alexametrics
22.4 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Kecoh Hama dengan Tanaman Lain

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fatimah Sandra Dewi adalah petani baru yang terjun dalam dunia pertanian. Meski masih baru, namun dia cukup sukses. Dibandingkan dengan petani pada umumnya, dia mampu menghasilkan panen tanaman dua kali lipat di lahan yang sama.

BACA JUGA : Mendag Sambut Jepang yang Rencana Inisiasi Pengembangan Ekonomi Kawasan

“Saya masih terbilang baru, sekitar 1 tahunan,” jelas Fatimah kepada Jawa Pos Radar Jember, di Dusun Padasan, Desa Darsono, Kecamatan Arjasa. Dia pun menceritakan, dia baru saja memanen 3 ton gambas di lahan miliknya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perempuan ini pada awalnya merasa prihatin dengan kondisi petani yang ada di kampungnya. Sebab, hanya bertani ala kadarnya, sehingga hasil panen yang diperoleh tidak maksimal. “Mereka biasanya hanya menanam, kemudian dipupuk. Dibiarkan tanpa perawatan yang intens sehingga hasilnya tidak maksimal,” ucap perempuan asal Madura tersebut.

Dirinya melihat kondisi lahan di daerahnya yang terbengkalai salah satunya karena modal. “Saya pernah kasih contoh, dengan luas lahan yang sama, saya menghasilkan 2 kali lebih banyak dari petani pada umumnya. Waktu itu saya panen 5 kuintal, sedangkan mereka hanya 2 kuintal,” terangnya.

Menjadi petani hortikultura, hal yang paling penting selain pemupukan adalah proteksinya. Jika kurang baik, maka hasilnya jelek. Pertanian tanaman hortikultura senjata utamanya ada pada pestisidanya. “Karena tiap-tiap tanaman itu beda-beda. Misal gambas biasanya di cacar daun, lalat buah. Jadi, kalau petani hanya mengandalkan pemupukan, tidak akan maksimal,” jelasnya.

Kemudian, untuk mengecoh serangga agar tidak merusak bunga dari tanaman hortikultura, dirinya mencegahnya dengan cara menanam bunga di sekeliling tanamannya. “Tujuannya menarik serangga atau hama itu ke bunga tersebut. Makannya, bunganya itu warnanya lebih mencolok,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fatimah Sandra Dewi adalah petani baru yang terjun dalam dunia pertanian. Meski masih baru, namun dia cukup sukses. Dibandingkan dengan petani pada umumnya, dia mampu menghasilkan panen tanaman dua kali lipat di lahan yang sama.

BACA JUGA : Mendag Sambut Jepang yang Rencana Inisiasi Pengembangan Ekonomi Kawasan

“Saya masih terbilang baru, sekitar 1 tahunan,” jelas Fatimah kepada Jawa Pos Radar Jember, di Dusun Padasan, Desa Darsono, Kecamatan Arjasa. Dia pun menceritakan, dia baru saja memanen 3 ton gambas di lahan miliknya.

Perempuan ini pada awalnya merasa prihatin dengan kondisi petani yang ada di kampungnya. Sebab, hanya bertani ala kadarnya, sehingga hasil panen yang diperoleh tidak maksimal. “Mereka biasanya hanya menanam, kemudian dipupuk. Dibiarkan tanpa perawatan yang intens sehingga hasilnya tidak maksimal,” ucap perempuan asal Madura tersebut.

Dirinya melihat kondisi lahan di daerahnya yang terbengkalai salah satunya karena modal. “Saya pernah kasih contoh, dengan luas lahan yang sama, saya menghasilkan 2 kali lebih banyak dari petani pada umumnya. Waktu itu saya panen 5 kuintal, sedangkan mereka hanya 2 kuintal,” terangnya.

Menjadi petani hortikultura, hal yang paling penting selain pemupukan adalah proteksinya. Jika kurang baik, maka hasilnya jelek. Pertanian tanaman hortikultura senjata utamanya ada pada pestisidanya. “Karena tiap-tiap tanaman itu beda-beda. Misal gambas biasanya di cacar daun, lalat buah. Jadi, kalau petani hanya mengandalkan pemupukan, tidak akan maksimal,” jelasnya.

Kemudian, untuk mengecoh serangga agar tidak merusak bunga dari tanaman hortikultura, dirinya mencegahnya dengan cara menanam bunga di sekeliling tanamannya. “Tujuannya menarik serangga atau hama itu ke bunga tersebut. Makannya, bunganya itu warnanya lebih mencolok,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fatimah Sandra Dewi adalah petani baru yang terjun dalam dunia pertanian. Meski masih baru, namun dia cukup sukses. Dibandingkan dengan petani pada umumnya, dia mampu menghasilkan panen tanaman dua kali lipat di lahan yang sama.

BACA JUGA : Mendag Sambut Jepang yang Rencana Inisiasi Pengembangan Ekonomi Kawasan

“Saya masih terbilang baru, sekitar 1 tahunan,” jelas Fatimah kepada Jawa Pos Radar Jember, di Dusun Padasan, Desa Darsono, Kecamatan Arjasa. Dia pun menceritakan, dia baru saja memanen 3 ton gambas di lahan miliknya.

Perempuan ini pada awalnya merasa prihatin dengan kondisi petani yang ada di kampungnya. Sebab, hanya bertani ala kadarnya, sehingga hasil panen yang diperoleh tidak maksimal. “Mereka biasanya hanya menanam, kemudian dipupuk. Dibiarkan tanpa perawatan yang intens sehingga hasilnya tidak maksimal,” ucap perempuan asal Madura tersebut.

Dirinya melihat kondisi lahan di daerahnya yang terbengkalai salah satunya karena modal. “Saya pernah kasih contoh, dengan luas lahan yang sama, saya menghasilkan 2 kali lebih banyak dari petani pada umumnya. Waktu itu saya panen 5 kuintal, sedangkan mereka hanya 2 kuintal,” terangnya.

Menjadi petani hortikultura, hal yang paling penting selain pemupukan adalah proteksinya. Jika kurang baik, maka hasilnya jelek. Pertanian tanaman hortikultura senjata utamanya ada pada pestisidanya. “Karena tiap-tiap tanaman itu beda-beda. Misal gambas biasanya di cacar daun, lalat buah. Jadi, kalau petani hanya mengandalkan pemupukan, tidak akan maksimal,” jelasnya.

Kemudian, untuk mengecoh serangga agar tidak merusak bunga dari tanaman hortikultura, dirinya mencegahnya dengan cara menanam bunga di sekeliling tanamannya. “Tujuannya menarik serangga atau hama itu ke bunga tersebut. Makannya, bunganya itu warnanya lebih mencolok,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Makna di Balik Selebrasi Jersey

Penanganan PMK Boleh Gunakan BTT

Batal Digelar Ada Aroma Seks 

/