alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Jangan Bergantung pada Polisi

Kecelakaan beruntun yang menewaskan lima orang di Desa Sempolan, Silo, membuka mata publik bahwa maut masih menjadi ancaman di jalan. Perlu ada upaya serius dari pemerintah dan kepolisian untuk mencegah insiden serupa. Mulai dari pembenahan infrastruktur, pengetatan uji kir, hingga peningkatan kesadaran para pengendara.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Serangkaian peristiwa kecelakaan menyisakan trauma bagi Bu Mukti. Perempuan 70 tahun asal Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, itu masih ingat betul ketika sebuah truk pengangkut pasir menghantam tembok pelindung rumahnya, belum lama ini. Sang sopir meninggal di lokasi akibat kendaraan yang dia kemudikan mengalami rem blong di jalur menikung dan menurun tersebut.

Kasus kecelakaan di depan rumahnya itu bukanlah yang pertama. Dia tak ingat persis berapa kali petaka itu terjadi. Tapi hampir setiap tahun, selalu saja kendaraan yang selip dan mengalami musibah di jalur itu. Namun, kasus terakhir membuatnya miris. Sebab, sang sopir meninggal dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya terjepit kabin truk yang ringsek.

Setelah peristiwa yang menewaskan sopir itu, dirinya langsung memperlebar dan memperkuat tembok pengaman yang sebelumnya memang sudah dibangun. Sebab, lokasi rumah dan warung Bu Mukti berada di jalur rawan, sehingga pembangunan tembok itu dimaksudkan untuk melindungi si pemilik rumah. Tembok cor tersebut dilengkapi dengan ban bekas yang ditempel di satu sisi tembok. Ban bekas itu bertujuan untuk mengurangi benturan dan fatalitas pengendara yang mengalami kecelakaan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, tak hanya Bu Mukti yang membuat tembok besar, tembok yang sama juga terpasang di samping rumah para tetangga. Total ada empat tembok yang oleh warga disebut monumen kecelakaan. Sebab, lokasi itu memang menjadi langganan terjadinya kecelakaan. Biasanya gara-gara rem blong.

“Pokoknya hampir setiap tahun terjadi kecelakaan tunggal. Pernah akhir Desember 2019 lalu, truk gandengan menyasar empat rumah akibat rem blong. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hanya rumah saja yang mengalami rusak parah,” katanya.

Catatan Jawa Pos Radar Jember, kecelakaan tunggal maupun beruntun yang kerap terjadi di jalur Jember-Banyuwangi rata-rata karena rem blong. Lokasi yang menjadi langganan mulai dari Jalan Raya Desa Garahan hingga Desa Sumberjati. Dan terakhir di jalan raya Desa Sempolan. Semuanya berada di Kecamatan Silo.

“Yang paling banyak menyalami rem blong adalah kendaraan besar. Seperti truk Fuso dan tronton. Kendaraan besar yang kecelakaan tunggal semuanya dari arah Banyuwangi ke Jember. Karena selain jalannya menurun, juga berkelok-kelok,” ungkap AKP Suhartanto, Kapolsek Silo.

Kendaraan besar yang mengalami kecelakaan itu semuanya bermuatan penuh. Sehingga ketika rem blong, sopir biasanya mencari jalur yang luas untuk dihantamkan agar tidak memakan korban jiwa. “Apalagi muatannya banyak. Jadi, kalau sudah blong, truk akan berjalan tidak terkendali,” kata Suhartanto.

Dari serentetan petaka di sepanjang jalur Silo, yang paling banyak membawa korban adalah kecelakaan beruntun akibat rem blong, Kamis (13/8) lalu. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16.45 di Jalan Raya Desa Sempolan, Kecamatan Silo, itu melibatkan truk Fuso, Colt Diesel, dan enam motor. Kejadian tersebut mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan lima lainnya luka berat.

