alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Nasabah Tercekik Bunga Rentenir

Publik Bertanya, OJK ke Mana?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.IDNulung tapi mentung. Demikian istilah yang sering disampaikan untuk menggambarkan keberadaan rentenir yang berkeliaran di Jember. Awalnya, mereka datang bak pahlawan untuk meminjamkan uang, tapi belakangan justru mencekik leher si peminjam. Bunganya itu, besar sekali.

Keberadaan rentenir ini didiskusikan di ruang komisi A DPRD Jember, kemarin. Pasalnya, ada sejumlah orang yang menjadi korban. “Para pelaku rentenir ini berkedok melalui berbagai lembaga keuangan. Kami datang agar Komisi A bisa membantu menumpas rentenir di Jember,” kata Bambang Irawan, salah seorang warga.

Menurut dia, modus operandi kejahatan di balik kasus ini yakni ada lembaga, tapi izin operasionalnya tidak lengkap. Ada semacam perjanjian kredit, namun di balik itu ada jebakan Batman. Terjadi peningkatan suku bunga sepihak, kelebihan uang lelang tidak diberikan, serta rekayasa lalu lintas rekening demi menghindari pajak.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, penagihan pun masih dilakukan dengan cara-cara yang tergolong kasar. Juga kerap terjadi penyitaan barang sebagai agunan. Bahkan, setelah utang dibayar pun, agunan sulit untuk diambil. “Kalau ada masalah, pengurusannya selalu diulur-ulur,” ucapnya.

Bambang menyampaikan, serangkaian dugaan praktik kejahatan yang dilakukan rentenir dengan kedok lembaga keuangan itu langsung diserahkan ke Komisi A. Baik nama-nama korban, maupun nama-nama lembaga yang berkedok rentenir tersebut.

Menanggapi pengaduan masyarakat itu, Ketua Komisi A Tabroni menyampaikan, pihaknya akan berkoordinasi dengan lembaga yang berkompeten. “Keluh kesah adanya rentenir bukan hal baru. Untuk itu, komisi A akan berkoordinasi dengan lembaga keuangan terkait,” katanya.

Tak menutup kemungkinan, lanjut Tabroni, Komisi A juga akan memanggil beberapa lembaga keuangan yang memiliki wewenang untuk menindak rentenir seperti dimaksud. “Kasus ini sangat meresahkan masyarakat. Kami berencana memanggil lembaga terkait, apa tindakan mereka selama ini,” paparnya.

 

Tergiur Kemudahan Persyaratan
Kasus rentenir berkedok lembaga keuangan ini juga menyasar masyarakat pinggiran yang tinggal di perkotaan. Biasanya adalah para ibu rumah tangga atau pemilik warung-warung kecil di pasar-pasar tradisional. Khusus konsumen kecil, biasanya dilakukan oleh lembaga keuangan mikro, baik yang berbadan hukum koperasi maupun yang dikelola oleh perorangan. Biasanya, konsumen menyebut sebagai bank titil.

Jawa Pos Radar Jember sempat mendapati bagaimana mereka bertransaksi. Mengenakan tas jinjing menyamping, salah seorang pegawai bank titil mendatangi salah satu warung di kawasan Pasar Tanjung. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan tas kecil setelah mengantongi angsuran harian dari pedagang kopi itu. Sejurus kemudian, dia beranjak pergi.

Maimunnah, sang pemilik warung, mengaku, dia terpaksa memilih bank titil karena usianya yang sudah renta, cukup kesulitan jika harus meminjam di bank atau koperasi resmi. Menurut wanita 65 tahun ini, dirinya bisa dengan mudah mendapatkan pinjaman jika melalui jasa bank keliling. “Cukup dengan fotokopi KTP,” ulasnya.

Uang yang dia pinjam juga tak pernah besar. Hanya berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Meski tergolong sedikit, uang yang dia bayarkan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan yang diterima. Bahkan jika dihitung, akumulasi bunga untuk waktu 15 hari peminjaman mencapai 32 persen. Ini angka yang dinilai tidak manusiawi. Sebab, jika dikalkulasi selama sebulan, bunganya mencapai 62 persen.

Salah seorang yang pernah menjadi pegawai bank titil, Habib Mutaqien, mengungkapkan bagaimana cara kerja bank keliling itu. Dia mengilustrasikan, jika seseorang meminjam Rp 100 ribu, yang mereka dapat hanya Rp 80 ribu. Potongan 20 persen ini untuk memenuhi syarat administrasi. “Padahal, kantor saja tidak ada. Apanya yang administrasi,” ungkapnya.

