alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Tidak Ada Arakan Sesaji dan Replika Perahu Pada Ritual Petik Laut

Tak Semeriah Tahun-Tahun Sebelumnya

Mobile_AP_Rectangle 1

PUGER KULON, RADARJEMBER.ID – Dua tahun terakhir ini acara larung sesaji atau yang lebih dikenal dengan petik laut, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Sebab, ritual syukur yang dilakukan oleh nelayan itu bersamaan dengan pandemi Covid-19. Karena itu, kegiatannya tidak melibatkan banyak orang dan hanya diikuti oleh perwakilan dari pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat.

Di Kecamatan Puger, petik laut dilaksanakan selama dua hari, Senin (23/8) oleh Pemerintah Desa Puger Wetan, dan Selasa (24/8) oleh Pemerintah Desa Puger Kulon. Sebab, selain tradisi, pemisahan waktu berlangsungnya acara larung sesaji di dua desa itu juga untuk mencegah terjadinya kerumunan. Bahkan, tak hanya teknis dan waktu pelaksanaan, acara pelepasan replika perahu dan tempat hasil bumi yang akan dilarung juga berbeda. Tidak seperti sebelum-sebelumnya.

Sebenarnya, warga Puger dan sekitarnya sudah memahami bahwa acara petik laut tahun ini tidak ada kerumunan. Sama seperti tahun sebelumnya. Hanya, ritual tahunan itu tetap saja didatangi masyarakat yang penasaran ingin melihat. Namun, warga dan nelayan yang menyaksikan tradisi itu tetap tertib. Jumlah mereka juga terbatas.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jika biasanya prosesi petik laut diawali dengan arak-arakan sesaji dan replika perahu dari Pendapa Kecamatan Puger, kali ini berbeda. Replika perahu dan tempat hasil bumi yang akan dilarung itu dinaikkan ke atas pikap dari depan Balai Desa Puger Kulon yang lokasinya berhadapan dengan kantor kecamatan. Tanpa arak-arakan. Kemudian, dibawa menuju dermaga di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger yang berjarak sekitar 400 meter. Selanjutnya, dinaikkan ke perahu untuk dilarung bersama-sama ke tengah laut.

Prosesi itu hanya diikuti oleh beberapa orang. Ada perwakilan nelayan, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa setempat. Kepala Desa Puger Kulon Nur Hasan bersama istri, serta perangkat desa yang menggunakan kendaraan bak terbuka, turut mengiringi ritual itu.

Di dermaga, proses larung sesaji ini juga diikuti sebagian nelayan saja. Mereka menggunakan perahunya masing-masing dan ikut ke tengah laut. Padahal biasanya, pada prosesi ini ada puluhan perahu nelayan yang turut mengantarkan hingga ke tengah laut. Mereka tak hanya mengantarkan, tapi juga bersiap berebut replika perahu ketika panitia melarung sesaji yang ada di dalamnya ke laut lepas.

Jawa Pos Radar Jember turut mengikuti prosesi pelarungan itu. Setelah beberapa menit melewati jalur Plawangan, sejumlah panitia yang berada di kapal nelayan langsung melepaskan replika perahu dan hasil bumi itu ke laut. Meski yang mengiringi hanya sedikit, namun di tengah laut mereka tetap adu cepat merebut. Bahkan, ada nelayan yang nekat melompat ke laut hanya untuk memperoleh replika perahu tersebut.

- Advertisement -

PUGER KULON, RADARJEMBER.ID – Dua tahun terakhir ini acara larung sesaji atau yang lebih dikenal dengan petik laut, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Sebab, ritual syukur yang dilakukan oleh nelayan itu bersamaan dengan pandemi Covid-19. Karena itu, kegiatannya tidak melibatkan banyak orang dan hanya diikuti oleh perwakilan dari pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat.

Di Kecamatan Puger, petik laut dilaksanakan selama dua hari, Senin (23/8) oleh Pemerintah Desa Puger Wetan, dan Selasa (24/8) oleh Pemerintah Desa Puger Kulon. Sebab, selain tradisi, pemisahan waktu berlangsungnya acara larung sesaji di dua desa itu juga untuk mencegah terjadinya kerumunan. Bahkan, tak hanya teknis dan waktu pelaksanaan, acara pelepasan replika perahu dan tempat hasil bumi yang akan dilarung juga berbeda. Tidak seperti sebelum-sebelumnya.

Sebenarnya, warga Puger dan sekitarnya sudah memahami bahwa acara petik laut tahun ini tidak ada kerumunan. Sama seperti tahun sebelumnya. Hanya, ritual tahunan itu tetap saja didatangi masyarakat yang penasaran ingin melihat. Namun, warga dan nelayan yang menyaksikan tradisi itu tetap tertib. Jumlah mereka juga terbatas.

