alexametrics
23.3 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Panas, Hearing Warga-Rumah Sakit

Warga Gebrak Meja, Kadinkes Terkejut

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ketegangan sempat mewarnai jalannya mediasi kasus korona di DPRD Jember, kemarin (24/9). Itu terjadi saat tanda tangan sebuah surat, tidak diakui sebagai tanda tangan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Dyah Kusworini.

“Bukan, ini bukan tanda tangan saya,” ucap Dyah Kusworini. Seketika, beberapa tangan warga menggebrak meja. “Sungguh, ini bukan tanda tangan saya,” tegas Kadinkes itu lagi di hadapan warga, pihak Rumah Sakit Bina Sehat, serta anggota dewan dan aparat kepolisian.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jember Nur Hasan segera menengahi keadaan. Dia ingin semua yang hadir mengedepankan jalannya musyawarah dan berbicara secara gantian. “Saya ini moderator. Minum kopi dulu biar tenang,” ucapnya, yang kemudian keadaan menjadi adem.

Mobile_AP_Rectangle 2

Nur Hasan pun mempersilakan warga untuk menyampaikan aspirasinya. Warga yang datang ke DPRD ini datang dari Kelurahan/Kecamatan Kaliwates terkait kasus korona yang sempat bergejolak dan mendemo RSBS, beberapa waktu lalu.

Ahmad Said Hidayad, putra almarhum orang tuanya RS, tetap menduga bahwa hasil swab yang dikeluarkan RSBS adalah rekayasa atau palsu. Pada kesempatan ini pun, dia meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.

“Ini ada surat ditandatangani orang yang sama, tetapi tanda tangannya berbeda. Ada juga surat tanpa tanda tangan. Sebenarnya ini bagaimana. Siapa yang boleh mengeluarkan hasil swab?” tanya Said.

Dia dan warga pun sempat marah karena Dyah tidak mengakui tanda tangan yang dibubuhkan dalam sebuah surat. “Ini kan dikeluarkan Dinas Kesehatan, terus yang tanda tangan siapa?” ucap Said.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ketegangan sempat mewarnai jalannya mediasi kasus korona di DPRD Jember, kemarin (24/9). Itu terjadi saat tanda tangan sebuah surat, tidak diakui sebagai tanda tangan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Dyah Kusworini.

“Bukan, ini bukan tanda tangan saya,” ucap Dyah Kusworini. Seketika, beberapa tangan warga menggebrak meja. “Sungguh, ini bukan tanda tangan saya,” tegas Kadinkes itu lagi di hadapan warga, pihak Rumah Sakit Bina Sehat, serta anggota dewan dan aparat kepolisian.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jember Nur Hasan segera menengahi keadaan. Dia ingin semua yang hadir mengedepankan jalannya musyawarah dan berbicara secara gantian. “Saya ini moderator. Minum kopi dulu biar tenang,” ucapnya, yang kemudian keadaan menjadi adem.

Nur Hasan pun mempersilakan warga untuk menyampaikan aspirasinya. Warga yang datang ke DPRD ini datang dari Kelurahan/Kecamatan Kaliwates terkait kasus korona yang sempat bergejolak dan mendemo RSBS, beberapa waktu lalu.

Ahmad Said Hidayad, putra almarhum orang tuanya RS, tetap menduga bahwa hasil swab yang dikeluarkan RSBS adalah rekayasa atau palsu. Pada kesempatan ini pun, dia meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.

“Ini ada surat ditandatangani orang yang sama, tetapi tanda tangannya berbeda. Ada juga surat tanpa tanda tangan. Sebenarnya ini bagaimana. Siapa yang boleh mengeluarkan hasil swab?” tanya Said.

Dia dan warga pun sempat marah karena Dyah tidak mengakui tanda tangan yang dibubuhkan dalam sebuah surat. “Ini kan dikeluarkan Dinas Kesehatan, terus yang tanda tangan siapa?” ucap Said.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ketegangan sempat mewarnai jalannya mediasi kasus korona di DPRD Jember, kemarin (24/9). Itu terjadi saat tanda tangan sebuah surat, tidak diakui sebagai tanda tangan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Dyah Kusworini.

“Bukan, ini bukan tanda tangan saya,” ucap Dyah Kusworini. Seketika, beberapa tangan warga menggebrak meja. “Sungguh, ini bukan tanda tangan saya,” tegas Kadinkes itu lagi di hadapan warga, pihak Rumah Sakit Bina Sehat, serta anggota dewan dan aparat kepolisian.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jember Nur Hasan segera menengahi keadaan. Dia ingin semua yang hadir mengedepankan jalannya musyawarah dan berbicara secara gantian. “Saya ini moderator. Minum kopi dulu biar tenang,” ucapnya, yang kemudian keadaan menjadi adem.

Nur Hasan pun mempersilakan warga untuk menyampaikan aspirasinya. Warga yang datang ke DPRD ini datang dari Kelurahan/Kecamatan Kaliwates terkait kasus korona yang sempat bergejolak dan mendemo RSBS, beberapa waktu lalu.

Ahmad Said Hidayad, putra almarhum orang tuanya RS, tetap menduga bahwa hasil swab yang dikeluarkan RSBS adalah rekayasa atau palsu. Pada kesempatan ini pun, dia meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.

“Ini ada surat ditandatangani orang yang sama, tetapi tanda tangannya berbeda. Ada juga surat tanpa tanda tangan. Sebenarnya ini bagaimana. Siapa yang boleh mengeluarkan hasil swab?” tanya Said.

Dia dan warga pun sempat marah karena Dyah tidak mengakui tanda tangan yang dibubuhkan dalam sebuah surat. “Ini kan dikeluarkan Dinas Kesehatan, terus yang tanda tangan siapa?” ucap Said.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/