alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Penarikan Sumbangan yang Kian Marak Hingga Berasal Dari Luar Kota

Penarikan amal di simpang tiga, perempatan, dan di pinggir-pinggir jalan bisa dengan mudah ditemukan. Kondisi ini sudah cukup lama terjadi, bahkan anak dan remaja juga ikut turun ke jalan. Sayangnya, aturan mengenai hal itu kurang jelas, sehingga siapa saja bisa melakukannya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemandangan di pusat Kabupaten Jember, di Sumbersari, Kaliwates, dan Patrang, orang bisa dengan mudah menemukan penarikan sumbangan. Mereka mengatasnamakan berbagai lembaga. Keberadaan penarik sumbangan itu pun kian sulit dibedakan, apakah untuk kepentingan lembaga atau justru kepentingannya sendiri. Sebab, ada semacam komisi dari aktivitas itu. Saat dananya disunat oleh orang yang menarik sumbangan, bisa jadi tidak terdeteksi.

BACA JUGA : Perlu Keseriusan Bersama agar Dapat Ditanggulangi

Fenomena ini menjadi hal yang lumrah di lapangan. Bahkan, ada pula penarik sumbangan yang ternyata menjual buku-buku. Nah, orang-orang itu ternyata tidak semuanya datang dari wilayah Kabupaten Jember. Ada pula sebagian orang yang datang dari kabupaten lain.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain di perempatan, ada juga penarikan sumbangan amal yang dilakukan dengan cara keliling. Mereka datang dari satu warung ke warung yang lain. Ada pula yang keliling perumahan dan perkampungan. Hal itu terkadang membuat warga sulit membedakan mana yang menarik sumbangan dan mana orang mengemis.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, penarik sumbangan itu ada yang datang dari Bondowoso. Salah satunya datang dari Yayasan Panti Asuhan Yarhima. Orang-orang itu sudah melakukan aktivitas penarikan sumbangan sejak sebelum pandemi Covid-19, yaitu sekitar tahun 2019. Mereka meminta sumbangan seikhlasnya kepada pengendara di jalanan.

Hal yang cukup mengejutkan, penarik sumbangan yang datang ke Jember lumayan banyak. “Untuk anggota penarikan amal ada sekitar 30 sampai 40 orang,” kata seorang penarik amal yang tidak menyebut namanya. Mereka tersebar di beberapa lampu merah, namun bergantian dalam melakukan penarikan sumbangan.

Bahkan, mereka mengaku kerap ditertibkan oleh Satpol PP karena dianggap mengganggu jalan raya. “Dulu pernah sampai ditahan di kantor satpol PP, namun hanya 3 hari. Lalu, dilepaskan kembali. Padahal kami sudah menunjukkan surat tugas dan legalitas,” jelasnya. Meski dulunya kerap ditertibkan satpol PP, namun mereka tetap menarik sumbangan untuk pembangunan panti asuhan.

Nah, hal yang cukup mencengangkan, anggota yang melakukan penarikan sumbangan berusia antara 15 sampai 40 tahun. Kebanyakan dari mereka masih usia remaja. “Penarikan amal ini ada surat tugasnya dan juga legalitas. Namun, kami tidak membawa itu semua. Jika kami ditangkap oleh satpol PP, kami akan menunjukkan itu semua meskipun ujung-ujungnya tetap ditangkap,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemandangan di pusat Kabupaten Jember, di Sumbersari, Kaliwates, dan Patrang, orang bisa dengan mudah menemukan penarikan sumbangan. Mereka mengatasnamakan berbagai lembaga. Keberadaan penarik sumbangan itu pun kian sulit dibedakan, apakah untuk kepentingan lembaga atau justru kepentingannya sendiri. Sebab, ada semacam komisi dari aktivitas itu. Saat dananya disunat oleh orang yang menarik sumbangan, bisa jadi tidak terdeteksi.

BACA JUGA : Perlu Keseriusan Bersama agar Dapat Ditanggulangi

Fenomena ini menjadi hal yang lumrah di lapangan. Bahkan, ada pula penarik sumbangan yang ternyata menjual buku-buku. Nah, orang-orang itu ternyata tidak semuanya datang dari wilayah Kabupaten Jember. Ada pula sebagian orang yang datang dari kabupaten lain.