Selain kecelakaan di Silo, insiden maut lain yang menyita perhatian publik adalah kecelakaan di depan kantor PDAM Jember Jalan Trunojoyo, Rabu (28/7). Dua orang, pedagang masker dan temannya, meninggal dalam peristiwa tersebut. Selan itu, kecelakaan yang melibatkan mobil bak terbuka yang mengangkut 12 siswa sekolah penerbangan di Jalan Airlangga, Dusun Karanganyar, Desa Rowotamtu, Rambipuji, Jumat (31/7). Atau berselang tiga hari dari petaka Trunojoyo. Dalam peristiwa kedua, seorang pelajar dilaporkan meninggal.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Serangkaian peristiwa kecelakaan menyisakan trauma bagi Bu Mukti. Perempuan 70 tahun asal Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, itu masih ingat betul ketika sebuah truk pengangkut pasir menghantam tembok pelindung rumahnya, belum lama ini. Sang sopir meninggal di lokasi akibat kendaraan yang dia kemudikan mengalami rem blong di jalur menikung dan menurun tersebut.

Kasus kecelakaan di depan rumahnya itu bukanlah yang pertama. Dia tak ingat persis berapa kali petaka itu terjadi. Tapi hampir setiap tahun, selalu saja kendaraan yang selip dan mengalami musibah di jalur itu. Namun, kasus terakhir membuatnya miris. Sebab, sang sopir meninggal dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya terjepit kabin truk yang ringsek.

Setelah peristiwa yang menewaskan sopir itu, dirinya langsung memperlebar dan memperkuat tembok pengaman yang sebelumnya memang sudah dibangun. Sebab, lokasi rumah dan warung Bu Mukti berada di jalur rawan, sehingga pembangunan tembok itu dimaksudkan untuk melindungi si pemilik rumah. Tembok cor tersebut dilengkapi dengan ban bekas yang ditempel di satu sisi tembok. Ban bekas itu bertujuan untuk mengurangi benturan dan fatalitas pengendara yang mengalami kecelakaan.

Bahkan, tak hanya Bu Mukti yang membuat tembok besar, tembok yang sama juga terpasang di samping rumah para tetangga. Total ada empat tembok yang oleh warga disebut monumen kecelakaan. Sebab, lokasi itu memang menjadi langganan terjadinya kecelakaan. Biasanya gara-gara rem blong.

“Pokoknya hampir setiap tahun terjadi kecelakaan tunggal. Pernah akhir Desember 2019 lalu, truk gandengan menyasar empat rumah akibat rem blong. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hanya rumah saja yang mengalami rusak parah,” katanya.

Catatan Jawa Pos Radar Jember, kecelakaan tunggal maupun beruntun yang kerap terjadi di jalur Jember-Banyuwangi rata-rata karena rem blong. Lokasi yang menjadi langganan mulai dari Jalan Raya Desa Garahan hingga Desa Sumberjati. Dan terakhir di jalan raya Desa Sempolan. Semuanya berada di Kecamatan Silo.

“Yang paling banyak menyalami rem blong adalah kendaraan besar. Seperti truk Fuso dan tronton. Kendaraan besar yang kecelakaan tunggal semuanya dari arah Banyuwangi ke Jember. Karena selain jalannya menurun, juga berkelok-kelok,” ungkap AKP Suhartanto, Kapolsek Silo.

Kendaraan besar yang mengalami kecelakaan itu semuanya bermuatan penuh. Sehingga ketika rem blong, sopir biasanya mencari jalur yang luas untuk dihantamkan agar tidak memakan korban jiwa. “Apalagi muatannya banyak. Jadi, kalau sudah blong, truk akan berjalan tidak terkendali,” kata Suhartanto.

Dari serentetan petaka di sepanjang jalur Silo, yang paling banyak membawa korban adalah kecelakaan beruntun akibat rem blong, Kamis (13/8) lalu. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16.45 di Jalan Raya Desa Sempolan, Kecamatan Silo, itu melibatkan truk Fuso, Colt Diesel, dan enam motor. Kejadian tersebut mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan lima lainnya luka berat.

