alexametrics
23.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Disumbang Faktor Budaya dan Kelenturan Regulasi 

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – REGULASI yang mengatur tentang upaya pendewasaan usia nikah sebenarnya bukan tidak ada, tapi sudah ada. Namun, minim dalam realisasi di lapangan. Hal itu tertuang jelas dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Pasal 7 Ayat 1 UU terbaru itu menjelaskan perubahan mendasar pada usia perkawinan. Dari yang awalnya 19 tahun untuk calon pengantin laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan, diubah menjadi masing-masing 19 tahun. Namun, ketentuan itu dikendurkan dengan penjelasan ayat 2 dan ayat 3 yang menyebutkan, pernikahan di bawah usia 19 tahun tetap bisa dijalankan dengan pengajuan permohonan dispensasi oleh orang tua dari salah satu atau kedua belah pihak calon mempelai ke pengadilan. Pengajuan dispensasi itu pun dengan catatan, “alasan sangat mendesak” tidak ada pilihan lain, dan sangat terpaksa.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) Jember Muhammad Muslim mengungkapkan, angka pernikahan muda dari tahun ke tahun fluktuatif. Meski sudah ada ketentuan baru yang mengatur pendewasaan usia nikah, hal itu dinilainya belum berpengaruh banyak. Sebab, sejak diteken pada Desember 2019 lalu hingga hari ini, angka nikah muda masih cukup besar. “Kenapa angka nikah muda tahun 2020 masih besar? Sebenarnya bukan karena pandemi, tapi karena 2020 ini merupakan tahun pertama realisasi aturan baru itu,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Muslim menilai, masyarakat belum sepenuhnya siap menjalankan aturan baru pendewasaan usia nikah itu. Terlebih, budaya masyarakat yang mengakar kuat selama ini dalam memandang sebuah pernikahan terkesan begitu mudah. Dan hal itu pula yang turut menyumbang angka kawin muda selalu tinggi. “Alasan orang tua daripada zina, takut kebobolan, sudah dinikahkan saja. Bahkan bisa jadi karena kebobolan dulu, baru nikah,” ucapnya.

Muslim begitu meyakini alasan masyarakat itu. Meski terlihat sederhana, tapi di lapangan memang sering dan banyak yang terjadi demikian.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – REGULASI yang mengatur tentang upaya pendewasaan usia nikah sebenarnya bukan tidak ada, tapi sudah ada. Namun, minim dalam realisasi di lapangan. Hal itu tertuang jelas dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Pasal 7 Ayat 1 UU terbaru itu menjelaskan perubahan mendasar pada usia perkawinan. Dari yang awalnya 19 tahun untuk calon pengantin laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan, diubah menjadi masing-masing 19 tahun. Namun, ketentuan itu dikendurkan dengan penjelasan ayat 2 dan ayat 3 yang menyebutkan, pernikahan di bawah usia 19 tahun tetap bisa dijalankan dengan pengajuan permohonan dispensasi oleh orang tua dari salah satu atau kedua belah pihak calon mempelai ke pengadilan. Pengajuan dispensasi itu pun dengan catatan, “alasan sangat mendesak” tidak ada pilihan lain, dan sangat terpaksa.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) Jember Muhammad Muslim mengungkapkan, angka pernikahan muda dari tahun ke tahun fluktuatif. Meski sudah ada ketentuan baru yang mengatur pendewasaan usia nikah, hal itu dinilainya belum berpengaruh banyak. Sebab, sejak diteken pada Desember 2019 lalu hingga hari ini, angka nikah muda masih cukup besar. “Kenapa angka nikah muda tahun 2020 masih besar? Sebenarnya bukan karena pandemi, tapi karena 2020 ini merupakan tahun pertama realisasi aturan baru itu,” jelasnya.

Muslim menilai, masyarakat belum sepenuhnya siap menjalankan aturan baru pendewasaan usia nikah itu. Terlebih, budaya masyarakat yang mengakar kuat selama ini dalam memandang sebuah pernikahan terkesan begitu mudah. Dan hal itu pula yang turut menyumbang angka kawin muda selalu tinggi. “Alasan orang tua daripada zina, takut kebobolan, sudah dinikahkan saja. Bahkan bisa jadi karena kebobolan dulu, baru nikah,” ucapnya.

Muslim begitu meyakini alasan masyarakat itu. Meski terlihat sederhana, tapi di lapangan memang sering dan banyak yang terjadi demikian.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – REGULASI yang mengatur tentang upaya pendewasaan usia nikah sebenarnya bukan tidak ada, tapi sudah ada. Namun, minim dalam realisasi di lapangan. Hal itu tertuang jelas dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Pasal 7 Ayat 1 UU terbaru itu menjelaskan perubahan mendasar pada usia perkawinan. Dari yang awalnya 19 tahun untuk calon pengantin laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan, diubah menjadi masing-masing 19 tahun. Namun, ketentuan itu dikendurkan dengan penjelasan ayat 2 dan ayat 3 yang menyebutkan, pernikahan di bawah usia 19 tahun tetap bisa dijalankan dengan pengajuan permohonan dispensasi oleh orang tua dari salah satu atau kedua belah pihak calon mempelai ke pengadilan. Pengajuan dispensasi itu pun dengan catatan, “alasan sangat mendesak” tidak ada pilihan lain, dan sangat terpaksa.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) Jember Muhammad Muslim mengungkapkan, angka pernikahan muda dari tahun ke tahun fluktuatif. Meski sudah ada ketentuan baru yang mengatur pendewasaan usia nikah, hal itu dinilainya belum berpengaruh banyak. Sebab, sejak diteken pada Desember 2019 lalu hingga hari ini, angka nikah muda masih cukup besar. “Kenapa angka nikah muda tahun 2020 masih besar? Sebenarnya bukan karena pandemi, tapi karena 2020 ini merupakan tahun pertama realisasi aturan baru itu,” jelasnya.

Muslim menilai, masyarakat belum sepenuhnya siap menjalankan aturan baru pendewasaan usia nikah itu. Terlebih, budaya masyarakat yang mengakar kuat selama ini dalam memandang sebuah pernikahan terkesan begitu mudah. Dan hal itu pula yang turut menyumbang angka kawin muda selalu tinggi. “Alasan orang tua daripada zina, takut kebobolan, sudah dinikahkan saja. Bahkan bisa jadi karena kebobolan dulu, baru nikah,” ucapnya.

Muslim begitu meyakini alasan masyarakat itu. Meski terlihat sederhana, tapi di lapangan memang sering dan banyak yang terjadi demikian.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/