alexametrics
28.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Kasus Kekerasan Seksual di Kampus Butuh Perhatian Khusus

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Berdasarkan hasil survei, kampus menjadi tempat ketiga paling rawan menjadi lokasi kekerasan seksual. Survei Kemendikbud Ristek pada 2019 itu mengungkapkan, sebanyak 15 persen tindak kekerasan seksual terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Peringkat atasnya adalah jalanan 33 persen dan transportasi umum 19 persen.

Hasil survei yang dilakukan secara nasional ini terkonfirmasi di tingkat daerah. Di Jember, misalnya, sepanjang 2021 lalu, ada dua kasus kekerasan seksual melibatkan warga kampus yang mencuat ke publik. Pertama, dosen terhadap kemenakan dan berikutnya rektor terhadap seorang dosen. Dua perkara ini cukup menyita perhatian publik kala itu.

“Kampus seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak, perempuan, dan kelompok marginal lainnya,” kata Sri Sulistiyani, Direktur Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember. Hal itu ia sampaikan seusai menandatangani nota kesepahaman penanganan kekerasan berbasis gender dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember, di Kampus Unipar Jalan Jawa 10, Sumbersari, Rabu (25/5).

Mobile_AP_Rectangle 2

Sulis pun menceritakan pengalamannya mendampingi anak dan perempuan korban kekerasan. Menurutnya, dampak kekerasan terhadap anak dan perempuan sangat merusak. Beberapa kali dia mengajak korban kekerasan tinggal di rumahnya untuk memulihkan kembali semangat mereka. Tapi semuanya gagal dan terpuruk lagi. “Trauma itu dialami sepanjang hidupnya,” ujar dia.

BACA JUGA: Kasus Kekerasan Perempuan di Jember Didominasi KDRT

Menurut Sulis, kekerasan berbasis gender biasanya terjadi karena ada ketimpangan kekuasaan. Siapa saja yang hubungannya tidak setara berpotensi mengalami tindak kekerasan. Pada kasus di kampus, hal itu bisa terjadi kepada pejabat kampus terhadap bawahannya. Dosen kepada mahasiswanya. Atau mahasiswa terhadap mahasiswa yang lain. “Apalagi jika jabatannya timpang. Potensinya makin besar,” tuturnya.

Selain pola relasi, tempat juga berpengaruh. Misalnya lokasi yang sepi, gelap, atau cenderung tertutup. Pada beberapa kasus yang pernah lembaganya dampingi, dosen pelaku melakukan pelecehan di laboratorium bahasa dan laboratorium IT. Modusnya, korban yang diincar lembar tugasnya dikoreksi belakangan. Menunggu ketika suasana sepi.

“Makanya, sesama mahasiswa harus ada solidaritas. Jangan biarkan temanmu sendirian bersama orang lain. Temani mereka hingga situasinya aman,” pesannya kepada mahasiswa Duta Antikekerasan Unipar Jember yang saat itu hadir dalam forum.

Meski demikian, Sulis mengingatkan, modus yang digunakan pelaku cukup beragam. Terkadang tak memandang tempat. Sebab, ada kasus yang ia tangani, lokasi pelecehan berada di rumah sang dosen. Padahal saat itu, korban datang untuk bimbingan skripsi diantar oleh sang pacar. “Saat istrinya masuk kamar untuk menidurkan anak, pacar korban diminta keluar membeli sesuatu. Di saat itulah kekerasan terjadi,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Berdasarkan hasil survei, kampus menjadi tempat ketiga paling rawan menjadi lokasi kekerasan seksual. Survei Kemendikbud Ristek pada 2019 itu mengungkapkan, sebanyak 15 persen tindak kekerasan seksual terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Peringkat atasnya adalah jalanan 33 persen dan transportasi umum 19 persen.

Hasil survei yang dilakukan secara nasional ini terkonfirmasi di tingkat daerah. Di Jember, misalnya, sepanjang 2021 lalu, ada dua kasus kekerasan seksual melibatkan warga kampus yang mencuat ke publik. Pertama, dosen terhadap kemenakan dan berikutnya rektor terhadap seorang dosen. Dua perkara ini cukup menyita perhatian publik kala itu.

“Kampus seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak, perempuan, dan kelompok marginal lainnya,” kata Sri Sulistiyani, Direktur Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember. Hal itu ia sampaikan seusai menandatangani nota kesepahaman penanganan kekerasan berbasis gender dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember, di Kampus Unipar Jalan Jawa 10, Sumbersari, Rabu (25/5).

Sulis pun menceritakan pengalamannya mendampingi anak dan perempuan korban kekerasan. Menurutnya, dampak kekerasan terhadap anak dan perempuan sangat merusak. Beberapa kali dia mengajak korban kekerasan tinggal di rumahnya untuk memulihkan kembali semangat mereka. Tapi semuanya gagal dan terpuruk lagi. “Trauma itu dialami sepanjang hidupnya,” ujar dia.

