alexametrics
23.6 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Perkuat Wajib Belajar 12 Tahun

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PERNIKAHAN anak belum bisa hilang dari bumi Jember. Ada banyak faktor yang memengaruhi hal itu. Regulasi yang ada di negeri ini belum sepenuhnya mampu mencegah praktik bocah menikah. Selain pencegahan, regulasi di tingkat daerah juga perlu dirumuskan.

Pencegahan agar anak tidak menikah sebelum waktunya banyak dilakukan pemerintah. Namun demikian, tahun 2020 tetap banyak anak yang melangsungkan perkawinan. Hal inilah yang sampai saat ini menjadi bagian fokus penanganan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember.

“Ada banyak faktor yang menjadi pengaruh. Misalnya budaya di desa, masih banyak para orang tua yang menikahkan anak-anaknya sebelum cukup umur,” kata Suprihandoko, Kepala Bidang Institusi Peran Serta Masyarakat, Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (Kabid IPSM dan KIE DP3AKB).

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, faktor lain yang membuat pernikahan dini adalah pendidikan dan kemiskinan. Di sejumlah tempat, banyak orang tua yang masih berpikir ingin segera menikahkan anaknya agar lepas dari beban perekonomian. “Masih ada pemikiran ingin segera menikahkan anaknya. Ini banyak terjadi pada warga miskin,” imbuhnya.

Handoko menyebut, guna mencegah pernikahan dini agar tidak terjadi, DP3AKB melakukan berbagai cara. Sasarannya memberikan pencerahan kepada para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Bahkan, kepada mereka yang putus sekolah diberikan pelatihan-pelatihan, dan kecakapan hidup sebelum mereka menikah. “Pembinaan agar tidak menikah usia dini terus kami kampanyekan. Tetapi di lapangan, masih tetap ada orang tua yang ingin segera menikahkan anaknya,” jelasnya.

Pencegahan pernikahan anak, menurutnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Regulasinya harus dibuat sedemikian baik serta berjalan selaras dengan peraturan-peraturan di luar peraturan perkawinan. Salah satunya, penerapan wajib belajar 12 tahun. Jika terlaksana dengan baik, maka anak sudah berusia 18 tahun saat tamat SMA. “Nah, mereka anak-anak tamatan SMA ataupun SD-SMP ini yang menjadi sasaran program Genre (Generasi Berencana, Red) kami. Tujuannya agar mereka siap dan punya skill, baik life skill motorik maupun keterampilan fisik,” beber Handoko.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PERNIKAHAN anak belum bisa hilang dari bumi Jember. Ada banyak faktor yang memengaruhi hal itu. Regulasi yang ada di negeri ini belum sepenuhnya mampu mencegah praktik bocah menikah. Selain pencegahan, regulasi di tingkat daerah juga perlu dirumuskan.

Pencegahan agar anak tidak menikah sebelum waktunya banyak dilakukan pemerintah. Namun demikian, tahun 2020 tetap banyak anak yang melangsungkan perkawinan. Hal inilah yang sampai saat ini menjadi bagian fokus penanganan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember.

“Ada banyak faktor yang menjadi pengaruh. Misalnya budaya di desa, masih banyak para orang tua yang menikahkan anak-anaknya sebelum cukup umur,” kata Suprihandoko, Kepala Bidang Institusi Peran Serta Masyarakat, Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (Kabid IPSM dan KIE DP3AKB).

Selain itu, faktor lain yang membuat pernikahan dini adalah pendidikan dan kemiskinan. Di sejumlah tempat, banyak orang tua yang masih berpikir ingin segera menikahkan anaknya agar lepas dari beban perekonomian. “Masih ada pemikiran ingin segera menikahkan anaknya. Ini banyak terjadi pada warga miskin,” imbuhnya.

Handoko menyebut, guna mencegah pernikahan dini agar tidak terjadi, DP3AKB melakukan berbagai cara. Sasarannya memberikan pencerahan kepada para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Bahkan, kepada mereka yang putus sekolah diberikan pelatihan-pelatihan, dan kecakapan hidup sebelum mereka menikah. “Pembinaan agar tidak menikah usia dini terus kami kampanyekan. Tetapi di lapangan, masih tetap ada orang tua yang ingin segera menikahkan anaknya,” jelasnya.

Pencegahan pernikahan anak, menurutnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Regulasinya harus dibuat sedemikian baik serta berjalan selaras dengan peraturan-peraturan di luar peraturan perkawinan. Salah satunya, penerapan wajib belajar 12 tahun. Jika terlaksana dengan baik, maka anak sudah berusia 18 tahun saat tamat SMA. “Nah, mereka anak-anak tamatan SMA ataupun SD-SMP ini yang menjadi sasaran program Genre (Generasi Berencana, Red) kami. Tujuannya agar mereka siap dan punya skill, baik life skill motorik maupun keterampilan fisik,” beber Handoko.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PERNIKAHAN anak belum bisa hilang dari bumi Jember. Ada banyak faktor yang memengaruhi hal itu. Regulasi yang ada di negeri ini belum sepenuhnya mampu mencegah praktik bocah menikah. Selain pencegahan, regulasi di tingkat daerah juga perlu dirumuskan.

Pencegahan agar anak tidak menikah sebelum waktunya banyak dilakukan pemerintah. Namun demikian, tahun 2020 tetap banyak anak yang melangsungkan perkawinan. Hal inilah yang sampai saat ini menjadi bagian fokus penanganan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember.

“Ada banyak faktor yang menjadi pengaruh. Misalnya budaya di desa, masih banyak para orang tua yang menikahkan anak-anaknya sebelum cukup umur,” kata Suprihandoko, Kepala Bidang Institusi Peran Serta Masyarakat, Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (Kabid IPSM dan KIE DP3AKB).

Selain itu, faktor lain yang membuat pernikahan dini adalah pendidikan dan kemiskinan. Di sejumlah tempat, banyak orang tua yang masih berpikir ingin segera menikahkan anaknya agar lepas dari beban perekonomian. “Masih ada pemikiran ingin segera menikahkan anaknya. Ini banyak terjadi pada warga miskin,” imbuhnya.

Handoko menyebut, guna mencegah pernikahan dini agar tidak terjadi, DP3AKB melakukan berbagai cara. Sasarannya memberikan pencerahan kepada para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Bahkan, kepada mereka yang putus sekolah diberikan pelatihan-pelatihan, dan kecakapan hidup sebelum mereka menikah. “Pembinaan agar tidak menikah usia dini terus kami kampanyekan. Tetapi di lapangan, masih tetap ada orang tua yang ingin segera menikahkan anaknya,” jelasnya.

Pencegahan pernikahan anak, menurutnya, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Regulasinya harus dibuat sedemikian baik serta berjalan selaras dengan peraturan-peraturan di luar peraturan perkawinan. Salah satunya, penerapan wajib belajar 12 tahun. Jika terlaksana dengan baik, maka anak sudah berusia 18 tahun saat tamat SMA. “Nah, mereka anak-anak tamatan SMA ataupun SD-SMP ini yang menjadi sasaran program Genre (Generasi Berencana, Red) kami. Tujuannya agar mereka siap dan punya skill, baik life skill motorik maupun keterampilan fisik,” beber Handoko.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/