alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Jember Belum Layak Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember perlu bekerja ekstra keras agar menyandang predikat kabupaten layak anak (KLA). Karena sejauh ini, keberadaan Forum Anak Jember (FAJ) yang menjadi salah satu indikator layak tidaknya KLA, masih jauh dari target. Dari 248 desa/kelurahan yang ada, baru 32 desa yang telah menggagas Gugus Tugas Desa Layak Anak. Jumlah ini masih jauh dari angka ideal yang seharusnya mencapai 50 persen dari total jumlah desa/kelurahan di kabupaten setempat.

Ketua Umum FAJ Nugraha Bayu Syah Putra mengatakan, pada tahun sebelumnya, capaian satgas desa layak anak hanya mencapai 20 lokasi, sehingga selama 3 bulan terakhir ini FAJ telah membentuk 12 satgas tingkat desa. Kendati demikian, FAJ optimistis pembentukan satgas desa layak anak dapat mencapai 50 persen dari total keseluruhan desa/kelurahan yang ada di Jember.

Menurut Bayu, program Satgas Desa Layak Anak ini dapat disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 serta aspirasi masyarakat yang ada di gugus tugas, serta forum anak di desa setempat. Kata dia, sifatnya fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat. “Jika di UU ada hak pendidikan, maka di desa tersebut apa yang bisa diprogramkan untuk pemenuhan hak itu. Jadi, lebih mengarah kepada program yang berbasis pemenuhan hak anak,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bayu menambahkan, selain pembentukan gugus tugas dan forum anak, masih ada beberapa hal yang perlu dicanangkan untuk menuju KLA. Misalnya, sekolah ramah anak (SRA). Sebab, kata dia, beberapa sekolah di perdesaan masih ada yang layak dan tidak layak untuk anak. “Maksudnya tidak layak di sini adalah sekolah itu bisa membuat siswa nyaman atau tidak? Nah, itu akan menjadi faktor penilaian. Jadi, harus didorong bagaimana sekolah bisa menjadi SRA,” ucapnya.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah infrastruktur yang layak anak. Di era yang semakin maju ini, infrastruktur harus lebih berkembang lagi dan dapat diakses oleh anak. Mereka harus bisa bermain sepuasnya dan merasa aman serta nyaman ketika menggunakan infrastruktur itu. “Jadi, masih banyak indikator yang perlu dipenuhi agar menjadi KLA,” pungkas Bayu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember perlu bekerja ekstra keras agar menyandang predikat kabupaten layak anak (KLA). Karena sejauh ini, keberadaan Forum Anak Jember (FAJ) yang menjadi salah satu indikator layak tidaknya KLA, masih jauh dari target. Dari 248 desa/kelurahan yang ada, baru 32 desa yang telah menggagas Gugus Tugas Desa Layak Anak. Jumlah ini masih jauh dari angka ideal yang seharusnya mencapai 50 persen dari total jumlah desa/kelurahan di kabupaten setempat.

Ketua Umum FAJ Nugraha Bayu Syah Putra mengatakan, pada tahun sebelumnya, capaian satgas desa layak anak hanya mencapai 20 lokasi, sehingga selama 3 bulan terakhir ini FAJ telah membentuk 12 satgas tingkat desa. Kendati demikian, FAJ optimistis pembentukan satgas desa layak anak dapat mencapai 50 persen dari total keseluruhan desa/kelurahan yang ada di Jember.

Menurut Bayu, program Satgas Desa Layak Anak ini dapat disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 serta aspirasi masyarakat yang ada di gugus tugas, serta forum anak di desa setempat. Kata dia, sifatnya fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat. “Jika di UU ada hak pendidikan, maka di desa tersebut apa yang bisa diprogramkan untuk pemenuhan hak itu. Jadi, lebih mengarah kepada program yang berbasis pemenuhan hak anak,” ujarnya.

Bayu menambahkan, selain pembentukan gugus tugas dan forum anak, masih ada beberapa hal yang perlu dicanangkan untuk menuju KLA. Misalnya, sekolah ramah anak (SRA). Sebab, kata dia, beberapa sekolah di perdesaan masih ada yang layak dan tidak layak untuk anak. “Maksudnya tidak layak di sini adalah sekolah itu bisa membuat siswa nyaman atau tidak? Nah, itu akan menjadi faktor penilaian. Jadi, harus didorong bagaimana sekolah bisa menjadi SRA,” ucapnya.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah infrastruktur yang layak anak. Di era yang semakin maju ini, infrastruktur harus lebih berkembang lagi dan dapat diakses oleh anak. Mereka harus bisa bermain sepuasnya dan merasa aman serta nyaman ketika menggunakan infrastruktur itu. “Jadi, masih banyak indikator yang perlu dipenuhi agar menjadi KLA,” pungkas Bayu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember perlu bekerja ekstra keras agar menyandang predikat kabupaten layak anak (KLA). Karena sejauh ini, keberadaan Forum Anak Jember (FAJ) yang menjadi salah satu indikator layak tidaknya KLA, masih jauh dari target. Dari 248 desa/kelurahan yang ada, baru 32 desa yang telah menggagas Gugus Tugas Desa Layak Anak. Jumlah ini masih jauh dari angka ideal yang seharusnya mencapai 50 persen dari total jumlah desa/kelurahan di kabupaten setempat.

Ketua Umum FAJ Nugraha Bayu Syah Putra mengatakan, pada tahun sebelumnya, capaian satgas desa layak anak hanya mencapai 20 lokasi, sehingga selama 3 bulan terakhir ini FAJ telah membentuk 12 satgas tingkat desa. Kendati demikian, FAJ optimistis pembentukan satgas desa layak anak dapat mencapai 50 persen dari total keseluruhan desa/kelurahan yang ada di Jember.

Menurut Bayu, program Satgas Desa Layak Anak ini dapat disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 serta aspirasi masyarakat yang ada di gugus tugas, serta forum anak di desa setempat. Kata dia, sifatnya fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat. “Jika di UU ada hak pendidikan, maka di desa tersebut apa yang bisa diprogramkan untuk pemenuhan hak itu. Jadi, lebih mengarah kepada program yang berbasis pemenuhan hak anak,” ujarnya.

Bayu menambahkan, selain pembentukan gugus tugas dan forum anak, masih ada beberapa hal yang perlu dicanangkan untuk menuju KLA. Misalnya, sekolah ramah anak (SRA). Sebab, kata dia, beberapa sekolah di perdesaan masih ada yang layak dan tidak layak untuk anak. “Maksudnya tidak layak di sini adalah sekolah itu bisa membuat siswa nyaman atau tidak? Nah, itu akan menjadi faktor penilaian. Jadi, harus didorong bagaimana sekolah bisa menjadi SRA,” ucapnya.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah infrastruktur yang layak anak. Di era yang semakin maju ini, infrastruktur harus lebih berkembang lagi dan dapat diakses oleh anak. Mereka harus bisa bermain sepuasnya dan merasa aman serta nyaman ketika menggunakan infrastruktur itu. “Jadi, masih banyak indikator yang perlu dipenuhi agar menjadi KLA,” pungkas Bayu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/