alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Vaksinasi Harapan Keselamatan Nakes

Prokes Tetap Jadi Andalan Imunitas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beredarnya isu terkait dengan vaksin yang bakal digunakan untuk menyembuhkan para pasien Covid-19 menjadi kabar yang menggembirakan bagi para tenaga kesehatan (nakes) meski vaksin itu sendiri masih belum teruji keampuhannya.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang perawat, Fahmi Isnun Muhsi. Terkait dengan adanya vaksin itu, dirinya berharap benar-benar mampu memutus mata rantai persebaran Covid-19. Mengingat, sudah hampir 10 bulan pihaknya menangani pasien Covid-19. Belum lagi, kondisi tidak nyaman saat memakai alat pelindung diri (APD) setiap kali menangani pasien Covid-19. “Setidaknya, ada harapan dan usaha untuk kesembuhan pasien karena kami sendiri sudah lelah menangani pasien,” ujar perawat RSD dr Soebandi itu.

Meski begitu, menurut dia, vaksin bukanlah satu-satunya alat yang mampu mencegah paparan virus Covid-19. “Ada kemungkinan seseorang bakal kembali terpapar jika tidak menerapkan protokol kesehatan (prokes) dengan baik,” ulas warga Kecamatan Ledokombo tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

dr Angga Mardro Raharjo SpP menerangkan bahwa berbagai pihak masih sama-sama menjalankan persiapan. Beberapa rumah sakit sudah ditunjuk sebagai penyedia layanan vaksin. Meski begitu, vaksinasi tak akan semudah itu diterima masyarakat. Sebab, banyak masyarakat yang pada Covid-19 saja tidak percaya, apalagi dengan vaksin yang belum jelas kebenarannya.

Hal itu dibuktikan dari pantauan Jawa Pos Radar Jember di banyak tempat seperti Pasar Tanjung dan Alun-Alun Jember. Banyak warga yang enggan menerapkan prokes. Tidak memakai masker dan tidak menjaga jarak.

“Masyarakat harus melihat di sekitarnya. Mereka harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang-orang di sampingnya. Kalau salah satu atau dua anggota keluarga terpapar hingga meninggal, mereka bakal sedih dan merasa kehilangan,” ujarnya.

Selain itu, dr Angga menegaskan bahwa tokoh masyarakat sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. “Kalau kiai atau tokoh masyarakat tidak mencoba, bagaimana masyarakatnya mau divaksin?” gagasnya. Mengingat, mereka merupakan panutan masyarakat.

Lalu, bagaimana pemerintah? Jawa Pos Radar Jember coba menghubungi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Gatot Triyono untuk mengulik keterangan lebih lanjut terkait dengan vaksinasi Covid-19. Namun, Gatot menjelaskan bahwa belum ada informasi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beredarnya isu terkait dengan vaksin yang bakal digunakan untuk menyembuhkan para pasien Covid-19 menjadi kabar yang menggembirakan bagi para tenaga kesehatan (nakes) meski vaksin itu sendiri masih belum teruji keampuhannya.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang perawat, Fahmi Isnun Muhsi. Terkait dengan adanya vaksin itu, dirinya berharap benar-benar mampu memutus mata rantai persebaran Covid-19. Mengingat, sudah hampir 10 bulan pihaknya menangani pasien Covid-19. Belum lagi, kondisi tidak nyaman saat memakai alat pelindung diri (APD) setiap kali menangani pasien Covid-19. “Setidaknya, ada harapan dan usaha untuk kesembuhan pasien karena kami sendiri sudah lelah menangani pasien,” ujar perawat RSD dr Soebandi itu.

Meski begitu, menurut dia, vaksin bukanlah satu-satunya alat yang mampu mencegah paparan virus Covid-19. “Ada kemungkinan seseorang bakal kembali terpapar jika tidak menerapkan protokol kesehatan (prokes) dengan baik,” ulas warga Kecamatan Ledokombo tersebut.

dr Angga Mardro Raharjo SpP menerangkan bahwa berbagai pihak masih sama-sama menjalankan persiapan. Beberapa rumah sakit sudah ditunjuk sebagai penyedia layanan vaksin. Meski begitu, vaksinasi tak akan semudah itu diterima masyarakat. Sebab, banyak masyarakat yang pada Covid-19 saja tidak percaya, apalagi dengan vaksin yang belum jelas kebenarannya.

