alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ancaman Gempa dan Potensi Tsunami di Jember

Masyarakat Jember Diminta Tetap Waspada Tsunami

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pascagempa berkekuatan 5,1 skala Richter yang mengguncang Jember, Kamis (16/12) lalu, membuat isu tsunami hangat diperbincangkan. Isu itu kian menguat tatkala Dinas Perikanan dan Kelautan Jember membagikan 600 pelampung kepada warga di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, dan di pesisir selatan Kecamatan Tempurejo.

Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Dinas Perikanan dan Kelautan Jember Tigo Dewanto menyebutkan, pihaknya tidak tahu-menahu soal kepanikan warga itu lantaran pembagian pelampung. Menurut dia, pembagian pelampung hanya upaya mitigasi bencana. “Pelampung itu untuk mitigasi bencana. Khususnya bagi pelaku usaha perikanan,” katanya, kemarin (22/12).

Penyaluran pelampung itu dinilainya program lama, tahun 2020 lalu. Namun, yang disayangkan harus didistribusikan setelah Jember diguncang gempa. Tigo berdalih, karena tahun 2020 lalu fokus penanganan Covid-19 dan penyaluran bantuan sosial (bansos). “Sekarang sudah selesai semua. Jadi, sekarang pelampung itu disalurkan di semua pesisir. Dari Kecamatan Kencong hingga Kecamatan Tempurejo,” sambung dia.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebenarnya, pemerintah terkait tidak pernah memaparkan mengenai kapan akan terjadinya tsunami tersebut. Namun, potensi terjadi tetap ada. Hal itu dibenarkan oleh Kepala Pusat Seismologi Teknik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat Rahmat Triyono, saat meninjau lokasi dampak gempa dan jalur evakuasi di pesisir Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, belum lama ini.

Menurut Rahmat, fenomena gempa berkekuatan 5,1 skala Richter itu seharusnya menimbulkan potensi kerusakan ringan, berupa keretakan dinding rumah-rumah saja. Namun, fakta di lapangan tidak demikian. Justru banyak rumah warga yang porak-poranda. “Ancaman gempa pada megathrust di selatan Jawa Timur ini ada. Skenario (kemungkinan, Red) terburuk bisa saja terjadi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Jawa Timur, termasuk di dalamnya Jember, merupakan wilayah ring of fire. Karenanya, potensi bencana yang ditimbulkan sebenarnya tidak bisa dihindari, seperti potensi gempa bumi atau lebih jauh tsunami, yang disebutnya sebagai bencana perulangan dari bencana gempa dan tsunami sebelum-sebelumnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pascagempa berkekuatan 5,1 skala Richter yang mengguncang Jember, Kamis (16/12) lalu, membuat isu tsunami hangat diperbincangkan. Isu itu kian menguat tatkala Dinas Perikanan dan Kelautan Jember membagikan 600 pelampung kepada warga di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, dan di pesisir selatan Kecamatan Tempurejo.

Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Dinas Perikanan dan Kelautan Jember Tigo Dewanto menyebutkan, pihaknya tidak tahu-menahu soal kepanikan warga itu lantaran pembagian pelampung. Menurut dia, pembagian pelampung hanya upaya mitigasi bencana. “Pelampung itu untuk mitigasi bencana. Khususnya bagi pelaku usaha perikanan,” katanya, kemarin (22/12).

Penyaluran pelampung itu dinilainya program lama, tahun 2020 lalu. Namun, yang disayangkan harus didistribusikan setelah Jember diguncang gempa. Tigo berdalih, karena tahun 2020 lalu fokus penanganan Covid-19 dan penyaluran bantuan sosial (bansos). “Sekarang sudah selesai semua. Jadi, sekarang pelampung itu disalurkan di semua pesisir. Dari Kecamatan Kencong hingga Kecamatan Tempurejo,” sambung dia.

Sebenarnya, pemerintah terkait tidak pernah memaparkan mengenai kapan akan terjadinya tsunami tersebut. Namun, potensi terjadi tetap ada. Hal itu dibenarkan oleh Kepala Pusat Seismologi Teknik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat Rahmat Triyono, saat meninjau lokasi dampak gempa dan jalur evakuasi di pesisir Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, belum lama ini.

Menurut Rahmat, fenomena gempa berkekuatan 5,1 skala Richter itu seharusnya menimbulkan potensi kerusakan ringan, berupa keretakan dinding rumah-rumah saja. Namun, fakta di lapangan tidak demikian. Justru banyak rumah warga yang porak-poranda. “Ancaman gempa pada megathrust di selatan Jawa Timur ini ada. Skenario (kemungkinan, Red) terburuk bisa saja terjadi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Jawa Timur, termasuk di dalamnya Jember, merupakan wilayah ring of fire. Karenanya, potensi bencana yang ditimbulkan sebenarnya tidak bisa dihindari, seperti potensi gempa bumi atau lebih jauh tsunami, yang disebutnya sebagai bencana perulangan dari bencana gempa dan tsunami sebelum-sebelumnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pascagempa berkekuatan 5,1 skala Richter yang mengguncang Jember, Kamis (16/12) lalu, membuat isu tsunami hangat diperbincangkan. Isu itu kian menguat tatkala Dinas Perikanan dan Kelautan Jember membagikan 600 pelampung kepada warga di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, dan di pesisir selatan Kecamatan Tempurejo.

Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Dinas Perikanan dan Kelautan Jember Tigo Dewanto menyebutkan, pihaknya tidak tahu-menahu soal kepanikan warga itu lantaran pembagian pelampung. Menurut dia, pembagian pelampung hanya upaya mitigasi bencana. “Pelampung itu untuk mitigasi bencana. Khususnya bagi pelaku usaha perikanan,” katanya, kemarin (22/12).

Penyaluran pelampung itu dinilainya program lama, tahun 2020 lalu. Namun, yang disayangkan harus didistribusikan setelah Jember diguncang gempa. Tigo berdalih, karena tahun 2020 lalu fokus penanganan Covid-19 dan penyaluran bantuan sosial (bansos). “Sekarang sudah selesai semua. Jadi, sekarang pelampung itu disalurkan di semua pesisir. Dari Kecamatan Kencong hingga Kecamatan Tempurejo,” sambung dia.

Sebenarnya, pemerintah terkait tidak pernah memaparkan mengenai kapan akan terjadinya tsunami tersebut. Namun, potensi terjadi tetap ada. Hal itu dibenarkan oleh Kepala Pusat Seismologi Teknik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat Rahmat Triyono, saat meninjau lokasi dampak gempa dan jalur evakuasi di pesisir Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, belum lama ini.

Menurut Rahmat, fenomena gempa berkekuatan 5,1 skala Richter itu seharusnya menimbulkan potensi kerusakan ringan, berupa keretakan dinding rumah-rumah saja. Namun, fakta di lapangan tidak demikian. Justru banyak rumah warga yang porak-poranda. “Ancaman gempa pada megathrust di selatan Jawa Timur ini ada. Skenario (kemungkinan, Red) terburuk bisa saja terjadi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Jawa Timur, termasuk di dalamnya Jember, merupakan wilayah ring of fire. Karenanya, potensi bencana yang ditimbulkan sebenarnya tidak bisa dihindari, seperti potensi gempa bumi atau lebih jauh tsunami, yang disebutnya sebagai bencana perulangan dari bencana gempa dan tsunami sebelum-sebelumnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/