alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Curhat, tapi Ogah ke Ranah Hukum

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siapa yang ingin hal-hal yang berbau privasi diumbar ke publik? Tentu tidak ada. Hal itu pula yang menjadi kekhawatiran para pekerja seks. Di balik pekerjaan mereka, sebenarnya tidak ada niatan sejak awal untuk terjun ke dunia malam. Namun apa daya, hal itu sudah telanjur. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka menanggung apa pun risikonya. Termasuk risiko mendapat perlakukan kekerasan fisik dan seksual.

Biasanya, kekerasan yang mereka alami bermacam0macam. Mulai dari kekerasan verbal, fisik, bayaran tidak sesuai kesepakatan, bahkan kekerasan yang berbau keintiman seperti pelanggan enggan memakai kondom atau intim di saat menstruasi. Bahkan pelanggan yang enggan membayar dengan ancaman menyebar foto-foto syur si wanita. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh pelanggan, bisa juga oleh mucikarinya.

Direktur Lembaga Gerakan Peduli Perempuan (LGPP) Jember Sri Sulistiyani membeberkan, sebenarnya upaya pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan seksual semacam itu sangat bisa dilakukan. Namun, tidak semua wanita enggan terbuka dan mau membuka diri terhadap permasalahan yang menimpanya. “Meskipun ada, tapi sedikit. Itu pun mereka maunya jadi teman curhat. Namun, saat kami tawarkan ke pengawalan hukum, mereka enggan. Takut,” bebernya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Padahal, dalam proses hukum itu, kata Sulis, tentu privasi perempuan sebagai korban kekerasan seksual akan dijamin dan terlindungi. Namun hal itu rupanya belum cukup meyakinkan mereka. Sulis menilai, hal itu besar kemungkinan karena si perempuan menganggap persoalan yang menimpa dirinya adalah konsekuensi. Mau tidak mau, suka tidak suka, hal itu harus diterimanya.

Selama memberikan bantuan hukum kepada korban kekerasan seksual, Sulis mengaku juga pernah mengawal korban yang juga sebagai kupu-kupu malam. Kendalanya memang hampir sama, malu, khawatir, takut, merasa tidak ada lagi harapan dan masa depan, dan sebagainya. “Ada jaminan kerahasiaan dia sebagai data klien. Itu sudah kode etiknya begitu,” imbuhnya.

Padahal, dalam pendampingan hukum itu, bakal dinilai sedikit meringankan. “Kalau PSK dibawa oleh mucikari, maka yang membawanya itu bisa dikenakan pasal pidana perdagangan manusia,” terangnya. Sebenarnya dalam pendampingan yang diberikan Sulis bersama tim, tak hanya melulu hukum. Ia juga menyediakan psikiater, ahli medis, hingga guru.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siapa yang ingin hal-hal yang berbau privasi diumbar ke publik? Tentu tidak ada. Hal itu pula yang menjadi kekhawatiran para pekerja seks. Di balik pekerjaan mereka, sebenarnya tidak ada niatan sejak awal untuk terjun ke dunia malam. Namun apa daya, hal itu sudah telanjur. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka menanggung apa pun risikonya. Termasuk risiko mendapat perlakukan kekerasan fisik dan seksual.

Biasanya, kekerasan yang mereka alami bermacam0macam. Mulai dari kekerasan verbal, fisik, bayaran tidak sesuai kesepakatan, bahkan kekerasan yang berbau keintiman seperti pelanggan enggan memakai kondom atau intim di saat menstruasi. Bahkan pelanggan yang enggan membayar dengan ancaman menyebar foto-foto syur si wanita. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh pelanggan, bisa juga oleh mucikarinya.

Direktur Lembaga Gerakan Peduli Perempuan (LGPP) Jember Sri Sulistiyani membeberkan, sebenarnya upaya pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan seksual semacam itu sangat bisa dilakukan. Namun, tidak semua wanita enggan terbuka dan mau membuka diri terhadap permasalahan yang menimpanya. “Meskipun ada, tapi sedikit. Itu pun mereka maunya jadi teman curhat. Namun, saat kami tawarkan ke pengawalan hukum, mereka enggan. Takut,” bebernya.

