alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Tidak Ada Arakan Sesaji dan Replika Perahu Pada Ritual Petik Laut

Tak Semeriah Tahun-Tahun Sebelumnya

Mobile_AP_Rectangle 1

Kepala Desa Puger Kulon Nur Hasan mengatakan, sebenarnya pemerintah desa dilematis dalam penyelenggaraan tradisi ini. Kalau tidak melaksanakan petik laut, pihaknya khawatir masyarakat dan nelayan melakukannya sendiri karena memang sudah menjadi tradisi. Jika begitu, kondisinya tentu lebih mengkhawatirkan karena ada potensi terjadi kerumunan dan liar. Namun, ketika menggelarnya, pemerintah desa juga waswas ada yang tidak tertib dan melanggar.

Oleh karena itu, mau tidak mau pemerintah desa mengakomodasi apa yang menjadi tradisi masyarakat Puger ini. Apalagi, petik laut merupakan kearifan lokal yang sudah dilaksanakan turun-temurun. “Acara ini bukan hanya petik laut, tetapi juga selamatan desa. Makanya, ada hasil bumi juga yang dilarung ke laut,” kata Nur Hasan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, petik laut ini sudah dilakukan sejak zaman Belanda dulu hingga sekarang. Di saat pandemi ini, prosesi dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Sehingga dalam acara larung semuanya diangkut menggunakan kendaraan dan tidak ada yang jalan kaki. Itu pun pesertanya terbatas. Hanya diikuti oleh perwakilan dari staf pemerintah desa, Badan Perwakilan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), serta perwakilan nelayan. “Untuk peserta yang ikut melarung ini tidak boleh keluar dari kendaraan, sehingga memang berbeda jauh dengan petik laut tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Bagi nelayan di Puger, tujuan petik laut ini adalah sebagai bentuk syukur, sekaligus harapan berkah dari Tuhan supaya rezeki mereka terus bertambah dan dijauhkan dari musibah. “Dan mudah-mudahan pandemi ini segera berlalu,” pungkas Nur Hasan.

Reporter : Juma’i
Fotografer : Juma’i
Editor : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Kepala Desa Puger Kulon Nur Hasan mengatakan, sebenarnya pemerintah desa dilematis dalam penyelenggaraan tradisi ini. Kalau tidak melaksanakan petik laut, pihaknya khawatir masyarakat dan nelayan melakukannya sendiri karena memang sudah menjadi tradisi. Jika begitu, kondisinya tentu lebih mengkhawatirkan karena ada potensi terjadi kerumunan dan liar. Namun, ketika menggelarnya, pemerintah desa juga waswas ada yang tidak tertib dan melanggar.

Oleh karena itu, mau tidak mau pemerintah desa mengakomodasi apa yang menjadi tradisi masyarakat Puger ini. Apalagi, petik laut merupakan kearifan lokal yang sudah dilaksanakan turun-temurun. “Acara ini bukan hanya petik laut, tetapi juga selamatan desa. Makanya, ada hasil bumi juga yang dilarung ke laut,” kata Nur Hasan.

Menurutnya, petik laut ini sudah dilakukan sejak zaman Belanda dulu hingga sekarang. Di saat pandemi ini, prosesi dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Sehingga dalam acara larung semuanya diangkut menggunakan kendaraan dan tidak ada yang jalan kaki. Itu pun pesertanya terbatas. Hanya diikuti oleh perwakilan dari staf pemerintah desa, Badan Perwakilan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), serta perwakilan nelayan. “Untuk peserta yang ikut melarung ini tidak boleh keluar dari kendaraan, sehingga memang berbeda jauh dengan petik laut tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Bagi nelayan di Puger, tujuan petik laut ini adalah sebagai bentuk syukur, sekaligus harapan berkah dari Tuhan supaya rezeki mereka terus bertambah dan dijauhkan dari musibah. “Dan mudah-mudahan pandemi ini segera berlalu,” pungkas Nur Hasan.

Reporter : Juma’i
Fotografer : Juma’i
Editor : Mahrus Sholih

Kepala Desa Puger Kulon Nur Hasan mengatakan, sebenarnya pemerintah desa dilematis dalam penyelenggaraan tradisi ini. Kalau tidak melaksanakan petik laut, pihaknya khawatir masyarakat dan nelayan melakukannya sendiri karena memang sudah menjadi tradisi. Jika begitu, kondisinya tentu lebih mengkhawatirkan karena ada potensi terjadi kerumunan dan liar. Namun, ketika menggelarnya, pemerintah desa juga waswas ada yang tidak tertib dan melanggar.

Oleh karena itu, mau tidak mau pemerintah desa mengakomodasi apa yang menjadi tradisi masyarakat Puger ini. Apalagi, petik laut merupakan kearifan lokal yang sudah dilaksanakan turun-temurun. “Acara ini bukan hanya petik laut, tetapi juga selamatan desa. Makanya, ada hasil bumi juga yang dilarung ke laut,” kata Nur Hasan.

Menurutnya, petik laut ini sudah dilakukan sejak zaman Belanda dulu hingga sekarang. Di saat pandemi ini, prosesi dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Sehingga dalam acara larung semuanya diangkut menggunakan kendaraan dan tidak ada yang jalan kaki. Itu pun pesertanya terbatas. Hanya diikuti oleh perwakilan dari staf pemerintah desa, Badan Perwakilan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), serta perwakilan nelayan. “Untuk peserta yang ikut melarung ini tidak boleh keluar dari kendaraan, sehingga memang berbeda jauh dengan petik laut tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Bagi nelayan di Puger, tujuan petik laut ini adalah sebagai bentuk syukur, sekaligus harapan berkah dari Tuhan supaya rezeki mereka terus bertambah dan dijauhkan dari musibah. “Dan mudah-mudahan pandemi ini segera berlalu,” pungkas Nur Hasan.

Reporter : Juma’i
Fotografer : Juma’i
Editor : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/