alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Anggap Wajar dan Risiko Pekerjaan

Tak banyak yang tahu, tiap 17 Desember selalu diperingati sebagai Hari Antikekerasan terhadap Pekerja Seks. Sebagai kelompok yang rentan, mereka harus mendapat perlindungan. Jawa Pos Radar Jember mewawancarai dua perempuan pekerja malam secara eksklusif. Apa tanggapan mereka tentang kekerasan tersebut?

Mobile_AP_Rectangle 1

“Jika dia marah, suka memukul. Pernah suatu ketika, pukulan yang menimpa saya parah sekali. Sampai-sampai saya dijemput keluarga untuk diselamatkan,” urainya. Rosa merasa, kekerasan yang dialaminya merupakan ranah privat. Jadi, tidak perlu lapor ke polisi. Sebab, dia tak ingin orang lain tahu dan terlibat dengan persoalan yang membelitnya.

Hingga suatu hari, kekerasan itu kembali terulang. Rosa menghitung, sudah empat kali dirinya menerima tindak kekerasan. Hati kecilnya berteriak. Cukup. Akhirnya, Rosa memberanikan diri. Bukan melawan, tapi pergi meninggalkan pasangannya itu. Sejak saat itu, dia kembali ke dunia malam dan justru semakin akrab dengan kekerasan dan obat-obat terlarang.

Kekerasan serupa juga dialami Yuyun (bukan nama sebenarnya). Wanita 26 tahun itu mengaku telah berkecimpung di dunia malam sejak lama. Juga setelah lulus SMA. Awalnya, dia terjun di dunia model amatiran dan salah pergaulan hingga memantapkan langkah melayani pria hidung belang sampai sekarang. “Saya pasang tarif Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Tergantung siapa tamunya dan dari mana. Kalau dari luar kota lebih mahal,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Karena memilih menjadi wanita panggilan, Yuyun mengaku siap dengan segala risiko yang dialami. Termasuk ketika mendapat kekerasan fisik maupun seksual. Bahkan, dia tak pernah menganggap kekerasan seksual yang dilakukan pelanggan sebagai bentuk kekerasan. Misalnya praktik seksual menyimpang. “Bagi saya tergantung kesepakatan di awal. Jika akadnya BO (booking out, Red), saya tidak masalah selama harganya sesuai,” ucap warga yang juga tinggal di kecamatan kota tersebut.

Namun, dia menegaskan, jika tidak sesuai kesepakatan, dirinya akan memprotes pelanggan dengan segala konsekuensinya. Misalnya, ketika akad awal hanya menemani nyanyi saja, tapi belakangan ada permintaan lebih tanpa ada kesepakatan ulang, dia berani menggugat. “Saya berangkat cari duit, jadi harus berani tanggung risiko apa pun,” jelentrehnya.

Meski keduanya menganggap hal itu sebagai kewajaran dan risiko pekerjaan, tapi sejatinya, Rosa dan Yuyun sudah jengah dengan kekerasan. Mereka hanya terpaksa diam, karena tak kuasa melawan. Terlebih, masih ada stigma buruk di masyarakat yang menganggap hina para pekerja seks. Jadi, ketika kekerasan itu dilaporkan dan mencuat ke masyarakat, publik justru tak membelanya. Namun balik menyalahkan mereka, bukan pelakunya.

“Jika ada lembaga, badan hukum, atau undang-undang yang melindungi, tentu kami akan menyambut baik. Karena sebagai warga negara, seharusnya kami juga diperlakukan dan mendapat perhatian yang sama dengan warga lainnya,” tutur Rosa, yang disambut anggukan oleh Yuyun.

- Advertisement -

“Jika dia marah, suka memukul. Pernah suatu ketika, pukulan yang menimpa saya parah sekali. Sampai-sampai saya dijemput keluarga untuk diselamatkan,” urainya. Rosa merasa, kekerasan yang dialaminya merupakan ranah privat. Jadi, tidak perlu lapor ke polisi. Sebab, dia tak ingin orang lain tahu dan terlibat dengan persoalan yang membelitnya.

Hingga suatu hari, kekerasan itu kembali terulang. Rosa menghitung, sudah empat kali dirinya menerima tindak kekerasan. Hati kecilnya berteriak. Cukup. Akhirnya, Rosa memberanikan diri. Bukan melawan, tapi pergi meninggalkan pasangannya itu. Sejak saat itu, dia kembali ke dunia malam dan justru semakin akrab dengan kekerasan dan obat-obat terlarang.

Kekerasan serupa juga dialami Yuyun (bukan nama sebenarnya). Wanita 26 tahun itu mengaku telah berkecimpung di dunia malam sejak lama. Juga setelah lulus SMA. Awalnya, dia terjun di dunia model amatiran dan salah pergaulan hingga memantapkan langkah melayani pria hidung belang sampai sekarang. “Saya pasang tarif Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Tergantung siapa tamunya dan dari mana. Kalau dari luar kota lebih mahal,” ucapnya.