Padahal, dalam proses hukum itu, kata Sulis, tentu privasi perempuan sebagai korban kekerasan seksual akan dijamin dan terlindungi. Namun hal itu rupanya belum cukup meyakinkan mereka. Sulis menilai, hal itu besar kemungkinan karena si perempuan menganggap persoalan yang menimpa dirinya adalah konsekuensi. Mau tidak mau, suka tidak suka, hal itu harus diterimanya.

Selama memberikan bantuan hukum kepada korban kekerasan seksual, Sulis mengaku juga pernah mengawal korban yang juga sebagai kupu-kupu malam. Kendalanya memang hampir sama, malu, khawatir, takut, merasa tidak ada lagi harapan dan masa depan, dan sebagainya. “Ada jaminan kerahasiaan dia sebagai data klien. Itu sudah kode etiknya begitu,” imbuhnya.

Padahal, dalam pendampingan hukum itu, bakal dinilai sedikit meringankan. “Kalau PSK dibawa oleh mucikari, maka yang membawanya itu bisa dikenakan pasal pidana perdagangan manusia,” terangnya. Sebenarnya dalam pendampingan yang diberikan Sulis bersama tim, tak hanya melulu hukum. Ia juga menyediakan psikiater, ahli medis, hingga guru.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siapa yang ingin hal-hal yang berbau privasi diumbar ke publik? Tentu tidak ada. Hal itu pula yang menjadi kekhawatiran para pekerja seks. Di balik pekerjaan mereka, sebenarnya tidak ada niatan sejak awal untuk terjun ke dunia malam. Namun apa daya, hal itu sudah telanjur. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka menanggung apa pun risikonya. Termasuk risiko mendapat perlakukan kekerasan fisik dan seksual.

Biasanya, kekerasan yang mereka alami bermacam0macam. Mulai dari kekerasan verbal, fisik, bayaran tidak sesuai kesepakatan, bahkan kekerasan yang berbau keintiman seperti pelanggan enggan memakai kondom atau intim di saat menstruasi. Bahkan pelanggan yang enggan membayar dengan ancaman menyebar foto-foto syur si wanita. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh pelanggan, bisa juga oleh mucikarinya.

Direktur Lembaga Gerakan Peduli Perempuan (LGPP) Jember Sri Sulistiyani membeberkan, sebenarnya upaya pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan seksual semacam itu sangat bisa dilakukan. Namun, tidak semua wanita enggan terbuka dan mau membuka diri terhadap permasalahan yang menimpanya. “Meskipun ada, tapi sedikit. Itu pun mereka maunya jadi teman curhat. Namun, saat kami tawarkan ke pengawalan hukum, mereka enggan. Takut,” bebernya.

Padahal, dalam proses hukum itu, kata Sulis, tentu privasi perempuan sebagai korban kekerasan seksual akan dijamin dan terlindungi. Namun hal itu rupanya belum cukup meyakinkan mereka. Sulis menilai, hal itu besar kemungkinan karena si perempuan menganggap persoalan yang menimpa dirinya adalah konsekuensi. Mau tidak mau, suka tidak suka, hal itu harus diterimanya.

Selama memberikan bantuan hukum kepada korban kekerasan seksual, Sulis mengaku juga pernah mengawal korban yang juga sebagai kupu-kupu malam. Kendalanya memang hampir sama, malu, khawatir, takut, merasa tidak ada lagi harapan dan masa depan, dan sebagainya. “Ada jaminan kerahasiaan dia sebagai data klien. Itu sudah kode etiknya begitu,” imbuhnya.

Padahal, dalam pendampingan hukum itu, bakal dinilai sedikit meringankan. “Kalau PSK dibawa oleh mucikari, maka yang membawanya itu bisa dikenakan pasal pidana perdagangan manusia,” terangnya. Sebenarnya dalam pendampingan yang diberikan Sulis bersama tim, tak hanya melulu hukum. Ia juga menyediakan psikiater, ahli medis, hingga guru.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/