Selain di perempatan, ada juga penarikan sumbangan amal yang dilakukan dengan cara keliling. Mereka datang dari satu warung ke warung yang lain. Ada pula yang keliling perumahan dan perkampungan. Hal itu terkadang membuat warga sulit membedakan mana yang menarik sumbangan dan mana orang mengemis.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, penarik sumbangan itu ada yang datang dari Bondowoso. Salah satunya datang dari Yayasan Panti Asuhan Yarhima. Orang-orang itu sudah melakukan aktivitas penarikan sumbangan sejak sebelum pandemi Covid-19, yaitu sekitar tahun 2019. Mereka meminta sumbangan seikhlasnya kepada pengendara di jalanan.

Hal yang cukup mengejutkan, penarik sumbangan yang datang ke Jember lumayan banyak. “Untuk anggota penarikan amal ada sekitar 30 sampai 40 orang,” kata seorang penarik amal yang tidak menyebut namanya. Mereka tersebar di beberapa lampu merah, namun bergantian dalam melakukan penarikan sumbangan.

Bahkan, mereka mengaku kerap ditertibkan oleh Satpol PP karena dianggap mengganggu jalan raya. “Dulu pernah sampai ditahan di kantor satpol PP, namun hanya 3 hari. Lalu, dilepaskan kembali. Padahal kami sudah menunjukkan surat tugas dan legalitas,” jelasnya. Meski dulunya kerap ditertibkan satpol PP, namun mereka tetap menarik sumbangan untuk pembangunan panti asuhan.

Nah, hal yang cukup mencengangkan, anggota yang melakukan penarikan sumbangan berusia antara 15 sampai 40 tahun. Kebanyakan dari mereka masih usia remaja. “Penarikan amal ini ada surat tugasnya dan juga legalitas. Namun, kami tidak membawa itu semua. Jika kami ditangkap oleh satpol PP, kami akan menunjukkan itu semua meskipun ujung-ujungnya tetap ditangkap,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemandangan di pusat Kabupaten Jember, di Sumbersari, Kaliwates, dan Patrang, orang bisa dengan mudah menemukan penarikan sumbangan. Mereka mengatasnamakan berbagai lembaga. Keberadaan penarik sumbangan itu pun kian sulit dibedakan, apakah untuk kepentingan lembaga atau justru kepentingannya sendiri. Sebab, ada semacam komisi dari aktivitas itu. Saat dananya disunat oleh orang yang menarik sumbangan, bisa jadi tidak terdeteksi.

BACA JUGA : Perlu Keseriusan Bersama agar Dapat Ditanggulangi

Fenomena ini menjadi hal yang lumrah di lapangan. Bahkan, ada pula penarik sumbangan yang ternyata menjual buku-buku. Nah, orang-orang itu ternyata tidak semuanya datang dari wilayah Kabupaten Jember. Ada pula sebagian orang yang datang dari kabupaten lain.

Selain di perempatan, ada juga penarikan sumbangan amal yang dilakukan dengan cara keliling. Mereka datang dari satu warung ke warung yang lain. Ada pula yang keliling perumahan dan perkampungan. Hal itu terkadang membuat warga sulit membedakan mana yang menarik sumbangan dan mana orang mengemis.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, penarik sumbangan itu ada yang datang dari Bondowoso. Salah satunya datang dari Yayasan Panti Asuhan Yarhima. Orang-orang itu sudah melakukan aktivitas penarikan sumbangan sejak sebelum pandemi Covid-19, yaitu sekitar tahun 2019. Mereka meminta sumbangan seikhlasnya kepada pengendara di jalanan.

Hal yang cukup mengejutkan, penarik sumbangan yang datang ke Jember lumayan banyak. “Untuk anggota penarikan amal ada sekitar 30 sampai 40 orang,” kata seorang penarik amal yang tidak menyebut namanya. Mereka tersebar di beberapa lampu merah, namun bergantian dalam melakukan penarikan sumbangan.

Bahkan, mereka mengaku kerap ditertibkan oleh Satpol PP karena dianggap mengganggu jalan raya. “Dulu pernah sampai ditahan di kantor satpol PP, namun hanya 3 hari. Lalu, dilepaskan kembali. Padahal kami sudah menunjukkan surat tugas dan legalitas,” jelasnya. Meski dulunya kerap ditertibkan satpol PP, namun mereka tetap menarik sumbangan untuk pembangunan panti asuhan.

Nah, hal yang cukup mencengangkan, anggota yang melakukan penarikan sumbangan berusia antara 15 sampai 40 tahun. Kebanyakan dari mereka masih usia remaja. “Penarikan amal ini ada surat tugasnya dan juga legalitas. Namun, kami tidak membawa itu semua. Jika kami ditangkap oleh satpol PP, kami akan menunjukkan itu semua meskipun ujung-ujungnya tetap ditangkap,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/