alexametrics
21.6 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Belajar Autodidak, Sempat Minder Hanya Dapat 200 Viewers

Bakat terpendam di bidang public speaking. Itulah Nofri Savira Putri, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Jember, yang menyabet penghargaan bergengsi tingkat nasional. Padahal keikutsertaan itu diawali tak lebih dari sekadar iseng.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sepintas, keseharian penampilan Nofri Savira Putri hampir sama seperti mahasiswa kebanyakan. Kuliah, belajar, mengerjakan tugas, dan sesekali aktif berorganisasi. Namun, gadis berjilbab kelahiran 1999 itu mampu tampil beda. Dia punya bakat lain, meskipun baru terasah beberapa pekan kemarin. Yakni berorasi.

Ceritanya diawali dari grup media sosial miliknya. Saat itu, gadis berhijab ini tak sengaja mendapat info seputar perlombaan pidato Pancasila yang diadakan oleh Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia, 10 Juli lalu.

Awalnya, tak ada rasa ketertarikan untuk Nofri mengikuti lomba itu. Tapi, jiwa muda yang dikenal suka mencoba-coba, kala itu tengah berkobar. Dia pun berubah pikiran dan bersedia ikut. Meskipun niatannya sekadar iseng, untuk mencari viewers di kanal Youtube-nya. Terlebih, dia tak memiliki kegiatan lain di rumah selama pandemi. “Saya nyoba pengen ikut waktu itu. Kebetulan biayanya kan gratis,” ujar Nofri.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selama berlatih, dirinya mengaku tak menemukan kendala serius, karena memang niatan awalnya hanya coba-coba. Baginya yang terpenting adalah mampu menghafal dan menguasai materi, menjiwai, dan tak kalah penting juga, tidak grogi tampil di depan kamera. Itu cukup.

Selama sekitar tiga hari, dia melatih penguasaan materi lomba pidato itu. Meskipun harus berbagi waktu, karena bertepatan dengan UAS, namun mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jember itu tak kesulitan membagi waktu dan bisa adaptif.

Dalam pidatonya, Nofri mengulas tema Pancasila dalam Bermasyarakat. Dirinya mengaku tak muluk-muluk memilih materi. Karena yang utama baginya, materi dikuasai dan pesan tersampaikan dengan baik dan benar, plus akurat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sepintas, keseharian penampilan Nofri Savira Putri hampir sama seperti mahasiswa kebanyakan. Kuliah, belajar, mengerjakan tugas, dan sesekali aktif berorganisasi. Namun, gadis berjilbab kelahiran 1999 itu mampu tampil beda. Dia punya bakat lain, meskipun baru terasah beberapa pekan kemarin. Yakni berorasi.

Ceritanya diawali dari grup media sosial miliknya. Saat itu, gadis berhijab ini tak sengaja mendapat info seputar perlombaan pidato Pancasila yang diadakan oleh Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia, 10 Juli lalu.

Awalnya, tak ada rasa ketertarikan untuk Nofri mengikuti lomba itu. Tapi, jiwa muda yang dikenal suka mencoba-coba, kala itu tengah berkobar. Dia pun berubah pikiran dan bersedia ikut. Meskipun niatannya sekadar iseng, untuk mencari viewers di kanal Youtube-nya. Terlebih, dia tak memiliki kegiatan lain di rumah selama pandemi. “Saya nyoba pengen ikut waktu itu. Kebetulan biayanya kan gratis,” ujar Nofri.

Selama berlatih, dirinya mengaku tak menemukan kendala serius, karena memang niatan awalnya hanya coba-coba. Baginya yang terpenting adalah mampu menghafal dan menguasai materi, menjiwai, dan tak kalah penting juga, tidak grogi tampil di depan kamera. Itu cukup.

Selama sekitar tiga hari, dia melatih penguasaan materi lomba pidato itu. Meskipun harus berbagi waktu, karena bertepatan dengan UAS, namun mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jember itu tak kesulitan membagi waktu dan bisa adaptif.

Dalam pidatonya, Nofri mengulas tema Pancasila dalam Bermasyarakat. Dirinya mengaku tak muluk-muluk memilih materi. Karena yang utama baginya, materi dikuasai dan pesan tersampaikan dengan baik dan benar, plus akurat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sepintas, keseharian penampilan Nofri Savira Putri hampir sama seperti mahasiswa kebanyakan. Kuliah, belajar, mengerjakan tugas, dan sesekali aktif berorganisasi. Namun, gadis berjilbab kelahiran 1999 itu mampu tampil beda. Dia punya bakat lain, meskipun baru terasah beberapa pekan kemarin. Yakni berorasi.

Ceritanya diawali dari grup media sosial miliknya. Saat itu, gadis berhijab ini tak sengaja mendapat info seputar perlombaan pidato Pancasila yang diadakan oleh Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia, 10 Juli lalu.

Awalnya, tak ada rasa ketertarikan untuk Nofri mengikuti lomba itu. Tapi, jiwa muda yang dikenal suka mencoba-coba, kala itu tengah berkobar. Dia pun berubah pikiran dan bersedia ikut. Meskipun niatannya sekadar iseng, untuk mencari viewers di kanal Youtube-nya. Terlebih, dia tak memiliki kegiatan lain di rumah selama pandemi. “Saya nyoba pengen ikut waktu itu. Kebetulan biayanya kan gratis,” ujar Nofri.

Selama berlatih, dirinya mengaku tak menemukan kendala serius, karena memang niatan awalnya hanya coba-coba. Baginya yang terpenting adalah mampu menghafal dan menguasai materi, menjiwai, dan tak kalah penting juga, tidak grogi tampil di depan kamera. Itu cukup.

Selama sekitar tiga hari, dia melatih penguasaan materi lomba pidato itu. Meskipun harus berbagi waktu, karena bertepatan dengan UAS, namun mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jember itu tak kesulitan membagi waktu dan bisa adaptif.

Dalam pidatonya, Nofri mengulas tema Pancasila dalam Bermasyarakat. Dirinya mengaku tak muluk-muluk memilih materi. Karena yang utama baginya, materi dikuasai dan pesan tersampaikan dengan baik dan benar, plus akurat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/