alexametrics
23.6 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Bawa Tumpeng Sambil Sampaikan Aspirasi

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR JEMBER.ID – Puluhan warga yang tergabung dalam Gerakan Butuh Bupati Baru (BBB) melakukan aksi di depan Kantor Pemerintahan Kabupaten Jember, kemarin (23/8). Mereka membawa tumpeng dari hasil bumi, lalu mengarak ruwatan bumi tersebut mengelilingi Alun-Alun Jember.

Para peserta ruwatan tersebut berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, tokoh Katolik, tokoh lintas Agama, serta sejumlah pelajar dan santri. Mereka berkumpul lalu menyampaikan aspirasinya tentang perkembangan Jember.

Kustiono, koordinator lapangan (korlap) aksi mengatakan, kegiatan yang digelar pada sore hari itu mengusung gerakan Butuh Bupati Baru atau BBB. Menurutnya, keberadaan Pemerintahan Jember selama ini telah banyak menyimpang dan sangat jauh dari harapan warga Jember. “Ini adalah puncak kegelisahan kami dengan kondisi pemerintahan Kabupaten Jember,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan bahwa ruwatan itu adalah tradisi leluhur dan sebagai upaya menghormati peninggalan mereka. Dia meyakini bahwa ruwatan juga menjadi upaya untuk mengajak semua pihak kembali mengingat Tuhan.

Kustiono memaparkan sejumlah persoalan Jember yang tak kunjung usai. Mulai dari hubungan DPRD yang tidak harmonis, banyaknya kepala yang berstatus pelaksana tugas (PLt), SILPA yang tiap tahun semakin meningkat, penyimpangan proyek rehabilitasi 12 pasar, dan lainnya.

- Advertisement -

RADAR JEMBER.ID – Puluhan warga yang tergabung dalam Gerakan Butuh Bupati Baru (BBB) melakukan aksi di depan Kantor Pemerintahan Kabupaten Jember, kemarin (23/8). Mereka membawa tumpeng dari hasil bumi, lalu mengarak ruwatan bumi tersebut mengelilingi Alun-Alun Jember.

Para peserta ruwatan tersebut berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, tokoh Katolik, tokoh lintas Agama, serta sejumlah pelajar dan santri. Mereka berkumpul lalu menyampaikan aspirasinya tentang perkembangan Jember.

Kustiono, koordinator lapangan (korlap) aksi mengatakan, kegiatan yang digelar pada sore hari itu mengusung gerakan Butuh Bupati Baru atau BBB. Menurutnya, keberadaan Pemerintahan Jember selama ini telah banyak menyimpang dan sangat jauh dari harapan warga Jember. “Ini adalah puncak kegelisahan kami dengan kondisi pemerintahan Kabupaten Jember,” ungkapnya.

Dia menjelaskan bahwa ruwatan itu adalah tradisi leluhur dan sebagai upaya menghormati peninggalan mereka. Dia meyakini bahwa ruwatan juga menjadi upaya untuk mengajak semua pihak kembali mengingat Tuhan.

Kustiono memaparkan sejumlah persoalan Jember yang tak kunjung usai. Mulai dari hubungan DPRD yang tidak harmonis, banyaknya kepala yang berstatus pelaksana tugas (PLt), SILPA yang tiap tahun semakin meningkat, penyimpangan proyek rehabilitasi 12 pasar, dan lainnya.

RADAR JEMBER.ID – Puluhan warga yang tergabung dalam Gerakan Butuh Bupati Baru (BBB) melakukan aksi di depan Kantor Pemerintahan Kabupaten Jember, kemarin (23/8). Mereka membawa tumpeng dari hasil bumi, lalu mengarak ruwatan bumi tersebut mengelilingi Alun-Alun Jember.

Para peserta ruwatan tersebut berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, tokoh Katolik, tokoh lintas Agama, serta sejumlah pelajar dan santri. Mereka berkumpul lalu menyampaikan aspirasinya tentang perkembangan Jember.

Kustiono, koordinator lapangan (korlap) aksi mengatakan, kegiatan yang digelar pada sore hari itu mengusung gerakan Butuh Bupati Baru atau BBB. Menurutnya, keberadaan Pemerintahan Jember selama ini telah banyak menyimpang dan sangat jauh dari harapan warga Jember. “Ini adalah puncak kegelisahan kami dengan kondisi pemerintahan Kabupaten Jember,” ungkapnya.

Dia menjelaskan bahwa ruwatan itu adalah tradisi leluhur dan sebagai upaya menghormati peninggalan mereka. Dia meyakini bahwa ruwatan juga menjadi upaya untuk mengajak semua pihak kembali mengingat Tuhan.

Kustiono memaparkan sejumlah persoalan Jember yang tak kunjung usai. Mulai dari hubungan DPRD yang tidak harmonis, banyaknya kepala yang berstatus pelaksana tugas (PLt), SILPA yang tiap tahun semakin meningkat, penyimpangan proyek rehabilitasi 12 pasar, dan lainnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/