alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Jadi Pembuka Kawasan Terisolasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Awalnya, kawasan Tegalboto merupakan daerah terisolasi karena dipisahkan oleh Sungai Bedadung. Oleh sebab itu, untuk membuka kawasan itu butuh pembangunan jembatan. Meski sebenarnya ada akses yang bisa dilalui untuk menyeberangi Sungai Bedadung, yakni di sekitar Gladak Kembar saat ini. Namun, hanya bisa dilewati kendaraan kecil.

Ketua RW 25, Lingkungan Tegalboto Lor, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Abd Rachman menuturkan, dulu daerah yang sekarang dikenal sebagai kawasan kampus itu awalnya merupakan area persawahan. Masih sepi penduduk. Hingga kemudian, pemerintah membangun jembatan, sekitar Juli 1961 silam. Namun, karena saat itu yang mencetuskan pembangunan adalah Bupati Sudjarwo, maka jembatan itu diberi nama Jembatan Jarwo.

Pria kelahiran Maret 1933 ini mengungkapkan, dalam proses pembangunannya sempat terkendala yang mengakibatkan jembatan tidak segera selesai. Mulai dari kendala mengontrol air hingga biaya. Saat kiri dan kanan jembatan kelar dibangun, para pekerja kesulitan membangun fondasi tengah jembatan karena air Sungai Bedadung begitu deras. Padahal, kala itu aliran sungai sudah dibelokkan dan air dikuras menggunakan mesin penyedot air. “Kendala kedua mungkin karena biaya,” ungkap pria kelahiran Kecamatan Kalisat tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Awalnya, kawasan Tegalboto merupakan daerah terisolasi karena dipisahkan oleh Sungai Bedadung. Oleh sebab itu, untuk membuka kawasan itu butuh pembangunan jembatan. Meski sebenarnya ada akses yang bisa dilalui untuk menyeberangi Sungai Bedadung, yakni di sekitar Gladak Kembar saat ini. Namun, hanya bisa dilewati kendaraan kecil.

Ketua RW 25, Lingkungan Tegalboto Lor, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Abd Rachman menuturkan, dulu daerah yang sekarang dikenal sebagai kawasan kampus itu awalnya merupakan area persawahan. Masih sepi penduduk. Hingga kemudian, pemerintah membangun jembatan, sekitar Juli 1961 silam. Namun, karena saat itu yang mencetuskan pembangunan adalah Bupati Sudjarwo, maka jembatan itu diberi nama Jembatan Jarwo.

Pria kelahiran Maret 1933 ini mengungkapkan, dalam proses pembangunannya sempat terkendala yang mengakibatkan jembatan tidak segera selesai. Mulai dari kendala mengontrol air hingga biaya. Saat kiri dan kanan jembatan kelar dibangun, para pekerja kesulitan membangun fondasi tengah jembatan karena air Sungai Bedadung begitu deras. Padahal, kala itu aliran sungai sudah dibelokkan dan air dikuras menggunakan mesin penyedot air. “Kendala kedua mungkin karena biaya,” ungkap pria kelahiran Kecamatan Kalisat tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Awalnya, kawasan Tegalboto merupakan daerah terisolasi karena dipisahkan oleh Sungai Bedadung. Oleh sebab itu, untuk membuka kawasan itu butuh pembangunan jembatan. Meski sebenarnya ada akses yang bisa dilalui untuk menyeberangi Sungai Bedadung, yakni di sekitar Gladak Kembar saat ini. Namun, hanya bisa dilewati kendaraan kecil.

Ketua RW 25, Lingkungan Tegalboto Lor, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Abd Rachman menuturkan, dulu daerah yang sekarang dikenal sebagai kawasan kampus itu awalnya merupakan area persawahan. Masih sepi penduduk. Hingga kemudian, pemerintah membangun jembatan, sekitar Juli 1961 silam. Namun, karena saat itu yang mencetuskan pembangunan adalah Bupati Sudjarwo, maka jembatan itu diberi nama Jembatan Jarwo.

Pria kelahiran Maret 1933 ini mengungkapkan, dalam proses pembangunannya sempat terkendala yang mengakibatkan jembatan tidak segera selesai. Mulai dari kendala mengontrol air hingga biaya. Saat kiri dan kanan jembatan kelar dibangun, para pekerja kesulitan membangun fondasi tengah jembatan karena air Sungai Bedadung begitu deras. Padahal, kala itu aliran sungai sudah dibelokkan dan air dikuras menggunakan mesin penyedot air. “Kendala kedua mungkin karena biaya,” ungkap pria kelahiran Kecamatan Kalisat tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/