alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Picu Kekerasan hingga Perceraian

Menyibak Jerat Berduri Perkawinan Dini Bayang-bayang pernikahan muda masih mengancam masa depan anak. Data yang terangkum di Kemenag Jember, angka pengajuan dispensasi nikah pada 2020 mencapai 1.442 kasus. Jumlah ini lebih tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Pemerintah harus menjadikan masalah tersebut sebagai prioritas. Sebab, pernikahan dini memiliki efek negatif yang beruntun.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – USIA 15 tahun merupakan umur ketika anak sedang berkembang dan menikmati masa remaja awal untuk mengeksplorasi banyak hal. Namun, hal tersebut tidak dirasakan Saida. Khatam Madrasah Tsanawiyah, ia harus menikah dengan laki-laki berusia 18 tahun. Pernikahannya pun mendadak. Saida menerima pinangan laki-laki yang tak ia kenal sebelumnya.

Perempuan yang tinggal di Desa Bagon, Kecamatan Puger, ini terpaksa kawin karena alasan ekonomi. Ibunya sudah kalang kabut membiayai sekolahnya. Bapak Saida minggat semasa ia balita. Karenanya, tulang punggung keluarga adalah ibunya. “Ndi ngopeni mbahku (belum lagi menghidupi nenek saya, Red),” ungkap perempuan kelahiran 1997 itu.

Dengan berat hati, Saida harus menutup cita-citanya untuk melanjutkan sekolah di SMA negeri, lalu berlanjut ke jenjang kuliah. Apalagi, dia merupakan salah satu siswa berprestasi ketika sekolah di salah satu MTs di Kecamatan Balung. Dulu, Saida langganan masuk peringkat tiga besar di kelasnya. “Pinginnya sekolah, kuliah, lalu kerja di bank,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saida mengaku, di awal pernikahannya, ia dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kegiatan baru. Ia tidak bisa leluasa bermain dengan teman sebayanya. Ke mana-mana harus bersama suaminya. Terlebih, suami yang dijodohkan dengannya ini banyak memberi batasan Saida bergaul. “Suami tidak begitu suka aku banyak berkomunikasi sama teman-teman. Aku saja keluar dari grup alumni MI dan MTs,” kata ibu satu anak ini.

Sejalan dengan Saida, Wanda (nama samaran) juga dikawinkan di usia anak. Tepatnya ketika berusia 12 tahun. Alasannya bukan karena ekonomi. Tapi, karena adat Madura yang masih kental dianut oleh keluarganya. Perempuan yang berasal dari Desa Sumber Bulus, Kecamatan Ledokombo, ini sudah dijodohkan saat masih kanak-kanak oleh kedua orang tuanya.

Saat itu, Wanda tak bisa menolak. Sebab, sudah lumrah di keluarganya untuk menikah di usia belia. Namun, dalam hati Wanda, ia ingin melanjutkan sekolah dan bingung dengan pernikahan yang dijalaninya itu. Wanda pun menikah dengan laki-laki yang berusia 20 tahun.

Selama pernikahannya, Wanda dan suami hidup terpisah dengan orang tua. Suaminya, yang bekerja sebagai petani tembakau itu, mampu mencukupi kebutuhan Wanda sehari-hari. Namun, lambat laun dia banyak menerima perlakuan kasar dari suaminya. Suaminya kerap berkata-kata kasar kepadanya. Jika hasrat nafsunya tak terpenuhi, Wanda kerap mendapat pukulan.

“Kalau lagi menstruasi kadang saya menolak. Apalagi di awal-awal saya tidak tahu berhubungan seks itu bagaimana. Kalau sudah marah, saya dikaplok,” kata perempuan yang kini telah berusia 34 tahun tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – USIA 15 tahun merupakan umur ketika anak sedang berkembang dan menikmati masa remaja awal untuk mengeksplorasi banyak hal. Namun, hal tersebut tidak dirasakan Saida. Khatam Madrasah Tsanawiyah, ia harus menikah dengan laki-laki berusia 18 tahun. Pernikahannya pun mendadak. Saida menerima pinangan laki-laki yang tak ia kenal sebelumnya.

Perempuan yang tinggal di Desa Bagon, Kecamatan Puger, ini terpaksa kawin karena alasan ekonomi. Ibunya sudah kalang kabut membiayai sekolahnya. Bapak Saida minggat semasa ia balita. Karenanya, tulang punggung keluarga adalah ibunya. “Ndi ngopeni mbahku (belum lagi menghidupi nenek saya, Red),” ungkap perempuan kelahiran 1997 itu.

Dengan berat hati, Saida harus menutup cita-citanya untuk melanjutkan sekolah di SMA negeri, lalu berlanjut ke jenjang kuliah. Apalagi, dia merupakan salah satu siswa berprestasi ketika sekolah di salah satu MTs di Kecamatan Balung. Dulu, Saida langganan masuk peringkat tiga besar di kelasnya. “Pinginnya sekolah, kuliah, lalu kerja di bank,” ungkapnya.

