alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Harus Jalan Pelan, Tak Pernah Bosan Keliling Kebun

Menjadi masinis kereta lori tebu benar-benar mengandalkan kesabaran. Sabar dan cekatan untuk menjalankan lokomotif mini, mengangkut puluhan lori tebu. Sudah ada prosedurnya serta wajib didampingi asisten masinis.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Nanang Basuki berjalan memastikan mesin lokomotif mini kereta lori pengangkut tebu siap berjalan. Dirinya tak ragu melakukan pengecekan satu per satu komponen lokomotif berwarna kuning itu. Mulai dari bahan bakar, roda lokomotif, hingga memanaskan mesin untuk beberapa menit.

Ya, Nanang bertugas sebagai masinis kereta lori tebu di PG Semboro. Pria asli Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, ini sudah bekerja di atas rel sejak 2011 silam, di pabrik gula peninggalan zaman Belanda ini.

Sembari menarik tuas untuk jalan mundur dari gedung bengkel perawatan lokomotif lori atau yang biasa disebut Pelayanan Teknik (Peltek), Nanang juga harus mengamati jalan bergelombang rangkaian rel lori. Ya, rel kereta lori ini memang tidak semulus rel kereta diesel milik PT KAI. Ukurannya kecil, tidak ada bantalan rel dari kerikil, membuat rel kereta lori ini bergelombang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sesekali, Nanang berkoordinasi dengan rekannya, Agus Supriyanto, sebagai kernetnya. Istilah kerennya, asisten masinis. “Kalau mengendarai lokomotif lori tebu ini harus telaten. Nggak bisa jalan dengan kecepatan penuh. Maksimal jalannya hanya 50 kilometer per jam,” tutur Nanang.

Nanang menceritakan bahwa dirinya tak serta-merta langsung menjadi masinis. Sama seperti masinis KAI, butuh rangkaian proses untuk mendapatkan pengalaman sebagai masinis. Jika di KAI, masinis tak boleh langsung membawa kereta penumpang. Awal-awal mereka hanya sebagai masinis kereta langsir. Setelah itu, baru naik tingkat jadi asisten masinis kereta barang atau penumpang. Barulah dapat menjadi masinis dengan kereta penumpang.

“Awalnya, saya ya jadi asisten dulu. Nggak bisa langsung jadi masinis. Tapi beberapa tahun belakangan ini, akhirnya saya jadi masinis. Kebetulan, masinis sebelumnya sakit, akhirnya saya yang gantikan,” kata Nanang kepada Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Nanang Basuki berjalan memastikan mesin lokomotif mini kereta lori pengangkut tebu siap berjalan. Dirinya tak ragu melakukan pengecekan satu per satu komponen lokomotif berwarna kuning itu. Mulai dari bahan bakar, roda lokomotif, hingga memanaskan mesin untuk beberapa menit.

Ya, Nanang bertugas sebagai masinis kereta lori tebu di PG Semboro. Pria asli Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, ini sudah bekerja di atas rel sejak 2011 silam, di pabrik gula peninggalan zaman Belanda ini.

Sembari menarik tuas untuk jalan mundur dari gedung bengkel perawatan lokomotif lori atau yang biasa disebut Pelayanan Teknik (Peltek), Nanang juga harus mengamati jalan bergelombang rangkaian rel lori. Ya, rel kereta lori ini memang tidak semulus rel kereta diesel milik PT KAI. Ukurannya kecil, tidak ada bantalan rel dari kerikil, membuat rel kereta lori ini bergelombang.

Sesekali, Nanang berkoordinasi dengan rekannya, Agus Supriyanto, sebagai kernetnya. Istilah kerennya, asisten masinis. “Kalau mengendarai lokomotif lori tebu ini harus telaten. Nggak bisa jalan dengan kecepatan penuh. Maksimal jalannya hanya 50 kilometer per jam,” tutur Nanang.

Nanang menceritakan bahwa dirinya tak serta-merta langsung menjadi masinis. Sama seperti masinis KAI, butuh rangkaian proses untuk mendapatkan pengalaman sebagai masinis. Jika di KAI, masinis tak boleh langsung membawa kereta penumpang. Awal-awal mereka hanya sebagai masinis kereta langsir. Setelah itu, baru naik tingkat jadi asisten masinis kereta barang atau penumpang. Barulah dapat menjadi masinis dengan kereta penumpang.

“Awalnya, saya ya jadi asisten dulu. Nggak bisa langsung jadi masinis. Tapi beberapa tahun belakangan ini, akhirnya saya jadi masinis. Kebetulan, masinis sebelumnya sakit, akhirnya saya yang gantikan,” kata Nanang kepada Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Nanang Basuki berjalan memastikan mesin lokomotif mini kereta lori pengangkut tebu siap berjalan. Dirinya tak ragu melakukan pengecekan satu per satu komponen lokomotif berwarna kuning itu. Mulai dari bahan bakar, roda lokomotif, hingga memanaskan mesin untuk beberapa menit.

Ya, Nanang bertugas sebagai masinis kereta lori tebu di PG Semboro. Pria asli Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, ini sudah bekerja di atas rel sejak 2011 silam, di pabrik gula peninggalan zaman Belanda ini.

Sembari menarik tuas untuk jalan mundur dari gedung bengkel perawatan lokomotif lori atau yang biasa disebut Pelayanan Teknik (Peltek), Nanang juga harus mengamati jalan bergelombang rangkaian rel lori. Ya, rel kereta lori ini memang tidak semulus rel kereta diesel milik PT KAI. Ukurannya kecil, tidak ada bantalan rel dari kerikil, membuat rel kereta lori ini bergelombang.

Sesekali, Nanang berkoordinasi dengan rekannya, Agus Supriyanto, sebagai kernetnya. Istilah kerennya, asisten masinis. “Kalau mengendarai lokomotif lori tebu ini harus telaten. Nggak bisa jalan dengan kecepatan penuh. Maksimal jalannya hanya 50 kilometer per jam,” tutur Nanang.

Nanang menceritakan bahwa dirinya tak serta-merta langsung menjadi masinis. Sama seperti masinis KAI, butuh rangkaian proses untuk mendapatkan pengalaman sebagai masinis. Jika di KAI, masinis tak boleh langsung membawa kereta penumpang. Awal-awal mereka hanya sebagai masinis kereta langsir. Setelah itu, baru naik tingkat jadi asisten masinis kereta barang atau penumpang. Barulah dapat menjadi masinis dengan kereta penumpang.

“Awalnya, saya ya jadi asisten dulu. Nggak bisa langsung jadi masinis. Tapi beberapa tahun belakangan ini, akhirnya saya jadi masinis. Kebetulan, masinis sebelumnya sakit, akhirnya saya yang gantikan,” kata Nanang kepada Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/