Karena yang tercatat Rp 100 ribu, maka para korban dikenai cicilan sebesar Rp 8 ribu selama 14 kali angsuran. Biasanya, angsuran itu dibayarkan setiap hari. Menurut pria yang kini berusia 26 tahun itu, cicilan itu bisa jadi dinilai sangat murah bagi peminjamnya. Namun, jika ditotal, nilainya akan mencapai Rp 112 ribu. Jika ditambahkan dengan potongan administrasi, maka selisihnya mencapai Rp 32 ribu atau 32 persen dari total pinjaman yang tercatat. Warga Desa/Kecamatan Ambulu, itu memaparkan, perhitungan tersebut juga berlaku dalam kelipatan Rp 100 ribu.

Lebih lanjut, Habib menuturkan, banyak cara dilakukan untuk merayu calon konsumennya. Mulai dari memetakan sasaran, hingga ada unsur paksaan. Misalnya, jika korban kerap melunasi cicilan sesuai tenggat, maka pihaknya bakal sengaja meminjamkan uang meski korban enggan meminjam lagi. Artinya, dengan cara semi memaksa.

Selanjutnya adalah tahu target yang dituju. Biasanya mereka menyasar orang pinggiran. Sebab, pendidikan mereka dinilai lebih rendah. Alasan lain mengapa bank titil diminati, karena skema pembayarannya terasa tidak memberatkan. “Apalagi, kencederungannya bisa memenuhi konsumen sewaktu-waktu dengan persyaratan yang sangat mudah,” tandasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.IDNulung tapi mentung. Demikian istilah yang sering disampaikan untuk menggambarkan keberadaan rentenir yang berkeliaran di Jember. Awalnya, mereka datang bak pahlawan untuk meminjamkan uang, tapi belakangan justru mencekik leher si peminjam. Bunganya itu, besar sekali.

Keberadaan rentenir ini didiskusikan di ruang komisi A DPRD Jember, kemarin. Pasalnya, ada sejumlah orang yang menjadi korban. “Para pelaku rentenir ini berkedok melalui berbagai lembaga keuangan. Kami datang agar Komisi A bisa membantu menumpas rentenir di Jember,” kata Bambang Irawan, salah seorang warga.

Menurut dia, modus operandi kejahatan di balik kasus ini yakni ada lembaga, tapi izin operasionalnya tidak lengkap. Ada semacam perjanjian kredit, namun di balik itu ada jebakan Batman. Terjadi peningkatan suku bunga sepihak, kelebihan uang lelang tidak diberikan, serta rekayasa lalu lintas rekening demi menghindari pajak.

Selain itu, penagihan pun masih dilakukan dengan cara-cara yang tergolong kasar. Juga kerap terjadi penyitaan barang sebagai agunan. Bahkan, setelah utang dibayar pun, agunan sulit untuk diambil. “Kalau ada masalah, pengurusannya selalu diulur-ulur,” ucapnya.

Bambang menyampaikan, serangkaian dugaan praktik kejahatan yang dilakukan rentenir dengan kedok lembaga keuangan itu langsung diserahkan ke Komisi A. Baik nama-nama korban, maupun nama-nama lembaga yang berkedok rentenir tersebut.

Menanggapi pengaduan masyarakat itu, Ketua Komisi A Tabroni menyampaikan, pihaknya akan berkoordinasi dengan lembaga yang berkompeten. “Keluh kesah adanya rentenir bukan hal baru. Untuk itu, komisi A akan berkoordinasi dengan lembaga keuangan terkait,” katanya.

Tak menutup kemungkinan, lanjut Tabroni, Komisi A juga akan memanggil beberapa lembaga keuangan yang memiliki wewenang untuk menindak rentenir seperti dimaksud. “Kasus ini sangat meresahkan masyarakat. Kami berencana memanggil lembaga terkait, apa tindakan mereka selama ini,” paparnya.

 

Tergiur Kemudahan Persyaratan
Kasus rentenir berkedok lembaga keuangan ini juga menyasar masyarakat pinggiran yang tinggal di perkotaan. Biasanya adalah para ibu rumah tangga atau pemilik warung-warung kecil di pasar-pasar tradisional. Khusus konsumen kecil, biasanya dilakukan oleh lembaga keuangan mikro, baik yang berbadan hukum koperasi maupun yang dikelola oleh perorangan. Biasanya, konsumen menyebut sebagai bank titil.