Hal itu dibuktikan dari pantauan Jawa Pos Radar Jember di banyak tempat seperti Pasar Tanjung dan Alun-Alun Jember. Banyak warga yang enggan menerapkan prokes. Tidak memakai masker dan tidak menjaga jarak.

“Masyarakat harus melihat di sekitarnya. Mereka harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang-orang di sampingnya. Kalau salah satu atau dua anggota keluarga terpapar hingga meninggal, mereka bakal sedih dan merasa kehilangan,” ujarnya.

Selain itu, dr Angga menegaskan bahwa tokoh masyarakat sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. “Kalau kiai atau tokoh masyarakat tidak mencoba, bagaimana masyarakatnya mau divaksin?” gagasnya. Mengingat, mereka merupakan panutan masyarakat.

Lalu, bagaimana pemerintah? Jawa Pos Radar Jember coba menghubungi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Gatot Triyono untuk mengulik keterangan lebih lanjut terkait dengan vaksinasi Covid-19. Namun, Gatot menjelaskan bahwa belum ada informasi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beredarnya isu terkait dengan vaksin yang bakal digunakan untuk menyembuhkan para pasien Covid-19 menjadi kabar yang menggembirakan bagi para tenaga kesehatan (nakes) meski vaksin itu sendiri masih belum teruji keampuhannya.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang perawat, Fahmi Isnun Muhsi. Terkait dengan adanya vaksin itu, dirinya berharap benar-benar mampu memutus mata rantai persebaran Covid-19. Mengingat, sudah hampir 10 bulan pihaknya menangani pasien Covid-19. Belum lagi, kondisi tidak nyaman saat memakai alat pelindung diri (APD) setiap kali menangani pasien Covid-19. “Setidaknya, ada harapan dan usaha untuk kesembuhan pasien karena kami sendiri sudah lelah menangani pasien,” ujar perawat RSD dr Soebandi itu.

Meski begitu, menurut dia, vaksin bukanlah satu-satunya alat yang mampu mencegah paparan virus Covid-19. “Ada kemungkinan seseorang bakal kembali terpapar jika tidak menerapkan protokol kesehatan (prokes) dengan baik,” ulas warga Kecamatan Ledokombo tersebut.

dr Angga Mardro Raharjo SpP menerangkan bahwa berbagai pihak masih sama-sama menjalankan persiapan. Beberapa rumah sakit sudah ditunjuk sebagai penyedia layanan vaksin. Meski begitu, vaksinasi tak akan semudah itu diterima masyarakat. Sebab, banyak masyarakat yang pada Covid-19 saja tidak percaya, apalagi dengan vaksin yang belum jelas kebenarannya.

Hal itu dibuktikan dari pantauan Jawa Pos Radar Jember di banyak tempat seperti Pasar Tanjung dan Alun-Alun Jember. Banyak warga yang enggan menerapkan prokes. Tidak memakai masker dan tidak menjaga jarak.

“Masyarakat harus melihat di sekitarnya. Mereka harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang-orang di sampingnya. Kalau salah satu atau dua anggota keluarga terpapar hingga meninggal, mereka bakal sedih dan merasa kehilangan,” ujarnya.

Selain itu, dr Angga menegaskan bahwa tokoh masyarakat sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. “Kalau kiai atau tokoh masyarakat tidak mencoba, bagaimana masyarakatnya mau divaksin?” gagasnya. Mengingat, mereka merupakan panutan masyarakat.

Lalu, bagaimana pemerintah? Jawa Pos Radar Jember coba menghubungi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Gatot Triyono untuk mengulik keterangan lebih lanjut terkait dengan vaksinasi Covid-19. Namun, Gatot menjelaskan bahwa belum ada informasi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/