alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

Kesenian yang Dirindukan Masyarakat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.IDSEJATINYA di Jember, eksistensi wayang kulit sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Hal ini diterangkan oleh Ki Sudjito, salah seorang dalang yang hingga kini masih aktif di Jember.

Kali pertama masuk Jember, dia sudah belajar menekuni bakat dalangnya dengan berguru pada salah satu dalang asal Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, yang bernama Ki Sunoko. “Nah, pada 1981, saya mulai pentas malam,” imbuhnya.

Estafet api pertunjukan wayang di Jember pun terus berlangsung hingga sekarang. Menurut warga Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, itu, penduduk Jember sangat gemar menyaksikan wayang kala itu. “Mulai awal pertunjukan hingga pementasan berakhir, penonton masih antusias menyaksikan. Apalagi pas goro-goro,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Goro-goro merupakan babak dalam pergelaran wayang yang biasanya ditandai dengan kemunculan para punakawan. Isinya merupakan petuah atau pitutur, atau wejangan yang diselingi kisah humor segar oleh para punakawan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.IDSEJATINYA di Jember, eksistensi wayang kulit sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Hal ini diterangkan oleh Ki Sudjito, salah seorang dalang yang hingga kini masih aktif di Jember.

Kali pertama masuk Jember, dia sudah belajar menekuni bakat dalangnya dengan berguru pada salah satu dalang asal Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, yang bernama Ki Sunoko. “Nah, pada 1981, saya mulai pentas malam,” imbuhnya.

Estafet api pertunjukan wayang di Jember pun terus berlangsung hingga sekarang. Menurut warga Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, itu, penduduk Jember sangat gemar menyaksikan wayang kala itu. “Mulai awal pertunjukan hingga pementasan berakhir, penonton masih antusias menyaksikan. Apalagi pas goro-goro,” lanjutnya.

Goro-goro merupakan babak dalam pergelaran wayang yang biasanya ditandai dengan kemunculan para punakawan. Isinya merupakan petuah atau pitutur, atau wejangan yang diselingi kisah humor segar oleh para punakawan.

JEMBER, RADARJEMBER.IDSEJATINYA di Jember, eksistensi wayang kulit sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Hal ini diterangkan oleh Ki Sudjito, salah seorang dalang yang hingga kini masih aktif di Jember.

Kali pertama masuk Jember, dia sudah belajar menekuni bakat dalangnya dengan berguru pada salah satu dalang asal Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, yang bernama Ki Sunoko. “Nah, pada 1981, saya mulai pentas malam,” imbuhnya.

Estafet api pertunjukan wayang di Jember pun terus berlangsung hingga sekarang. Menurut warga Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, itu, penduduk Jember sangat gemar menyaksikan wayang kala itu. “Mulai awal pertunjukan hingga pementasan berakhir, penonton masih antusias menyaksikan. Apalagi pas goro-goro,” lanjutnya.

Goro-goro merupakan babak dalam pergelaran wayang yang biasanya ditandai dengan kemunculan para punakawan. Isinya merupakan petuah atau pitutur, atau wejangan yang diselingi kisah humor segar oleh para punakawan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/