Jawa Pos Radar Jember sempat mendapati bagaimana mereka bertransaksi. Mengenakan tas jinjing menyamping, salah seorang pegawai bank titil mendatangi salah satu warung di kawasan Pasar Tanjung. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan tas kecil setelah mengantongi angsuran harian dari pedagang kopi itu. Sejurus kemudian, dia beranjak pergi.

Maimunnah, sang pemilik warung, mengaku, dia terpaksa memilih bank titil karena usianya yang sudah renta, cukup kesulitan jika harus meminjam di bank atau koperasi resmi. Menurut wanita 65 tahun ini, dirinya bisa dengan mudah mendapatkan pinjaman jika melalui jasa bank keliling. “Cukup dengan fotokopi KTP,” ulasnya.

Uang yang dia pinjam juga tak pernah besar. Hanya berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Meski tergolong sedikit, uang yang dia bayarkan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan yang diterima. Bahkan jika dihitung, akumulasi bunga untuk waktu 15 hari peminjaman mencapai 32 persen. Ini angka yang dinilai tidak manusiawi. Sebab, jika dikalkulasi selama sebulan, bunganya mencapai 62 persen.

Salah seorang yang pernah menjadi pegawai bank titil, Habib Mutaqien, mengungkapkan bagaimana cara kerja bank keliling itu. Dia mengilustrasikan, jika seseorang meminjam Rp 100 ribu, yang mereka dapat hanya Rp 80 ribu. Potongan 20 persen ini untuk memenuhi syarat administrasi. “Padahal, kantor saja tidak ada. Apanya yang administrasi,” ungkapnya.

Karena yang tercatat Rp 100 ribu, maka para korban dikenai cicilan sebesar Rp 8 ribu selama 14 kali angsuran. Biasanya, angsuran itu dibayarkan setiap hari. Menurut pria yang kini berusia 26 tahun itu, cicilan itu bisa jadi dinilai sangat murah bagi peminjamnya. Namun, jika ditotal, nilainya akan mencapai Rp 112 ribu. Jika ditambahkan dengan potongan administrasi, maka selisihnya mencapai Rp 32 ribu atau 32 persen dari total pinjaman yang tercatat. Warga Desa/Kecamatan Ambulu, itu memaparkan, perhitungan tersebut juga berlaku dalam kelipatan Rp 100 ribu.

Lebih lanjut, Habib menuturkan, banyak cara dilakukan untuk merayu calon konsumennya. Mulai dari memetakan sasaran, hingga ada unsur paksaan. Misalnya, jika korban kerap melunasi cicilan sesuai tenggat, maka pihaknya bakal sengaja meminjamkan uang meski korban enggan meminjam lagi. Artinya, dengan cara semi memaksa.

Selanjutnya adalah tahu target yang dituju. Biasanya mereka menyasar orang pinggiran. Sebab, pendidikan mereka dinilai lebih rendah. Alasan lain mengapa bank titil diminati, karena skema pembayarannya terasa tidak memberatkan. “Apalagi, kencederungannya bisa memenuhi konsumen sewaktu-waktu dengan persyaratan yang sangat mudah,” tandasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.IDNulung tapi mentung. Demikian istilah yang sering disampaikan untuk menggambarkan keberadaan rentenir yang berkeliaran di Jember. Awalnya, mereka datang bak pahlawan untuk meminjamkan uang, tapi belakangan justru mencekik leher si peminjam. Bunganya itu, besar sekali.

Keberadaan rentenir ini didiskusikan di ruang komisi A DPRD Jember, kemarin. Pasalnya, ada sejumlah orang yang menjadi korban. “Para pelaku rentenir ini berkedok melalui berbagai lembaga keuangan. Kami datang agar Komisi A bisa membantu menumpas rentenir di Jember,” kata Bambang Irawan, salah seorang warga.

Menurut dia, modus operandi kejahatan di balik kasus ini yakni ada lembaga, tapi izin operasionalnya tidak lengkap. Ada semacam perjanjian kredit, namun di balik itu ada jebakan Batman. Terjadi peningkatan suku bunga sepihak, kelebihan uang lelang tidak diberikan, serta rekayasa lalu lintas rekening demi menghindari pajak.

Selain itu, penagihan pun masih dilakukan dengan cara-cara yang tergolong kasar. Juga kerap terjadi penyitaan barang sebagai agunan. Bahkan, setelah utang dibayar pun, agunan sulit untuk diambil. “Kalau ada masalah, pengurusannya selalu diulur-ulur,” ucapnya.

