alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Kejar Kesiapan Sekolah Pinggiran

Jelang Simulasi Belajar Tatap Muka

Mobile_AP_Rectangle 1

Karena para siswa sangat beragam, maka orang tua menjadi tonggak yang harus bertanggung jawab terhadap kesehatan peserta didik saat belajar di rumah. Sementara, ketika di sekolah, pihak pengelola lembaga pendidikanlah yang harus benar-benar memastikan sarana dan prasarananya telah siap. “Berbeda lagi dengan mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi. Karena mereka lebih mandiri,” ucapnya.

Warga Kelurahan Sumbersari itu menuturkan, belajar di rumah memang membawa konsekuensi terhadap mental para peserta didik. “Mereka dipaksa membagi masa belajar dan bermain di satu tempat yang sama. Sedangkan dulu, siswa punya mapping di mana bisa membedakan mana tempat belajar dan tempat mengaktualisasikan diri,” ungkapnya.

Selanjutnya, dia menegaskan, pemerintah mesti paham terkait dengan tujuan pembelajaran di masa pandemi ini. Dia berkata, kalau luring diadakan dengan situasi ini, harus tahu tujuan pembelajarannya apa. “Sudah tidak bisa lagi hanya menghabiskan satu buku pada suatu masa untuk memenuhi kompetensi belajar,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Nantinya, dia menilai, hal itu bakal memengaruhi efektivitas pembelajaran tatap muka selama pandemi. Jadi, Nurlaela menyarankan, tujuan pembelajaran harus digeser. Jangan hanya fokus pada ketentuan pemenuhan kompetensi belajar, tapi juga memperhatikan keselamatan dan kesehatan setiap peserta didik.

Di sisi lain, wacana pembelajaran tatap muka juga mendapat respons dari pendidik di Kabupaten Jember. Teguh Adi Suprapto, guru yang mengajar di Kecamatan Tempurejo, mengaku mendapatkan banyak keluhan dari para wali murid terkait perubahan sikap anak-anak mereka akibat terlalu lama belajar di rumah. “Wali murid kerap bertanya kapan diadakan pembelajaran tatap muka? Soalnya, banyak yang mengaku tak bisa mengatur anaknya di rumah,” ucap Teguh.

Dia mengungkapkan, penggunaan gawai sangat berpengaruh terhadap mental anak. Dampaknya, mulai banyak yang apatis dengan lingkungan dan cenderung suka menyendiri. “Gadget tak menjadi sarana belajar. Malah menjadi wahana bermain,” ulas warga Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, tersebut.

Jika memang pembelajaran tatap muka bakal digelar awal Maret, dia mengaku senang, juga khawatir psikologis anak-anak belum siap dan pembelajaran menjadi tidak efektif. “Soalnya, hampir setahun anak-anak ini di rumah. Jelas mereka butuh penyesuaian untuk kembali ke sekolah lagi,” terang guru Bahasa Indonesia itu.

 

Jurnalis : Dian Cahyani/Isnein Purnomo
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Karena para siswa sangat beragam, maka orang tua menjadi tonggak yang harus bertanggung jawab terhadap kesehatan peserta didik saat belajar di rumah. Sementara, ketika di sekolah, pihak pengelola lembaga pendidikanlah yang harus benar-benar memastikan sarana dan prasarananya telah siap. “Berbeda lagi dengan mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi. Karena mereka lebih mandiri,” ucapnya.

Warga Kelurahan Sumbersari itu menuturkan, belajar di rumah memang membawa konsekuensi terhadap mental para peserta didik. “Mereka dipaksa membagi masa belajar dan bermain di satu tempat yang sama. Sedangkan dulu, siswa punya mapping di mana bisa membedakan mana tempat belajar dan tempat mengaktualisasikan diri,” ungkapnya.

Selanjutnya, dia menegaskan, pemerintah mesti paham terkait dengan tujuan pembelajaran di masa pandemi ini. Dia berkata, kalau luring diadakan dengan situasi ini, harus tahu tujuan pembelajarannya apa. “Sudah tidak bisa lagi hanya menghabiskan satu buku pada suatu masa untuk memenuhi kompetensi belajar,” jelasnya.

Nantinya, dia menilai, hal itu bakal memengaruhi efektivitas pembelajaran tatap muka selama pandemi. Jadi, Nurlaela menyarankan, tujuan pembelajaran harus digeser. Jangan hanya fokus pada ketentuan pemenuhan kompetensi belajar, tapi juga memperhatikan keselamatan dan kesehatan setiap peserta didik.