BACA JUGA: Kasus Kekerasan Perempuan di Jember Didominasi KDRT

Menurut Sulis, kekerasan berbasis gender biasanya terjadi karena ada ketimpangan kekuasaan. Siapa saja yang hubungannya tidak setara berpotensi mengalami tindak kekerasan. Pada kasus di kampus, hal itu bisa terjadi kepada pejabat kampus terhadap bawahannya. Dosen kepada mahasiswanya. Atau mahasiswa terhadap mahasiswa yang lain. “Apalagi jika jabatannya timpang. Potensinya makin besar,” tuturnya.

Selain pola relasi, tempat juga berpengaruh. Misalnya lokasi yang sepi, gelap, atau cenderung tertutup. Pada beberapa kasus yang pernah lembaganya dampingi, dosen pelaku melakukan pelecehan di laboratorium bahasa dan laboratorium IT. Modusnya, korban yang diincar lembar tugasnya dikoreksi belakangan. Menunggu ketika suasana sepi.

“Makanya, sesama mahasiswa harus ada solidaritas. Jangan biarkan temanmu sendirian bersama orang lain. Temani mereka hingga situasinya aman,” pesannya kepada mahasiswa Duta Antikekerasan Unipar Jember yang saat itu hadir dalam forum.

Meski demikian, Sulis mengingatkan, modus yang digunakan pelaku cukup beragam. Terkadang tak memandang tempat. Sebab, ada kasus yang ia tangani, lokasi pelecehan berada di rumah sang dosen. Padahal saat itu, korban datang untuk bimbingan skripsi diantar oleh sang pacar. “Saat istrinya masuk kamar untuk menidurkan anak, pacar korban diminta keluar membeli sesuatu. Di saat itulah kekerasan terjadi,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Berdasarkan hasil survei, kampus menjadi tempat ketiga paling rawan menjadi lokasi kekerasan seksual. Survei Kemendikbud Ristek pada 2019 itu mengungkapkan, sebanyak 15 persen tindak kekerasan seksual terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Peringkat atasnya adalah jalanan 33 persen dan transportasi umum 19 persen.

Hasil survei yang dilakukan secara nasional ini terkonfirmasi di tingkat daerah. Di Jember, misalnya, sepanjang 2021 lalu, ada dua kasus kekerasan seksual melibatkan warga kampus yang mencuat ke publik. Pertama, dosen terhadap kemenakan dan berikutnya rektor terhadap seorang dosen. Dua perkara ini cukup menyita perhatian publik kala itu.

“Kampus seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak, perempuan, dan kelompok marginal lainnya,” kata Sri Sulistiyani, Direktur Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember. Hal itu ia sampaikan seusai menandatangani nota kesepahaman penanganan kekerasan berbasis gender dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember, di Kampus Unipar Jalan Jawa 10, Sumbersari, Rabu (25/5).

Sulis pun menceritakan pengalamannya mendampingi anak dan perempuan korban kekerasan. Menurutnya, dampak kekerasan terhadap anak dan perempuan sangat merusak. Beberapa kali dia mengajak korban kekerasan tinggal di rumahnya untuk memulihkan kembali semangat mereka. Tapi semuanya gagal dan terpuruk lagi. “Trauma itu dialami sepanjang hidupnya,” ujar dia.

BACA JUGA: Kasus Kekerasan Perempuan di Jember Didominasi KDRT

Menurut Sulis, kekerasan berbasis gender biasanya terjadi karena ada ketimpangan kekuasaan. Siapa saja yang hubungannya tidak setara berpotensi mengalami tindak kekerasan. Pada kasus di kampus, hal itu bisa terjadi kepada pejabat kampus terhadap bawahannya. Dosen kepada mahasiswanya. Atau mahasiswa terhadap mahasiswa yang lain. “Apalagi jika jabatannya timpang. Potensinya makin besar,” tuturnya.

Selain pola relasi, tempat juga berpengaruh. Misalnya lokasi yang sepi, gelap, atau cenderung tertutup. Pada beberapa kasus yang pernah lembaganya dampingi, dosen pelaku melakukan pelecehan di laboratorium bahasa dan laboratorium IT. Modusnya, korban yang diincar lembar tugasnya dikoreksi belakangan. Menunggu ketika suasana sepi.

“Makanya, sesama mahasiswa harus ada solidaritas. Jangan biarkan temanmu sendirian bersama orang lain. Temani mereka hingga situasinya aman,” pesannya kepada mahasiswa Duta Antikekerasan Unipar Jember yang saat itu hadir dalam forum.

Meski demikian, Sulis mengingatkan, modus yang digunakan pelaku cukup beragam. Terkadang tak memandang tempat. Sebab, ada kasus yang ia tangani, lokasi pelecehan berada di rumah sang dosen. Padahal saat itu, korban datang untuk bimbingan skripsi diantar oleh sang pacar. “Saat istrinya masuk kamar untuk menidurkan anak, pacar korban diminta keluar membeli sesuatu. Di saat itulah kekerasan terjadi,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/