alexametrics
23.5 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Sediakan Fasilitas Membaca hingga Pendampingan Mengerjakan Tugas

Fransiska Nur Aulia merasa resah ketika melihat anak-anak di desanya ada yang putus sekolah. Dia kemudian menggagas perpustakaan mandiri yang bisa diakses oleh bocah-bocah di kampungnya. Upaya ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca serta semangat mereka agar tak putus belajar. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Desa Serut adalah salah satu desa yang terletak di lereng Pegunungan Argopuro, Kecamatan Panti. Mata pencaharian masyarakat sekitar cukup beragam. Mulai dari petani, buruh, kuli bangunan, pekerja pabrik, karyawan, hingga pengusaha kecil. Sebagian, tingkat ekonomi mereka menengah ke bawah. Kondisi inilah yang menyebabkan masyarakat merasa keberatan jika harus membeli buku untuk dirinya maupun anak-anak mereka.

Berawal dari keprihatinan ini, Fransiska Nur Aulia berinisiatif mengumpulkan buku bacaan anak-anak, remaja, dan orang tua. Kemudian dia menyajikan secara sederhana, sehingga dapat dinikmati secara gratis. Menurutnya, masyarakat perlu diperhatikan dalam hal pengayaan ilmu pengetahuan. Sebab, dengan pengetahuan, wawasan mereka akan lebih luas. “Saya prihatin melihat anak-anak di lingkungan sekitar yang jarang bahkan tidak pernah membaca buku di luar buku sekolah,” ungkap perempuan yang akrab disapa Siska itu.

Oleh sebab itu, pada 2018 lalu, Siska bersama adiknya memulai mendirikan taman baca yang diberi nama Taman Baca Triandara. Saat itu, ia tak berharap muluk-muluk. Siska hanya ingin menyediakan buku bagi bocah dan masyarakat di desanya. Modalnya minim. Ia hanya memajang buku-buku miliknya di teras rumah. Anak-anak pun mulai tertarik untuk berkunjung.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Desa Serut adalah salah satu desa yang terletak di lereng Pegunungan Argopuro, Kecamatan Panti. Mata pencaharian masyarakat sekitar cukup beragam. Mulai dari petani, buruh, kuli bangunan, pekerja pabrik, karyawan, hingga pengusaha kecil. Sebagian, tingkat ekonomi mereka menengah ke bawah. Kondisi inilah yang menyebabkan masyarakat merasa keberatan jika harus membeli buku untuk dirinya maupun anak-anak mereka.

Berawal dari keprihatinan ini, Fransiska Nur Aulia berinisiatif mengumpulkan buku bacaan anak-anak, remaja, dan orang tua. Kemudian dia menyajikan secara sederhana, sehingga dapat dinikmati secara gratis. Menurutnya, masyarakat perlu diperhatikan dalam hal pengayaan ilmu pengetahuan. Sebab, dengan pengetahuan, wawasan mereka akan lebih luas. “Saya prihatin melihat anak-anak di lingkungan sekitar yang jarang bahkan tidak pernah membaca buku di luar buku sekolah,” ungkap perempuan yang akrab disapa Siska itu.

Oleh sebab itu, pada 2018 lalu, Siska bersama adiknya memulai mendirikan taman baca yang diberi nama Taman Baca Triandara. Saat itu, ia tak berharap muluk-muluk. Siska hanya ingin menyediakan buku bagi bocah dan masyarakat di desanya. Modalnya minim. Ia hanya memajang buku-buku miliknya di teras rumah. Anak-anak pun mulai tertarik untuk berkunjung.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Desa Serut adalah salah satu desa yang terletak di lereng Pegunungan Argopuro, Kecamatan Panti. Mata pencaharian masyarakat sekitar cukup beragam. Mulai dari petani, buruh, kuli bangunan, pekerja pabrik, karyawan, hingga pengusaha kecil. Sebagian, tingkat ekonomi mereka menengah ke bawah. Kondisi inilah yang menyebabkan masyarakat merasa keberatan jika harus membeli buku untuk dirinya maupun anak-anak mereka.

Berawal dari keprihatinan ini, Fransiska Nur Aulia berinisiatif mengumpulkan buku bacaan anak-anak, remaja, dan orang tua. Kemudian dia menyajikan secara sederhana, sehingga dapat dinikmati secara gratis. Menurutnya, masyarakat perlu diperhatikan dalam hal pengayaan ilmu pengetahuan. Sebab, dengan pengetahuan, wawasan mereka akan lebih luas. “Saya prihatin melihat anak-anak di lingkungan sekitar yang jarang bahkan tidak pernah membaca buku di luar buku sekolah,” ungkap perempuan yang akrab disapa Siska itu.

Oleh sebab itu, pada 2018 lalu, Siska bersama adiknya memulai mendirikan taman baca yang diberi nama Taman Baca Triandara. Saat itu, ia tak berharap muluk-muluk. Siska hanya ingin menyediakan buku bagi bocah dan masyarakat di desanya. Modalnya minim. Ia hanya memajang buku-buku miliknya di teras rumah. Anak-anak pun mulai tertarik untuk berkunjung.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/