Selain kecelakaan di Silo, insiden maut lain yang menyita perhatian publik adalah kecelakaan di depan kantor PDAM Jember Jalan Trunojoyo, Rabu (28/7). Dua orang, pedagang masker dan temannya, meninggal dalam peristiwa tersebut. Selan itu, kecelakaan yang melibatkan mobil bak terbuka yang mengangkut 12 siswa sekolah penerbangan di Jalan Airlangga, Dusun Karanganyar, Desa Rowotamtu, Rambipuji, Jumat (31/7). Atau berselang tiga hari dari petaka Trunojoyo. Dalam peristiwa kedua, seorang pelajar dilaporkan meninggal.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Serangkaian peristiwa kecelakaan menyisakan trauma bagi Bu Mukti. Perempuan 70 tahun asal Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, itu masih ingat betul ketika sebuah truk pengangkut pasir menghantam tembok pelindung rumahnya, belum lama ini. Sang sopir meninggal di lokasi akibat kendaraan yang dia kemudikan mengalami rem blong di jalur menikung dan menurun tersebut.

Kasus kecelakaan di depan rumahnya itu bukanlah yang pertama. Dia tak ingat persis berapa kali petaka itu terjadi. Tapi hampir setiap tahun, selalu saja kendaraan yang selip dan mengalami musibah di jalur itu. Namun, kasus terakhir membuatnya miris. Sebab, sang sopir meninggal dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya terjepit kabin truk yang ringsek.

Setelah peristiwa yang menewaskan sopir itu, dirinya langsung memperlebar dan memperkuat tembok pengaman yang sebelumnya memang sudah dibangun. Sebab, lokasi rumah dan warung Bu Mukti berada di jalur rawan, sehingga pembangunan tembok itu dimaksudkan untuk melindungi si pemilik rumah. Tembok cor tersebut dilengkapi dengan ban bekas yang ditempel di satu sisi tembok. Ban bekas itu bertujuan untuk mengurangi benturan dan fatalitas pengendara yang mengalami kecelakaan.

Bahkan, tak hanya Bu Mukti yang membuat tembok besar, tembok yang sama juga terpasang di samping rumah para tetangga. Total ada empat tembok yang oleh warga disebut monumen kecelakaan. Sebab, lokasi itu memang menjadi langganan terjadinya kecelakaan. Biasanya gara-gara rem blong.

“Pokoknya hampir setiap tahun terjadi kecelakaan tunggal. Pernah akhir Desember 2019 lalu, truk gandengan menyasar empat rumah akibat rem blong. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hanya rumah saja yang mengalami rusak parah,” katanya.

Catatan Jawa Pos Radar Jember, kecelakaan tunggal maupun beruntun yang kerap terjadi di jalur Jember-Banyuwangi rata-rata karena rem blong. Lokasi yang menjadi langganan mulai dari Jalan Raya Desa Garahan hingga Desa Sumberjati. Dan terakhir di jalan raya Desa Sempolan. Semuanya berada di Kecamatan Silo.

“Yang paling banyak menyalami rem blong adalah kendaraan besar. Seperti truk Fuso dan tronton. Kendaraan besar yang kecelakaan tunggal semuanya dari arah Banyuwangi ke Jember. Karena selain jalannya menurun, juga berkelok-kelok,” ungkap AKP Suhartanto, Kapolsek Silo.

Kendaraan besar yang mengalami kecelakaan itu semuanya bermuatan penuh. Sehingga ketika rem blong, sopir biasanya mencari jalur yang luas untuk dihantamkan agar tidak memakan korban jiwa. “Apalagi muatannya banyak. Jadi, kalau sudah blong, truk akan berjalan tidak terkendali,” kata Suhartanto.

Dari serentetan petaka di sepanjang jalur Silo, yang paling banyak membawa korban adalah kecelakaan beruntun akibat rem blong, Kamis (13/8) lalu. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16.45 di Jalan Raya Desa Sempolan, Kecamatan Silo, itu melibatkan truk Fuso, Colt Diesel, dan enam motor. Kejadian tersebut mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan lima lainnya luka berat.

Selain kecelakaan di Silo, insiden maut lain yang menyita perhatian publik adalah kecelakaan di depan kantor PDAM Jember Jalan Trunojoyo, Rabu (28/7). Dua orang, pedagang masker dan temannya, meninggal dalam peristiwa tersebut. Selan itu, kecelakaan yang melibatkan mobil bak terbuka yang mengangkut 12 siswa sekolah penerbangan di Jalan Airlangga, Dusun Karanganyar, Desa Rowotamtu, Rambipuji, Jumat (31/7). Atau berselang tiga hari dari petaka Trunojoyo. Dalam peristiwa kedua, seorang pelajar dilaporkan meninggal.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/