Jika biasanya prosesi petik laut diawali dengan arak-arakan sesaji dan replika perahu dari Pendapa Kecamatan Puger, kali ini berbeda. Replika perahu dan tempat hasil bumi yang akan dilarung itu dinaikkan ke atas pikap dari depan Balai Desa Puger Kulon yang lokasinya berhadapan dengan kantor kecamatan. Tanpa arak-arakan. Kemudian, dibawa menuju dermaga di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger yang berjarak sekitar 400 meter. Selanjutnya, dinaikkan ke perahu untuk dilarung bersama-sama ke tengah laut.

Prosesi itu hanya diikuti oleh beberapa orang. Ada perwakilan nelayan, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa setempat. Kepala Desa Puger Kulon Nur Hasan bersama istri, serta perangkat desa yang menggunakan kendaraan bak terbuka, turut mengiringi ritual itu.

Di dermaga, proses larung sesaji ini juga diikuti sebagian nelayan saja. Mereka menggunakan perahunya masing-masing dan ikut ke tengah laut. Padahal biasanya, pada prosesi ini ada puluhan perahu nelayan yang turut mengantarkan hingga ke tengah laut. Mereka tak hanya mengantarkan, tapi juga bersiap berebut replika perahu ketika panitia melarung sesaji yang ada di dalamnya ke laut lepas.

Jawa Pos Radar Jember turut mengikuti prosesi pelarungan itu. Setelah beberapa menit melewati jalur Plawangan, sejumlah panitia yang berada di kapal nelayan langsung melepaskan replika perahu dan hasil bumi itu ke laut. Meski yang mengiringi hanya sedikit, namun di tengah laut mereka tetap adu cepat merebut. Bahkan, ada nelayan yang nekat melompat ke laut hanya untuk memperoleh replika perahu tersebut.

PUGER KULON, RADARJEMBER.ID – Dua tahun terakhir ini acara larung sesaji atau yang lebih dikenal dengan petik laut, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Sebab, ritual syukur yang dilakukan oleh nelayan itu bersamaan dengan pandemi Covid-19. Karena itu, kegiatannya tidak melibatkan banyak orang dan hanya diikuti oleh perwakilan dari pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat.

Di Kecamatan Puger, petik laut dilaksanakan selama dua hari, Senin (23/8) oleh Pemerintah Desa Puger Wetan, dan Selasa (24/8) oleh Pemerintah Desa Puger Kulon. Sebab, selain tradisi, pemisahan waktu berlangsungnya acara larung sesaji di dua desa itu juga untuk mencegah terjadinya kerumunan. Bahkan, tak hanya teknis dan waktu pelaksanaan, acara pelepasan replika perahu dan tempat hasil bumi yang akan dilarung juga berbeda. Tidak seperti sebelum-sebelumnya.

Sebenarnya, warga Puger dan sekitarnya sudah memahami bahwa acara petik laut tahun ini tidak ada kerumunan. Sama seperti tahun sebelumnya. Hanya, ritual tahunan itu tetap saja didatangi masyarakat yang penasaran ingin melihat. Namun, warga dan nelayan yang menyaksikan tradisi itu tetap tertib. Jumlah mereka juga terbatas.

Jika biasanya prosesi petik laut diawali dengan arak-arakan sesaji dan replika perahu dari Pendapa Kecamatan Puger, kali ini berbeda. Replika perahu dan tempat hasil bumi yang akan dilarung itu dinaikkan ke atas pikap dari depan Balai Desa Puger Kulon yang lokasinya berhadapan dengan kantor kecamatan. Tanpa arak-arakan. Kemudian, dibawa menuju dermaga di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger yang berjarak sekitar 400 meter. Selanjutnya, dinaikkan ke perahu untuk dilarung bersama-sama ke tengah laut.

Prosesi itu hanya diikuti oleh beberapa orang. Ada perwakilan nelayan, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa setempat. Kepala Desa Puger Kulon Nur Hasan bersama istri, serta perangkat desa yang menggunakan kendaraan bak terbuka, turut mengiringi ritual itu.

Di dermaga, proses larung sesaji ini juga diikuti sebagian nelayan saja. Mereka menggunakan perahunya masing-masing dan ikut ke tengah laut. Padahal biasanya, pada prosesi ini ada puluhan perahu nelayan yang turut mengantarkan hingga ke tengah laut. Mereka tak hanya mengantarkan, tapi juga bersiap berebut replika perahu ketika panitia melarung sesaji yang ada di dalamnya ke laut lepas.

Jawa Pos Radar Jember turut mengikuti prosesi pelarungan itu. Setelah beberapa menit melewati jalur Plawangan, sejumlah panitia yang berada di kapal nelayan langsung melepaskan replika perahu dan hasil bumi itu ke laut. Meski yang mengiringi hanya sedikit, namun di tengah laut mereka tetap adu cepat merebut. Bahkan, ada nelayan yang nekat melompat ke laut hanya untuk memperoleh replika perahu tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/