alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Bongkar Potret Asli Tumpukan Sampah di Pantai Jember

Desak Pemerintah segera Sahkan Perda Sampah

Mobile_AP_Rectangle 1

PUGER KULON, RADARJEMBER.ID – Tempat wisata, khususnya pantai, sudah dibuka untuk umum seiring status PPKM Jember yang berada di level 1. Meski begitu, niat pelancong mengunjungi destinasi wisata alam itu menjadi terganggu karena pantai mulai tercemari sampah. Seperti yang terlihat di tepian Pantai Pancer di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger. Sampah yang mengotori pantai tersebut kebanyakan adalah limbah rumah tangga yang berasal dari sungai.

Di lokasi, tumpukan sampah itu bukan hanya berbahan plastik, tapi juga sampah daun hingga potongan kayu dan bambu. Material sampah itu terbawa banjir ketika hujan mengguyur kawasan Jember, belakangan ini. Otomatis, pantai yang seharusnya terlihat asri menjadi sangat kumuh.

Beruntung, saban hari ada saja pemulung yang mencari sampah di pantai. Hal itu bisa mengurangi volume sampah meski tak sampai bersih. Bahkan, beberapa di antara pemulung itu tak hanya pulang membawa sampah yang bisa dijual, tapi juga potongan kayu atau bambu sebagai bahan bakar.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Namun, tidak semua pemulung membawa pulang potongan kayu dan bambu. Karena repot, harus membawa pikap. Saya hanya memungut sampah bekas botol dan sampah plastik lainnya,” kata Yono, warga Mojomulyo, Kecamatan Puger, yang setiap hari mencari sampah di pinggir pantai.

Pemandangan seperti ini sebenarnya sudah sering terjadi. Utamanya ketika Sungai Bedadung dan Sungai Besini, dua sungai yang bermuara di Pantai Pancer, mengalami banjir. Kebiasaan warga yang membuang sampah seenaknya ke sungai di hulu mengakibatkan limbah-limbah itu terbawa arus hingga hanyut ke laut. Kemudian, laut memuntahkan kembali sampah itu hingga menggunung di bibir pantai.

Warga dan komunitas pemuda di kecamatan setempat sejatinya tidak tinggal diam. Mereka terkadang melakukan kerja bakti dengan membersihkan pantai secara mandiri. Namun, karena keterbatasan alat dan sarana, terkadang mereka hanya mengumpulkan, lalu membakarnya di lokasi. Sehingga tersisa bekas kayu gosong dan abu dari pembakaran sampah itu. Di sisi lain, kiriman sampah dari sungai yang terus terjadi juga mengakibatkan pantai tersebut jarang terlihat bersih.

Mengatasi masalah ini, pemerintah tak boleh tinggal diam. Harus ada regulasi yang menjadi jalan keluar sebagai solusi jangka panjang. Misalnya membikin peraturan daerah (perda) tentang pengelolaan sampah. Saat ini, eksekutif telah memasukkan usulan Raperda Sampah itu ke legislatif. Namun, sejauh ini belum ada jadwal kapan akan dibahas.

- Advertisement -

PUGER KULON, RADARJEMBER.ID – Tempat wisata, khususnya pantai, sudah dibuka untuk umum seiring status PPKM Jember yang berada di level 1. Meski begitu, niat pelancong mengunjungi destinasi wisata alam itu menjadi terganggu karena pantai mulai tercemari sampah. Seperti yang terlihat di tepian Pantai Pancer di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger. Sampah yang mengotori pantai tersebut kebanyakan adalah limbah rumah tangga yang berasal dari sungai.

Di lokasi, tumpukan sampah itu bukan hanya berbahan plastik, tapi juga sampah daun hingga potongan kayu dan bambu. Material sampah itu terbawa banjir ketika hujan mengguyur kawasan Jember, belakangan ini. Otomatis, pantai yang seharusnya terlihat asri menjadi sangat kumuh.

Beruntung, saban hari ada saja pemulung yang mencari sampah di pantai. Hal itu bisa mengurangi volume sampah meski tak sampai bersih. Bahkan, beberapa di antara pemulung itu tak hanya pulang membawa sampah yang bisa dijual, tapi juga potongan kayu atau bambu sebagai bahan bakar.

“Namun, tidak semua pemulung membawa pulang potongan kayu dan bambu. Karena repot, harus membawa pikap. Saya hanya memungut sampah bekas botol dan sampah plastik lainnya,” kata Yono, warga Mojomulyo, Kecamatan Puger, yang setiap hari mencari sampah di pinggir pantai.

