alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Timbun Kerupuk sampai Empat Ton

Mobile_AP_Rectangle 1

Kini, dia hanya mengandalkan pedagang- pedagang kecil di Jember yang umumya hanya mengambil beberapa kuintal. “Pelanggan yang di luar kota sudah mulai nyetop dulu. Enggak tahu sampai kapan,” keluhnya.

Biasanya, dalam satu pekan Sutrisno mendapat permintaan 20 kuintal lebih kerupuk.  Namun, sekarang hanya berkisar 7 sampai 13 kuintal.   Hal ini juga berdampak pada tenaga yang dipekerjakan. Setidaknya, terdapat 5 dari 25 tenaga kerja yang diberhentikan sementara. Lainnya digilir untuk libur. “Karena produksinya sedikit. Jadi, tenaganya juga sedikit yang dibutuhkan,” paparnya.

Sementara itu, pengusaha kerupuk lainnya di Rambipuji, Wildatul Hasanah menuturkan, dampak masa pandemi terhadap roda produksi kerupuknya terbilang cukup menghambat. Wilda, sapaan akrabnya, juga menurunkan jumlah bahan baku untuk produksi. Biasanya, untuk memproduksi kerupuk, Wilda membutuhkan hingga 1 kuintal tepung. Namun, kini hanya 40 kilogram saja.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak hanya berdampak pada turunnya permintaan kerupuk mentah, pandemi juga berdampak pada kestabilan harga bahan bakunya, yaitu tepung. Sejak 3 bulan terakhir ini, harga tepung merosot jauh dari harga normalnya. Jika normalnya, harga tepung bisa mencapai Rp 800 ribu per kuintal, kini harganya turun Rp 400 ribu per kuintal.

Penurunan harga tepung ini dimanfaatkan Sutrisno untuk menyetok tepung bahan baku pembuatan kerupuk sebanyak-banyaknya. Tak tanggung-tanggung, dia membeli 12 ton tepung dari Jawa Tengah, yang nantinya digunakan untuk produksi. “Mungkin karena pandemi ini memengaruhi distribusi tepung, makanya harganya turun, dan juga sekarang kan singkong di Jawa Barat,” pungkas Sutrisno.

- Advertisement -

Kini, dia hanya mengandalkan pedagang- pedagang kecil di Jember yang umumya hanya mengambil beberapa kuintal. “Pelanggan yang di luar kota sudah mulai nyetop dulu. Enggak tahu sampai kapan,” keluhnya.

Biasanya, dalam satu pekan Sutrisno mendapat permintaan 20 kuintal lebih kerupuk.  Namun, sekarang hanya berkisar 7 sampai 13 kuintal.   Hal ini juga berdampak pada tenaga yang dipekerjakan. Setidaknya, terdapat 5 dari 25 tenaga kerja yang diberhentikan sementara. Lainnya digilir untuk libur. “Karena produksinya sedikit. Jadi, tenaganya juga sedikit yang dibutuhkan,” paparnya.

Sementara itu, pengusaha kerupuk lainnya di Rambipuji, Wildatul Hasanah menuturkan, dampak masa pandemi terhadap roda produksi kerupuknya terbilang cukup menghambat. Wilda, sapaan akrabnya, juga menurunkan jumlah bahan baku untuk produksi. Biasanya, untuk memproduksi kerupuk, Wilda membutuhkan hingga 1 kuintal tepung. Namun, kini hanya 40 kilogram saja.

Tak hanya berdampak pada turunnya permintaan kerupuk mentah, pandemi juga berdampak pada kestabilan harga bahan bakunya, yaitu tepung. Sejak 3 bulan terakhir ini, harga tepung merosot jauh dari harga normalnya. Jika normalnya, harga tepung bisa mencapai Rp 800 ribu per kuintal, kini harganya turun Rp 400 ribu per kuintal.

Penurunan harga tepung ini dimanfaatkan Sutrisno untuk menyetok tepung bahan baku pembuatan kerupuk sebanyak-banyaknya. Tak tanggung-tanggung, dia membeli 12 ton tepung dari Jawa Tengah, yang nantinya digunakan untuk produksi. “Mungkin karena pandemi ini memengaruhi distribusi tepung, makanya harganya turun, dan juga sekarang kan singkong di Jawa Barat,” pungkas Sutrisno.

Kini, dia hanya mengandalkan pedagang- pedagang kecil di Jember yang umumya hanya mengambil beberapa kuintal. “Pelanggan yang di luar kota sudah mulai nyetop dulu. Enggak tahu sampai kapan,” keluhnya.

Biasanya, dalam satu pekan Sutrisno mendapat permintaan 20 kuintal lebih kerupuk.  Namun, sekarang hanya berkisar 7 sampai 13 kuintal.   Hal ini juga berdampak pada tenaga yang dipekerjakan. Setidaknya, terdapat 5 dari 25 tenaga kerja yang diberhentikan sementara. Lainnya digilir untuk libur. “Karena produksinya sedikit. Jadi, tenaganya juga sedikit yang dibutuhkan,” paparnya.

Sementara itu, pengusaha kerupuk lainnya di Rambipuji, Wildatul Hasanah menuturkan, dampak masa pandemi terhadap roda produksi kerupuknya terbilang cukup menghambat. Wilda, sapaan akrabnya, juga menurunkan jumlah bahan baku untuk produksi. Biasanya, untuk memproduksi kerupuk, Wilda membutuhkan hingga 1 kuintal tepung. Namun, kini hanya 40 kilogram saja.

Tak hanya berdampak pada turunnya permintaan kerupuk mentah, pandemi juga berdampak pada kestabilan harga bahan bakunya, yaitu tepung. Sejak 3 bulan terakhir ini, harga tepung merosot jauh dari harga normalnya. Jika normalnya, harga tepung bisa mencapai Rp 800 ribu per kuintal, kini harganya turun Rp 400 ribu per kuintal.

Penurunan harga tepung ini dimanfaatkan Sutrisno untuk menyetok tepung bahan baku pembuatan kerupuk sebanyak-banyaknya. Tak tanggung-tanggung, dia membeli 12 ton tepung dari Jawa Tengah, yang nantinya digunakan untuk produksi. “Mungkin karena pandemi ini memengaruhi distribusi tepung, makanya harganya turun, dan juga sekarang kan singkong di Jawa Barat,” pungkas Sutrisno.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/