alexametrics
30.8 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Wajah yang Ekspresif Permudah Penyampaian Pesan

Mobile_AP_Rectangle 1

Gerakan tangan saja tak cukup menggambarkan kata-kata yang akan disampaikan. Namun, juga butuh penjiwaan untuk mengekspresikan setiap pesan yang akan disampaikan. Seperti inilah yang dilakukan Anis Yulia Rahman, seorang penerjemah bahasa isyarat bagi para difabel.

NUR HARIRI, Sumbersari, Radar Jember

Malam itu cukup dingin. Tetapi, tidak demikian dengan yang dirasakan Anis Yulia Rahman. Dia tampak hangat, lantaran sudah satu jam lebih tidak diam. Tangannya nyaris tak berhenti bergerak membentuk kata-kata. Pesan kalimat yang disampaikan melalui bahasa isyarat secara cepat dapat dia sampaikan. Malam itu, dirinya menjadi penerjemah dialog calon wakil bupati Jember untuk para difabel.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lekukan kedua tangannya semakin cepat terlihat. Anis pun memperlihatkan mimik yang ekspresif. Kadang wajahnya garang, lembut, ceria, sedih, dan kadang terlihat manis. Gerakan bibirnya juga demikian, sesekali menimpali gerakan tangannya yang lentur nan gemulai.

Saat itu, Anis tak bisa diganggu. Banyak pasang mata yang memperhatikannya. Sekali tak fokus, makna dari kalimat dialog cawabup bisa terputus. Untuk itu, dia tetap fokus sekali pun Jawa Pos Radar Jember beberapa kali memotretnya. Bahkan, saat duduk di dekatnya, dia tetap menggerakkan tangan dengan wajah yang ekspresif.

Setelah cukup lama dan acaranya selesai, Anis membalas setiap sapaan. Dia menceritakan apa yang dijalani. “Saya belajar bahasa isyarat sejak 2016. Asal saya Madura. Saat itu saya belajar masih mahasiswa,” ucap perempuan yang kini tinggal di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, tersebut.

Agar dapat berbicara dan menjadi penerjemah bahasa isyarat, menurutnya, membutuhkan proses yang tidak singkat. Harus kerap memeragakan. Serta komunikasinya harus langsung dengan penyandang disabilitas, baik yang tunarungu maupun tunawicara. “Kalau bicara pakai bahasa isyarat dengan orang normal, rata-rata tidak mengerti,” jelasnya.

- Advertisement -

Gerakan tangan saja tak cukup menggambarkan kata-kata yang akan disampaikan. Namun, juga butuh penjiwaan untuk mengekspresikan setiap pesan yang akan disampaikan. Seperti inilah yang dilakukan Anis Yulia Rahman, seorang penerjemah bahasa isyarat bagi para difabel.

NUR HARIRI, Sumbersari, Radar Jember

Malam itu cukup dingin. Tetapi, tidak demikian dengan yang dirasakan Anis Yulia Rahman. Dia tampak hangat, lantaran sudah satu jam lebih tidak diam. Tangannya nyaris tak berhenti bergerak membentuk kata-kata. Pesan kalimat yang disampaikan melalui bahasa isyarat secara cepat dapat dia sampaikan. Malam itu, dirinya menjadi penerjemah dialog calon wakil bupati Jember untuk para difabel.

Lekukan kedua tangannya semakin cepat terlihat. Anis pun memperlihatkan mimik yang ekspresif. Kadang wajahnya garang, lembut, ceria, sedih, dan kadang terlihat manis. Gerakan bibirnya juga demikian, sesekali menimpali gerakan tangannya yang lentur nan gemulai.

Saat itu, Anis tak bisa diganggu. Banyak pasang mata yang memperhatikannya. Sekali tak fokus, makna dari kalimat dialog cawabup bisa terputus. Untuk itu, dia tetap fokus sekali pun Jawa Pos Radar Jember beberapa kali memotretnya. Bahkan, saat duduk di dekatnya, dia tetap menggerakkan tangan dengan wajah yang ekspresif.

Setelah cukup lama dan acaranya selesai, Anis membalas setiap sapaan. Dia menceritakan apa yang dijalani. “Saya belajar bahasa isyarat sejak 2016. Asal saya Madura. Saat itu saya belajar masih mahasiswa,” ucap perempuan yang kini tinggal di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, tersebut.

Agar dapat berbicara dan menjadi penerjemah bahasa isyarat, menurutnya, membutuhkan proses yang tidak singkat. Harus kerap memeragakan. Serta komunikasinya harus langsung dengan penyandang disabilitas, baik yang tunarungu maupun tunawicara. “Kalau bicara pakai bahasa isyarat dengan orang normal, rata-rata tidak mengerti,” jelasnya.

Gerakan tangan saja tak cukup menggambarkan kata-kata yang akan disampaikan. Namun, juga butuh penjiwaan untuk mengekspresikan setiap pesan yang akan disampaikan. Seperti inilah yang dilakukan Anis Yulia Rahman, seorang penerjemah bahasa isyarat bagi para difabel.

NUR HARIRI, Sumbersari, Radar Jember

Malam itu cukup dingin. Tetapi, tidak demikian dengan yang dirasakan Anis Yulia Rahman. Dia tampak hangat, lantaran sudah satu jam lebih tidak diam. Tangannya nyaris tak berhenti bergerak membentuk kata-kata. Pesan kalimat yang disampaikan melalui bahasa isyarat secara cepat dapat dia sampaikan. Malam itu, dirinya menjadi penerjemah dialog calon wakil bupati Jember untuk para difabel.

Lekukan kedua tangannya semakin cepat terlihat. Anis pun memperlihatkan mimik yang ekspresif. Kadang wajahnya garang, lembut, ceria, sedih, dan kadang terlihat manis. Gerakan bibirnya juga demikian, sesekali menimpali gerakan tangannya yang lentur nan gemulai.

Saat itu, Anis tak bisa diganggu. Banyak pasang mata yang memperhatikannya. Sekali tak fokus, makna dari kalimat dialog cawabup bisa terputus. Untuk itu, dia tetap fokus sekali pun Jawa Pos Radar Jember beberapa kali memotretnya. Bahkan, saat duduk di dekatnya, dia tetap menggerakkan tangan dengan wajah yang ekspresif.

Setelah cukup lama dan acaranya selesai, Anis membalas setiap sapaan. Dia menceritakan apa yang dijalani. “Saya belajar bahasa isyarat sejak 2016. Asal saya Madura. Saat itu saya belajar masih mahasiswa,” ucap perempuan yang kini tinggal di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, tersebut.

Agar dapat berbicara dan menjadi penerjemah bahasa isyarat, menurutnya, membutuhkan proses yang tidak singkat. Harus kerap memeragakan. Serta komunikasinya harus langsung dengan penyandang disabilitas, baik yang tunarungu maupun tunawicara. “Kalau bicara pakai bahasa isyarat dengan orang normal, rata-rata tidak mengerti,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/