alexametrics
28.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Pro Kontra Mahar Cakades

Mobile_AP_Rectangle 1

“Yang memberatkan kami adalah nominal yang tertulis di situ. Selain itu, kami tidak pernah diikutkan dalam musdes maupun antar calon untuk bahas anggaran, tiba-tiba muncul edaran seperti itu,” ungkapnya.

Meskipun kecurigaan mulai muncul dari pengakuannya, namun dia menjelaskan bahwa dirinya masih bersedia membayar pendaftaran. Namun tidak dengan nominal yang disepakati panitia pilkades itu. “Iktikad baik dari saya, kami mau bayar 50 persen saja (dari Rp 65 jutaan, Red), kurang lebihnya Rp 30 juta. Kami tahu itu wajib, dan kami tahu betul apa yang dikhawatirkan, yakni biaya yang dibutuhkan panitia kurang,” ujarnya.

Sementara itu, di kecamatan yang sama yaitu Desa Tutul, keadaannya juga tidak jauh berbeda. Ulum, salah seorang ketua panitia Pilkades Tutul mengatakan bahwa pilkades di desanya sudah berjalan sesuai apa yang dibahas di musdes.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan dari tiga calon kades di Desa Tutul, masing-masing dari mereka dimahar sebesar Rp 65 juta per calon. ”Pelaksanaan musdes itu di dalamnya sudah menjadi kesepakatan dan legalitasnya bersama,” tandasnya. (*)

- Advertisement -

“Yang memberatkan kami adalah nominal yang tertulis di situ. Selain itu, kami tidak pernah diikutkan dalam musdes maupun antar calon untuk bahas anggaran, tiba-tiba muncul edaran seperti itu,” ungkapnya.

Meskipun kecurigaan mulai muncul dari pengakuannya, namun dia menjelaskan bahwa dirinya masih bersedia membayar pendaftaran. Namun tidak dengan nominal yang disepakati panitia pilkades itu. “Iktikad baik dari saya, kami mau bayar 50 persen saja (dari Rp 65 jutaan, Red), kurang lebihnya Rp 30 juta. Kami tahu itu wajib, dan kami tahu betul apa yang dikhawatirkan, yakni biaya yang dibutuhkan panitia kurang,” ujarnya.

Sementara itu, di kecamatan yang sama yaitu Desa Tutul, keadaannya juga tidak jauh berbeda. Ulum, salah seorang ketua panitia Pilkades Tutul mengatakan bahwa pilkades di desanya sudah berjalan sesuai apa yang dibahas di musdes.

Dia menjelaskan dari tiga calon kades di Desa Tutul, masing-masing dari mereka dimahar sebesar Rp 65 juta per calon. ”Pelaksanaan musdes itu di dalamnya sudah menjadi kesepakatan dan legalitasnya bersama,” tandasnya. (*)

“Yang memberatkan kami adalah nominal yang tertulis di situ. Selain itu, kami tidak pernah diikutkan dalam musdes maupun antar calon untuk bahas anggaran, tiba-tiba muncul edaran seperti itu,” ungkapnya.

Meskipun kecurigaan mulai muncul dari pengakuannya, namun dia menjelaskan bahwa dirinya masih bersedia membayar pendaftaran. Namun tidak dengan nominal yang disepakati panitia pilkades itu. “Iktikad baik dari saya, kami mau bayar 50 persen saja (dari Rp 65 jutaan, Red), kurang lebihnya Rp 30 juta. Kami tahu itu wajib, dan kami tahu betul apa yang dikhawatirkan, yakni biaya yang dibutuhkan panitia kurang,” ujarnya.

Sementara itu, di kecamatan yang sama yaitu Desa Tutul, keadaannya juga tidak jauh berbeda. Ulum, salah seorang ketua panitia Pilkades Tutul mengatakan bahwa pilkades di desanya sudah berjalan sesuai apa yang dibahas di musdes.

Dia menjelaskan dari tiga calon kades di Desa Tutul, masing-masing dari mereka dimahar sebesar Rp 65 juta per calon. ”Pelaksanaan musdes itu di dalamnya sudah menjadi kesepakatan dan legalitasnya bersama,” tandasnya. (*)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/