alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ajarkan Mendalang via Daring

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wabah Covid-19 tak menghalangi Ki Eddy Siswanto menularkan kepandaiannya kepada anak didik. Sebagai pelestari kesenian tradisional, mewariskan ilmu pedalangan sudah menjadi komitmennya. Kini, di tengah pandemi, dalang berjuluk Sabet Alap-Alap tersebut mengajarkannya lewat daring.

Saat Jawa Pos Radar Jember berkunjung ke kediaman Ki Eddy Siswanto, pemilik Sanggar Sasono Budoyo di Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, rumahnya terlihat sepi. Kondisi ini sudah berjalan sebulan terakhir akibat wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Bahkan, sebuah ruangan di halaman belakang rumah bernuansa Jawa itu kini tidak lagi terlihat murid yang belajar. Selama ini lokasi tersebut difungsikan sebagai tempat belajar mendalang.

Biasanya sejumlah anak berusia belasan tahun yang berstatus pelajar, berkumpul di sanggar itu. Tapi, sejak wabah korona, mereka sementara waktu diliburkan dan diminta belajar dari rumah masing-masing. “Sebagai seorang seniman dalang, saya harus mengikuti imbauan pemerintah untuk diam di rumah atau stay at home. Tapi, bukan berarti aktivitas belajar mengajar seni pedalangan ikut terhenti,” kata Eddy, baru-baru ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Nama Eddy sebagai dalang cukup populer, terutama di kawasan Jember selatan. Ketenaran ini lantas memunculkan ketertarikan puluhan anak baru gede (ABG) untuk berguru kepadanya. Bahkan, mereka tidak saja datang dari Kabupaten Jember, ada pula yang dari kabupaten lain, seperti Banyuwangi dan Lumajang.

“Belajar mendalang tetap jalan terus dan itu dilakukan setiap hari secara bergantian. Karena Covid-19, materi pelajaran disampaikan lewat online tak ubahnya sekolah formal saat ini,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wabah Covid-19 tak menghalangi Ki Eddy Siswanto menularkan kepandaiannya kepada anak didik. Sebagai pelestari kesenian tradisional, mewariskan ilmu pedalangan sudah menjadi komitmennya. Kini, di tengah pandemi, dalang berjuluk Sabet Alap-Alap tersebut mengajarkannya lewat daring.

Saat Jawa Pos Radar Jember berkunjung ke kediaman Ki Eddy Siswanto, pemilik Sanggar Sasono Budoyo di Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, rumahnya terlihat sepi. Kondisi ini sudah berjalan sebulan terakhir akibat wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Bahkan, sebuah ruangan di halaman belakang rumah bernuansa Jawa itu kini tidak lagi terlihat murid yang belajar. Selama ini lokasi tersebut difungsikan sebagai tempat belajar mendalang.

Biasanya sejumlah anak berusia belasan tahun yang berstatus pelajar, berkumpul di sanggar itu. Tapi, sejak wabah korona, mereka sementara waktu diliburkan dan diminta belajar dari rumah masing-masing. “Sebagai seorang seniman dalang, saya harus mengikuti imbauan pemerintah untuk diam di rumah atau stay at home. Tapi, bukan berarti aktivitas belajar mengajar seni pedalangan ikut terhenti,” kata Eddy, baru-baru ini.

Nama Eddy sebagai dalang cukup populer, terutama di kawasan Jember selatan. Ketenaran ini lantas memunculkan ketertarikan puluhan anak baru gede (ABG) untuk berguru kepadanya. Bahkan, mereka tidak saja datang dari Kabupaten Jember, ada pula yang dari kabupaten lain, seperti Banyuwangi dan Lumajang.

“Belajar mendalang tetap jalan terus dan itu dilakukan setiap hari secara bergantian. Karena Covid-19, materi pelajaran disampaikan lewat online tak ubahnya sekolah formal saat ini,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wabah Covid-19 tak menghalangi Ki Eddy Siswanto menularkan kepandaiannya kepada anak didik. Sebagai pelestari kesenian tradisional, mewariskan ilmu pedalangan sudah menjadi komitmennya. Kini, di tengah pandemi, dalang berjuluk Sabet Alap-Alap tersebut mengajarkannya lewat daring.

Saat Jawa Pos Radar Jember berkunjung ke kediaman Ki Eddy Siswanto, pemilik Sanggar Sasono Budoyo di Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, rumahnya terlihat sepi. Kondisi ini sudah berjalan sebulan terakhir akibat wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Bahkan, sebuah ruangan di halaman belakang rumah bernuansa Jawa itu kini tidak lagi terlihat murid yang belajar. Selama ini lokasi tersebut difungsikan sebagai tempat belajar mendalang.

Biasanya sejumlah anak berusia belasan tahun yang berstatus pelajar, berkumpul di sanggar itu. Tapi, sejak wabah korona, mereka sementara waktu diliburkan dan diminta belajar dari rumah masing-masing. “Sebagai seorang seniman dalang, saya harus mengikuti imbauan pemerintah untuk diam di rumah atau stay at home. Tapi, bukan berarti aktivitas belajar mengajar seni pedalangan ikut terhenti,” kata Eddy, baru-baru ini.

Nama Eddy sebagai dalang cukup populer, terutama di kawasan Jember selatan. Ketenaran ini lantas memunculkan ketertarikan puluhan anak baru gede (ABG) untuk berguru kepadanya. Bahkan, mereka tidak saja datang dari Kabupaten Jember, ada pula yang dari kabupaten lain, seperti Banyuwangi dan Lumajang.

“Belajar mendalang tetap jalan terus dan itu dilakukan setiap hari secara bergantian. Karena Covid-19, materi pelajaran disampaikan lewat online tak ubahnya sekolah formal saat ini,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/