Pemandangan seperti ini sebenarnya sudah sering terjadi. Utamanya ketika Sungai Bedadung dan Sungai Besini, dua sungai yang bermuara di Pantai Pancer, mengalami banjir. Kebiasaan warga yang membuang sampah seenaknya ke sungai di hulu mengakibatkan limbah-limbah itu terbawa arus hingga hanyut ke laut. Kemudian, laut memuntahkan kembali sampah itu hingga menggunung di bibir pantai.

Warga dan komunitas pemuda di kecamatan setempat sejatinya tidak tinggal diam. Mereka terkadang melakukan kerja bakti dengan membersihkan pantai secara mandiri. Namun, karena keterbatasan alat dan sarana, terkadang mereka hanya mengumpulkan, lalu membakarnya di lokasi. Sehingga tersisa bekas kayu gosong dan abu dari pembakaran sampah itu. Di sisi lain, kiriman sampah dari sungai yang terus terjadi juga mengakibatkan pantai tersebut jarang terlihat bersih.

Mengatasi masalah ini, pemerintah tak boleh tinggal diam. Harus ada regulasi yang menjadi jalan keluar sebagai solusi jangka panjang. Misalnya membikin peraturan daerah (perda) tentang pengelolaan sampah. Saat ini, eksekutif telah memasukkan usulan Raperda Sampah itu ke legislatif. Namun, sejauh ini belum ada jadwal kapan akan dibahas.

PUGER KULON, RADARJEMBER.ID – Tempat wisata, khususnya pantai, sudah dibuka untuk umum seiring status PPKM Jember yang berada di level 1. Meski begitu, niat pelancong mengunjungi destinasi wisata alam itu menjadi terganggu karena pantai mulai tercemari sampah. Seperti yang terlihat di tepian Pantai Pancer di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger. Sampah yang mengotori pantai tersebut kebanyakan adalah limbah rumah tangga yang berasal dari sungai.

Di lokasi, tumpukan sampah itu bukan hanya berbahan plastik, tapi juga sampah daun hingga potongan kayu dan bambu. Material sampah itu terbawa banjir ketika hujan mengguyur kawasan Jember, belakangan ini. Otomatis, pantai yang seharusnya terlihat asri menjadi sangat kumuh.

Beruntung, saban hari ada saja pemulung yang mencari sampah di pantai. Hal itu bisa mengurangi volume sampah meski tak sampai bersih. Bahkan, beberapa di antara pemulung itu tak hanya pulang membawa sampah yang bisa dijual, tapi juga potongan kayu atau bambu sebagai bahan bakar.

“Namun, tidak semua pemulung membawa pulang potongan kayu dan bambu. Karena repot, harus membawa pikap. Saya hanya memungut sampah bekas botol dan sampah plastik lainnya,” kata Yono, warga Mojomulyo, Kecamatan Puger, yang setiap hari mencari sampah di pinggir pantai.

Pemandangan seperti ini sebenarnya sudah sering terjadi. Utamanya ketika Sungai Bedadung dan Sungai Besini, dua sungai yang bermuara di Pantai Pancer, mengalami banjir. Kebiasaan warga yang membuang sampah seenaknya ke sungai di hulu mengakibatkan limbah-limbah itu terbawa arus hingga hanyut ke laut. Kemudian, laut memuntahkan kembali sampah itu hingga menggunung di bibir pantai.

Warga dan komunitas pemuda di kecamatan setempat sejatinya tidak tinggal diam. Mereka terkadang melakukan kerja bakti dengan membersihkan pantai secara mandiri. Namun, karena keterbatasan alat dan sarana, terkadang mereka hanya mengumpulkan, lalu membakarnya di lokasi. Sehingga tersisa bekas kayu gosong dan abu dari pembakaran sampah itu. Di sisi lain, kiriman sampah dari sungai yang terus terjadi juga mengakibatkan pantai tersebut jarang terlihat bersih.

Mengatasi masalah ini, pemerintah tak boleh tinggal diam. Harus ada regulasi yang menjadi jalan keluar sebagai solusi jangka panjang. Misalnya membikin peraturan daerah (perda) tentang pengelolaan sampah. Saat ini, eksekutif telah memasukkan usulan Raperda Sampah itu ke legislatif. Namun, sejauh ini belum ada jadwal kapan akan dibahas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/