Saida mengaku, di awal pernikahannya, ia dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kegiatan baru. Ia tidak bisa leluasa bermain dengan teman sebayanya. Ke mana-mana harus bersama suaminya. Terlebih, suami yang dijodohkan dengannya ini banyak memberi batasan Saida bergaul. “Suami tidak begitu suka aku banyak berkomunikasi sama teman-teman. Aku saja keluar dari grup alumni MI dan MTs,” kata ibu satu anak ini.

Sejalan dengan Saida, Wanda (nama samaran) juga dikawinkan di usia anak. Tepatnya ketika berusia 12 tahun. Alasannya bukan karena ekonomi. Tapi, karena adat Madura yang masih kental dianut oleh keluarganya. Perempuan yang berasal dari Desa Sumber Bulus, Kecamatan Ledokombo, ini sudah dijodohkan saat masih kanak-kanak oleh kedua orang tuanya.

Saat itu, Wanda tak bisa menolak. Sebab, sudah lumrah di keluarganya untuk menikah di usia belia. Namun, dalam hati Wanda, ia ingin melanjutkan sekolah dan bingung dengan pernikahan yang dijalaninya itu. Wanda pun menikah dengan laki-laki yang berusia 20 tahun.

Selama pernikahannya, Wanda dan suami hidup terpisah dengan orang tua. Suaminya, yang bekerja sebagai petani tembakau itu, mampu mencukupi kebutuhan Wanda sehari-hari. Namun, lambat laun dia banyak menerima perlakuan kasar dari suaminya. Suaminya kerap berkata-kata kasar kepadanya. Jika hasrat nafsunya tak terpenuhi, Wanda kerap mendapat pukulan.

“Kalau lagi menstruasi kadang saya menolak. Apalagi di awal-awal saya tidak tahu berhubungan seks itu bagaimana. Kalau sudah marah, saya dikaplok,” kata perempuan yang kini telah berusia 34 tahun tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – USIA 15 tahun merupakan umur ketika anak sedang berkembang dan menikmati masa remaja awal untuk mengeksplorasi banyak hal. Namun, hal tersebut tidak dirasakan Saida. Khatam Madrasah Tsanawiyah, ia harus menikah dengan laki-laki berusia 18 tahun. Pernikahannya pun mendadak. Saida menerima pinangan laki-laki yang tak ia kenal sebelumnya.

Perempuan yang tinggal di Desa Bagon, Kecamatan Puger, ini terpaksa kawin karena alasan ekonomi. Ibunya sudah kalang kabut membiayai sekolahnya. Bapak Saida minggat semasa ia balita. Karenanya, tulang punggung keluarga adalah ibunya. “Ndi ngopeni mbahku (belum lagi menghidupi nenek saya, Red),” ungkap perempuan kelahiran 1997 itu.

Dengan berat hati, Saida harus menutup cita-citanya untuk melanjutkan sekolah di SMA negeri, lalu berlanjut ke jenjang kuliah. Apalagi, dia merupakan salah satu siswa berprestasi ketika sekolah di salah satu MTs di Kecamatan Balung. Dulu, Saida langganan masuk peringkat tiga besar di kelasnya. “Pinginnya sekolah, kuliah, lalu kerja di bank,” ungkapnya.

Saida mengaku, di awal pernikahannya, ia dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kegiatan baru. Ia tidak bisa leluasa bermain dengan teman sebayanya. Ke mana-mana harus bersama suaminya. Terlebih, suami yang dijodohkan dengannya ini banyak memberi batasan Saida bergaul. “Suami tidak begitu suka aku banyak berkomunikasi sama teman-teman. Aku saja keluar dari grup alumni MI dan MTs,” kata ibu satu anak ini.

Sejalan dengan Saida, Wanda (nama samaran) juga dikawinkan di usia anak. Tepatnya ketika berusia 12 tahun. Alasannya bukan karena ekonomi. Tapi, karena adat Madura yang masih kental dianut oleh keluarganya. Perempuan yang berasal dari Desa Sumber Bulus, Kecamatan Ledokombo, ini sudah dijodohkan saat masih kanak-kanak oleh kedua orang tuanya.

Saat itu, Wanda tak bisa menolak. Sebab, sudah lumrah di keluarganya untuk menikah di usia belia. Namun, dalam hati Wanda, ia ingin melanjutkan sekolah dan bingung dengan pernikahan yang dijalaninya itu. Wanda pun menikah dengan laki-laki yang berusia 20 tahun.

Selama pernikahannya, Wanda dan suami hidup terpisah dengan orang tua. Suaminya, yang bekerja sebagai petani tembakau itu, mampu mencukupi kebutuhan Wanda sehari-hari. Namun, lambat laun dia banyak menerima perlakuan kasar dari suaminya. Suaminya kerap berkata-kata kasar kepadanya. Jika hasrat nafsunya tak terpenuhi, Wanda kerap mendapat pukulan.

“Kalau lagi menstruasi kadang saya menolak. Apalagi di awal-awal saya tidak tahu berhubungan seks itu bagaimana. Kalau sudah marah, saya dikaplok,” kata perempuan yang kini telah berusia 34 tahun tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/