alexametrics
23.2 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Sediakan Fasilitas Membaca hingga Pendampingan Mengerjakan Tugas

Fransiska Nur Aulia merasa resah ketika melihat anak-anak di desanya ada yang putus sekolah. Dia kemudian menggagas perpustakaan mandiri yang bisa diakses oleh bocah-bocah di kampungnya. Upaya ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca serta semangat mereka agar tak putus belajar. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

Dalam sehari, jumlah anak yang berkunjung bisa mencapai lebih dari 15 orang. Ditambah lagi, para orang tua semakin terbuka untuk mengarahkan anak-anak mereka bermain di rumah Siska. Dia pun mengaku lebih bersemangat untuk mengembangkan taman bacanya. Kini, dalam setiap harinya, rumah baca tersebut sampai dikunjungi lebih dari 70 anak. Biasanya, mereka datang secara bergantian. Tak hanya membaca, anak-anak juga bisa bermain dan mengerjakan tugas harian.

Seiring berjalannya waktu, banyak relawan yang turut memberikan kontribusi berupa sumbangan buku. Bahkan, ada yang meluangkan waktu untuk beraktivitas bersama anak-anak di desanya. Hingga akhirnya, pada awal 2020 ini Siska memiliki tempat khusus untuk perpustakaannya. Tempat itu adalah sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari rumah Siska. Di rumah itu, setiap harinya tidak pernah sepi. Selalu dipenuhi oleh anak-anak untuk kegiatan membaca dan bermain. “Tempat ini masih baru. Nyewa. Tapi tidak tahu duitnya dari mana. Ikhtiar saja,” kata Siska dengan penuh keyakinan.

Siska berharap, keberadaan rumah baca mandiri ini bisa memberi warna baru dan tambahan pengetahuan di lingkungan masyarakat desa. Ia pun tak memungkiri jika masih membutuhkan banyak pembinaan di segala bidang. Terutama bagaimana mengembalikan agar anak-anak dan remaja yang lebih senang bermain HP, lebih memilih buku sebagai teman mereka. “Sebab, saya meyakini, dengan membaca, taraf hidup masyarakat bisa meningkat,” pungkasnya.

- Advertisement -

Dalam sehari, jumlah anak yang berkunjung bisa mencapai lebih dari 15 orang. Ditambah lagi, para orang tua semakin terbuka untuk mengarahkan anak-anak mereka bermain di rumah Siska. Dia pun mengaku lebih bersemangat untuk mengembangkan taman bacanya. Kini, dalam setiap harinya, rumah baca tersebut sampai dikunjungi lebih dari 70 anak. Biasanya, mereka datang secara bergantian. Tak hanya membaca, anak-anak juga bisa bermain dan mengerjakan tugas harian.

Seiring berjalannya waktu, banyak relawan yang turut memberikan kontribusi berupa sumbangan buku. Bahkan, ada yang meluangkan waktu untuk beraktivitas bersama anak-anak di desanya. Hingga akhirnya, pada awal 2020 ini Siska memiliki tempat khusus untuk perpustakaannya. Tempat itu adalah sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari rumah Siska. Di rumah itu, setiap harinya tidak pernah sepi. Selalu dipenuhi oleh anak-anak untuk kegiatan membaca dan bermain. “Tempat ini masih baru. Nyewa. Tapi tidak tahu duitnya dari mana. Ikhtiar saja,” kata Siska dengan penuh keyakinan.

Siska berharap, keberadaan rumah baca mandiri ini bisa memberi warna baru dan tambahan pengetahuan di lingkungan masyarakat desa. Ia pun tak memungkiri jika masih membutuhkan banyak pembinaan di segala bidang. Terutama bagaimana mengembalikan agar anak-anak dan remaja yang lebih senang bermain HP, lebih memilih buku sebagai teman mereka. “Sebab, saya meyakini, dengan membaca, taraf hidup masyarakat bisa meningkat,” pungkasnya.

Dalam sehari, jumlah anak yang berkunjung bisa mencapai lebih dari 15 orang. Ditambah lagi, para orang tua semakin terbuka untuk mengarahkan anak-anak mereka bermain di rumah Siska. Dia pun mengaku lebih bersemangat untuk mengembangkan taman bacanya. Kini, dalam setiap harinya, rumah baca tersebut sampai dikunjungi lebih dari 70 anak. Biasanya, mereka datang secara bergantian. Tak hanya membaca, anak-anak juga bisa bermain dan mengerjakan tugas harian.

Seiring berjalannya waktu, banyak relawan yang turut memberikan kontribusi berupa sumbangan buku. Bahkan, ada yang meluangkan waktu untuk beraktivitas bersama anak-anak di desanya. Hingga akhirnya, pada awal 2020 ini Siska memiliki tempat khusus untuk perpustakaannya. Tempat itu adalah sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari rumah Siska. Di rumah itu, setiap harinya tidak pernah sepi. Selalu dipenuhi oleh anak-anak untuk kegiatan membaca dan bermain. “Tempat ini masih baru. Nyewa. Tapi tidak tahu duitnya dari mana. Ikhtiar saja,” kata Siska dengan penuh keyakinan.

Siska berharap, keberadaan rumah baca mandiri ini bisa memberi warna baru dan tambahan pengetahuan di lingkungan masyarakat desa. Ia pun tak memungkiri jika masih membutuhkan banyak pembinaan di segala bidang. Terutama bagaimana mengembalikan agar anak-anak dan remaja yang lebih senang bermain HP, lebih memilih buku sebagai teman mereka. “Sebab, saya meyakini, dengan membaca, taraf hidup masyarakat bisa meningkat,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/