Bambang menyampaikan, serangkaian dugaan praktik kejahatan yang dilakukan rentenir dengan kedok lembaga keuangan itu langsung diserahkan ke Komisi A. Baik nama-nama korban, maupun nama-nama lembaga yang berkedok rentenir tersebut.

Menanggapi pengaduan masyarakat itu, Ketua Komisi A Tabroni menyampaikan, pihaknya akan berkoordinasi dengan lembaga yang berkompeten. “Keluh kesah adanya rentenir bukan hal baru. Untuk itu, komisi A akan berkoordinasi dengan lembaga keuangan terkait,” katanya.

Tak menutup kemungkinan, lanjut Tabroni, Komisi A juga akan memanggil beberapa lembaga keuangan yang memiliki wewenang untuk menindak rentenir seperti dimaksud. “Kasus ini sangat meresahkan masyarakat. Kami berencana memanggil lembaga terkait, apa tindakan mereka selama ini,” paparnya.

 

Tergiur Kemudahan Persyaratan
Kasus rentenir berkedok lembaga keuangan ini juga menyasar masyarakat pinggiran yang tinggal di perkotaan. Biasanya adalah para ibu rumah tangga atau pemilik warung-warung kecil di pasar-pasar tradisional. Khusus konsumen kecil, biasanya dilakukan oleh lembaga keuangan mikro, baik yang berbadan hukum koperasi maupun yang dikelola oleh perorangan. Biasanya, konsumen menyebut sebagai bank titil.

Jawa Pos Radar Jember sempat mendapati bagaimana mereka bertransaksi. Mengenakan tas jinjing menyamping, salah seorang pegawai bank titil mendatangi salah satu warung di kawasan Pasar Tanjung. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan tas kecil setelah mengantongi angsuran harian dari pedagang kopi itu. Sejurus kemudian, dia beranjak pergi.

Maimunnah, sang pemilik warung, mengaku, dia terpaksa memilih bank titil karena usianya yang sudah renta, cukup kesulitan jika harus meminjam di bank atau koperasi resmi. Menurut wanita 65 tahun ini, dirinya bisa dengan mudah mendapatkan pinjaman jika melalui jasa bank keliling. “Cukup dengan fotokopi KTP,” ulasnya.

Uang yang dia pinjam juga tak pernah besar. Hanya berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Meski tergolong sedikit, uang yang dia bayarkan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan yang diterima. Bahkan jika dihitung, akumulasi bunga untuk waktu 15 hari peminjaman mencapai 32 persen. Ini angka yang dinilai tidak manusiawi. Sebab, jika dikalkulasi selama sebulan, bunganya mencapai 62 persen.

Salah seorang yang pernah menjadi pegawai bank titil, Habib Mutaqien, mengungkapkan bagaimana cara kerja bank keliling itu. Dia mengilustrasikan, jika seseorang meminjam Rp 100 ribu, yang mereka dapat hanya Rp 80 ribu. Potongan 20 persen ini untuk memenuhi syarat administrasi. “Padahal, kantor saja tidak ada. Apanya yang administrasi,” ungkapnya.

Karena yang tercatat Rp 100 ribu, maka para korban dikenai cicilan sebesar Rp 8 ribu selama 14 kali angsuran. Biasanya, angsuran itu dibayarkan setiap hari. Menurut pria yang kini berusia 26 tahun itu, cicilan itu bisa jadi dinilai sangat murah bagi peminjamnya. Namun, jika ditotal, nilainya akan mencapai Rp 112 ribu. Jika ditambahkan dengan potongan administrasi, maka selisihnya mencapai Rp 32 ribu atau 32 persen dari total pinjaman yang tercatat. Warga Desa/Kecamatan Ambulu, itu memaparkan, perhitungan tersebut juga berlaku dalam kelipatan Rp 100 ribu.

Lebih lanjut, Habib menuturkan, banyak cara dilakukan untuk merayu calon konsumennya. Mulai dari memetakan sasaran, hingga ada unsur paksaan. Misalnya, jika korban kerap melunasi cicilan sesuai tenggat, maka pihaknya bakal sengaja meminjamkan uang meski korban enggan meminjam lagi. Artinya, dengan cara semi memaksa.

Selanjutnya adalah tahu target yang dituju. Biasanya mereka menyasar orang pinggiran. Sebab, pendidikan mereka dinilai lebih rendah. Alasan lain mengapa bank titil diminati, karena skema pembayarannya terasa tidak memberatkan. “Apalagi, kencederungannya bisa memenuhi konsumen sewaktu-waktu dengan persyaratan yang sangat mudah,” tandasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/