masalah yang menimpa muridnya melalui beberapa literatur. Lalu, dari data itu, wanita berhijab ini mencoba menarasikannya dalam sebuah cerita yang relevan dengan kehidupan sehari-hari hari muridnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Orang tua Utami sejak kecil tidak pernah mengarahkannya untuk rajin membaca dan menulis. Ayahnya seorang wiraswasta yang gemar olahraga. Sedangkan ibunya adalah seorang penjahit. Nah, Utami mulai mengenal dunia literasi ketika dia dipertemukan dengan Mudawamah, guru agama di SD tempatnya bersekolah.

Kala itu, Utami sudah duduk di bangku kelas dua SD, namun belum bisa mengaji. Dari situ Mudawamah mulai istiqamah untuk mengajari Utami mengaji sembari memperkenalkan dan memberi beberapa buku bacaan. Benih ketertarikan pada dunia literasi muncul. Lambat laun, Utami ketagihan untuk membaca buku cerita. Setiap bertemu dengan Mudawamah, Utami selalu meminta dan bertanya buku baru untuk dibaca.

Lalu hobinya pun berlanjut, Utami mulai rajin menulis. Dia mengawali tulisannya mengenai kehidupan sehari-hari. Kebanyakan mengulas tentang kehidupan keluarga dan perkembangan masa remaja dengan dibumbui khayalan khas remaja pada umumnya.

Berkat guru agamanya itu, beberapa kali tulisan cerpen Utami mendapat penghargaan lomba. Tak hanya itu, tulisannya juga langganan muncul di beberapa media cetak. “Guru agama saya itulah yang berjasa membuat saya bisa menulis hingga sekarang,” kenangnya.

Dulu, tulisan Utami lebih banyak mengulas tentang hidupnya. Serupa dengan sebuah buku harian dan khayalan ketika remaja. Kini tulisannya banyak terinspirasi dari tingkah laku murid-muridnya di sekolah. Apalagi murid yang terkena masalah atau berperilaku menyimpang.

Utami belajar tentang masalah yang menimpa muridnya melalui beberapa literatur. Lalu, dari data itu, wanita berhijab ini mencoba menarasikannya dalam sebuah cerita yang relevan dengan kehidupan sehari-hari hari muridnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/