alexametrics
26.5 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Banyak Yang Percaya Meski Kebenaran Masih Simpang Siur

Keyakinan bahwa daging hewan yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit mucul di masyarakat. Di antaranya, daging kera dan biawak untuk menyembuhkan penyakit gatal. Lalu, bagaimana dengan daging kelelawar alias kalong? Terlebih, daging tersebut dikait-kaitkan menjadi salah satu faktor adanya wabah korona.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berburu merupakan salah satu olahraga yang digemari beberapa orang di Kabupaten Jember. Selain untuk perlombaan, senapan angin biasanya digunakan untuk membasmi hama sawah seperti tikus.

Namun, ada juga yang menggunakan aktivitas tersebut menjadi lahan menolong orang lain. Misalnya, berburu kalong sebagai obat untuk penderita sesak napas. Selain banyak yang tak memiliki senapan angin, banyak yang tak bisa menggunakan peralatan berburu itu.

“Biasanya, para pemburu berkelompok saat berburu kalong,” tutur Mahfud Palgunadi. Warga Dusun Krajan Barat tersebut mengaku kewalahan jika berburu sendirian. Sebab, dia berburu pada malam hari. Beberapa orang bertugas untuk membidik mangsa, sisanya bertugas menjatuhkan kalong yang berada di ranting pohon setelah terbunuh dengan beberapa tembakan. Mereka biasanya menggunakan galah berukuran panjang.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Waktu saya masih aktif berburu beberapa tahun lalu, banyak yang minta daging kalong. Untuk obat sesak napas,” ungkapnya. Dia mengaku bahwa banyak orang yang percaya dengan hal itu. Meski demikian, kebenarannya masih simpang siur. “Ada yang bilang dimakan ginjalnya. Ada yang bilang empedunya,” imbuhnya.

Mahfud menuturkan bahwa dampaknya pun bermacam-macam. “Ada yang makan sekali langsung sembuh,” ujarnya  Ada juga yang kerap mengonsumsi daging kalong, tapi tak ada perubahan. Dia menambahkan bahwa tingkat kekebalan tubuh dan kepercayaan menjadi alasan. “Semakin besar keyakinannya, juga semakin cepat kesembuhannya,” sambungnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berburu merupakan salah satu olahraga yang digemari beberapa orang di Kabupaten Jember. Selain untuk perlombaan, senapan angin biasanya digunakan untuk membasmi hama sawah seperti tikus.

Namun, ada juga yang menggunakan aktivitas tersebut menjadi lahan menolong orang lain. Misalnya, berburu kalong sebagai obat untuk penderita sesak napas. Selain banyak yang tak memiliki senapan angin, banyak yang tak bisa menggunakan peralatan berburu itu.

“Biasanya, para pemburu berkelompok saat berburu kalong,” tutur Mahfud Palgunadi. Warga Dusun Krajan Barat tersebut mengaku kewalahan jika berburu sendirian. Sebab, dia berburu pada malam hari. Beberapa orang bertugas untuk membidik mangsa, sisanya bertugas menjatuhkan kalong yang berada di ranting pohon setelah terbunuh dengan beberapa tembakan. Mereka biasanya menggunakan galah berukuran panjang.

“Waktu saya masih aktif berburu beberapa tahun lalu, banyak yang minta daging kalong. Untuk obat sesak napas,” ungkapnya. Dia mengaku bahwa banyak orang yang percaya dengan hal itu. Meski demikian, kebenarannya masih simpang siur. “Ada yang bilang dimakan ginjalnya. Ada yang bilang empedunya,” imbuhnya.

Mahfud menuturkan bahwa dampaknya pun bermacam-macam. “Ada yang makan sekali langsung sembuh,” ujarnya  Ada juga yang kerap mengonsumsi daging kalong, tapi tak ada perubahan. Dia menambahkan bahwa tingkat kekebalan tubuh dan kepercayaan menjadi alasan. “Semakin besar keyakinannya, juga semakin cepat kesembuhannya,” sambungnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berburu merupakan salah satu olahraga yang digemari beberapa orang di Kabupaten Jember. Selain untuk perlombaan, senapan angin biasanya digunakan untuk membasmi hama sawah seperti tikus.

Namun, ada juga yang menggunakan aktivitas tersebut menjadi lahan menolong orang lain. Misalnya, berburu kalong sebagai obat untuk penderita sesak napas. Selain banyak yang tak memiliki senapan angin, banyak yang tak bisa menggunakan peralatan berburu itu.

“Biasanya, para pemburu berkelompok saat berburu kalong,” tutur Mahfud Palgunadi. Warga Dusun Krajan Barat tersebut mengaku kewalahan jika berburu sendirian. Sebab, dia berburu pada malam hari. Beberapa orang bertugas untuk membidik mangsa, sisanya bertugas menjatuhkan kalong yang berada di ranting pohon setelah terbunuh dengan beberapa tembakan. Mereka biasanya menggunakan galah berukuran panjang.

“Waktu saya masih aktif berburu beberapa tahun lalu, banyak yang minta daging kalong. Untuk obat sesak napas,” ungkapnya. Dia mengaku bahwa banyak orang yang percaya dengan hal itu. Meski demikian, kebenarannya masih simpang siur. “Ada yang bilang dimakan ginjalnya. Ada yang bilang empedunya,” imbuhnya.

Mahfud menuturkan bahwa dampaknya pun bermacam-macam. “Ada yang makan sekali langsung sembuh,” ujarnya  Ada juga yang kerap mengonsumsi daging kalong, tapi tak ada perubahan. Dia menambahkan bahwa tingkat kekebalan tubuh dan kepercayaan menjadi alasan. “Semakin besar keyakinannya, juga semakin cepat kesembuhannya,” sambungnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/