Di sisi lain, wacana pembelajaran tatap muka juga mendapat respons dari pendidik di Kabupaten Jember. Teguh Adi Suprapto, guru yang mengajar di Kecamatan Tempurejo, mengaku mendapatkan banyak keluhan dari para wali murid terkait perubahan sikap anak-anak mereka akibat terlalu lama belajar di rumah. “Wali murid kerap bertanya kapan diadakan pembelajaran tatap muka? Soalnya, banyak yang mengaku tak bisa mengatur anaknya di rumah,” ucap Teguh.

Dia mengungkapkan, penggunaan gawai sangat berpengaruh terhadap mental anak. Dampaknya, mulai banyak yang apatis dengan lingkungan dan cenderung suka menyendiri. “Gadget tak menjadi sarana belajar. Malah menjadi wahana bermain,” ulas warga Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, tersebut.

Jika memang pembelajaran tatap muka bakal digelar awal Maret, dia mengaku senang, juga khawatir psikologis anak-anak belum siap dan pembelajaran menjadi tidak efektif. “Soalnya, hampir setahun anak-anak ini di rumah. Jelas mereka butuh penyesuaian untuk kembali ke sekolah lagi,” terang guru Bahasa Indonesia itu.

 

Jurnalis : Dian Cahyani/Isnein Purnomo
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih

Karena para siswa sangat beragam, maka orang tua menjadi tonggak yang harus bertanggung jawab terhadap kesehatan peserta didik saat belajar di rumah. Sementara, ketika di sekolah, pihak pengelola lembaga pendidikanlah yang harus benar-benar memastikan sarana dan prasarananya telah siap. “Berbeda lagi dengan mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi. Karena mereka lebih mandiri,” ucapnya.

Warga Kelurahan Sumbersari itu menuturkan, belajar di rumah memang membawa konsekuensi terhadap mental para peserta didik. “Mereka dipaksa membagi masa belajar dan bermain di satu tempat yang sama. Sedangkan dulu, siswa punya mapping di mana bisa membedakan mana tempat belajar dan tempat mengaktualisasikan diri,” ungkapnya.

Selanjutnya, dia menegaskan, pemerintah mesti paham terkait dengan tujuan pembelajaran di masa pandemi ini. Dia berkata, kalau luring diadakan dengan situasi ini, harus tahu tujuan pembelajarannya apa. “Sudah tidak bisa lagi hanya menghabiskan satu buku pada suatu masa untuk memenuhi kompetensi belajar,” jelasnya.

Nantinya, dia menilai, hal itu bakal memengaruhi efektivitas pembelajaran tatap muka selama pandemi. Jadi, Nurlaela menyarankan, tujuan pembelajaran harus digeser. Jangan hanya fokus pada ketentuan pemenuhan kompetensi belajar, tapi juga memperhatikan keselamatan dan kesehatan setiap peserta didik.

Di sisi lain, wacana pembelajaran tatap muka juga mendapat respons dari pendidik di Kabupaten Jember. Teguh Adi Suprapto, guru yang mengajar di Kecamatan Tempurejo, mengaku mendapatkan banyak keluhan dari para wali murid terkait perubahan sikap anak-anak mereka akibat terlalu lama belajar di rumah. “Wali murid kerap bertanya kapan diadakan pembelajaran tatap muka? Soalnya, banyak yang mengaku tak bisa mengatur anaknya di rumah,” ucap Teguh.

Dia mengungkapkan, penggunaan gawai sangat berpengaruh terhadap mental anak. Dampaknya, mulai banyak yang apatis dengan lingkungan dan cenderung suka menyendiri. “Gadget tak menjadi sarana belajar. Malah menjadi wahana bermain,” ulas warga Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, tersebut.

Jika memang pembelajaran tatap muka bakal digelar awal Maret, dia mengaku senang, juga khawatir psikologis anak-anak belum siap dan pembelajaran menjadi tidak efektif. “Soalnya, hampir setahun anak-anak ini di rumah. Jelas mereka butuh penyesuaian untuk kembali ke sekolah lagi,” terang guru Bahasa Indonesia itu.

 

Jurnalis : Dian Cahyani/Isnein Purnomo
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/