Karena memilih menjadi wanita panggilan, Yuyun mengaku siap dengan segala risiko yang dialami. Termasuk ketika mendapat kekerasan fisik maupun seksual. Bahkan, dia tak pernah menganggap kekerasan seksual yang dilakukan pelanggan sebagai bentuk kekerasan. Misalnya praktik seksual menyimpang. “Bagi saya tergantung kesepakatan di awal. Jika akadnya BO (booking out, Red), saya tidak masalah selama harganya sesuai,” ucap warga yang juga tinggal di kecamatan kota tersebut.

Namun, dia menegaskan, jika tidak sesuai kesepakatan, dirinya akan memprotes pelanggan dengan segala konsekuensinya. Misalnya, ketika akad awal hanya menemani nyanyi saja, tapi belakangan ada permintaan lebih tanpa ada kesepakatan ulang, dia berani menggugat. “Saya berangkat cari duit, jadi harus berani tanggung risiko apa pun,” jelentrehnya.

Meski keduanya menganggap hal itu sebagai kewajaran dan risiko pekerjaan, tapi sejatinya, Rosa dan Yuyun sudah jengah dengan kekerasan. Mereka hanya terpaksa diam, karena tak kuasa melawan. Terlebih, masih ada stigma buruk di masyarakat yang menganggap hina para pekerja seks. Jadi, ketika kekerasan itu dilaporkan dan mencuat ke masyarakat, publik justru tak membelanya. Namun balik menyalahkan mereka, bukan pelakunya.

“Jika ada lembaga, badan hukum, atau undang-undang yang melindungi, tentu kami akan menyambut baik. Karena sebagai warga negara, seharusnya kami juga diperlakukan dan mendapat perhatian yang sama dengan warga lainnya,” tutur Rosa, yang disambut anggukan oleh Yuyun.

“Jika dia marah, suka memukul. Pernah suatu ketika, pukulan yang menimpa saya parah sekali. Sampai-sampai saya dijemput keluarga untuk diselamatkan,” urainya. Rosa merasa, kekerasan yang dialaminya merupakan ranah privat. Jadi, tidak perlu lapor ke polisi. Sebab, dia tak ingin orang lain tahu dan terlibat dengan persoalan yang membelitnya.

Hingga suatu hari, kekerasan itu kembali terulang. Rosa menghitung, sudah empat kali dirinya menerima tindak kekerasan. Hati kecilnya berteriak. Cukup. Akhirnya, Rosa memberanikan diri. Bukan melawan, tapi pergi meninggalkan pasangannya itu. Sejak saat itu, dia kembali ke dunia malam dan justru semakin akrab dengan kekerasan dan obat-obat terlarang.

Kekerasan serupa juga dialami Yuyun (bukan nama sebenarnya). Wanita 26 tahun itu mengaku telah berkecimpung di dunia malam sejak lama. Juga setelah lulus SMA. Awalnya, dia terjun di dunia model amatiran dan salah pergaulan hingga memantapkan langkah melayani pria hidung belang sampai sekarang. “Saya pasang tarif Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Tergantung siapa tamunya dan dari mana. Kalau dari luar kota lebih mahal,” ucapnya.

Karena memilih menjadi wanita panggilan, Yuyun mengaku siap dengan segala risiko yang dialami. Termasuk ketika mendapat kekerasan fisik maupun seksual. Bahkan, dia tak pernah menganggap kekerasan seksual yang dilakukan pelanggan sebagai bentuk kekerasan. Misalnya praktik seksual menyimpang. “Bagi saya tergantung kesepakatan di awal. Jika akadnya BO (booking out, Red), saya tidak masalah selama harganya sesuai,” ucap warga yang juga tinggal di kecamatan kota tersebut.

Namun, dia menegaskan, jika tidak sesuai kesepakatan, dirinya akan memprotes pelanggan dengan segala konsekuensinya. Misalnya, ketika akad awal hanya menemani nyanyi saja, tapi belakangan ada permintaan lebih tanpa ada kesepakatan ulang, dia berani menggugat. “Saya berangkat cari duit, jadi harus berani tanggung risiko apa pun,” jelentrehnya.

Meski keduanya menganggap hal itu sebagai kewajaran dan risiko pekerjaan, tapi sejatinya, Rosa dan Yuyun sudah jengah dengan kekerasan. Mereka hanya terpaksa diam, karena tak kuasa melawan. Terlebih, masih ada stigma buruk di masyarakat yang menganggap hina para pekerja seks. Jadi, ketika kekerasan itu dilaporkan dan mencuat ke masyarakat, publik justru tak membelanya. Namun balik menyalahkan mereka, bukan pelakunya.

“Jika ada lembaga, badan hukum, atau undang-undang yang melindungi, tentu kami akan menyambut baik. Karena sebagai warga negara, seharusnya kami juga diperlakukan dan mendapat perhatian yang sama dengan warga lainnya,” tutur Rosa, yang disambut anggukan oleh Yuyun.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/