alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Punya Tujuh Motor Listrik, Jago Modifikasi Ontel Biasa hingga Mobil Mini

Punya kendaraan serba listrik bukan hanya bisa dinikmati orang kota saja. Warga desa seperti Sasmito juga memilikinya. Prinsipnya tidak sekedar lebih hemat, tapi juga mencintai lingkungan. Dia juga dikenal sebagai ‘dokter’ kendaraan listrik yang menyembuhkan berbagai masalah moda transportasi bebas emisi tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu tidak ada angin, tidak ada hujan, dan tidak ada suara kendaraan pula. Tapi Sasmito tiba-tiba sudah ada di depan rumah kliennya. “Assalamualaikum,” ucapnya.

Dengan memakai motor listrik itulah yang membuat pergerakan Sasmito senyap tanpa suara. “Enaknya begini motor listrik, bebas suara, bebas asap, dan bebas beli bensin,” katanya.

Dia berangkat dari Tempurejo hingga ke Jenggawah dan memasuki Kota Jember, lalu nanti akan kembali lagi ke kediamannya di Desa Wonoasri, Tempurejo. Total perjalannya kira-kira 140 kilometer. Perjalanan jauh seperti itu baginya sudah biasa, tidak ada takut kehabisan baterai.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di motor listriknya yang telah dipreteli itu, dirinya juga membawa baterai cadangan. Baterai utama baterai lithium berbasis LTO yang disimpan di jok motornya. Sementara baterai cadangannya adalah baterai lithium biasa seperti baterai HP ataupun power bank yang dirangkai sedemikian rupa dan dibalut kardus aki bekas. “Kardusnya saja merek aki. Tapi dalamnya ya baterai lithium,” tuturnya sembari tertawa.

Agar jarak jelajahnya di jalan raya makin yahud, Sasmito juga menambah daya ampere motor listriknya. Dari awalnya 20 ampere, jadi 40 ampere dan bisa melaju 90 kilometer per jam. Roda bagian belakangnya juga dimodifikasi, memakai ban motor matic and max. “Biar meminimkan selip dan lainnya, ukuran ban juga disesuaikan,” jelasnya.

Nyatanya Sasmito tidak hanya memiliki satu buah motor listrik, tapi tujuh. Dua berbentuk mirip motor, sementara lima lainnya berbentuk sepeda tapi bertenaga listrik. Sepeda lipat biasa yang dipakai anaknya pun juga dibekali dengan baterai lithium. “Dulu sih pernah membuatkan orang sepeda BMX dimodif jadi sepeda listrik,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu tidak ada angin, tidak ada hujan, dan tidak ada suara kendaraan pula. Tapi Sasmito tiba-tiba sudah ada di depan rumah kliennya. “Assalamualaikum,” ucapnya.

Dengan memakai motor listrik itulah yang membuat pergerakan Sasmito senyap tanpa suara. “Enaknya begini motor listrik, bebas suara, bebas asap, dan bebas beli bensin,” katanya.

Dia berangkat dari Tempurejo hingga ke Jenggawah dan memasuki Kota Jember, lalu nanti akan kembali lagi ke kediamannya di Desa Wonoasri, Tempurejo. Total perjalannya kira-kira 140 kilometer. Perjalanan jauh seperti itu baginya sudah biasa, tidak ada takut kehabisan baterai.

Di motor listriknya yang telah dipreteli itu, dirinya juga membawa baterai cadangan. Baterai utama baterai lithium berbasis LTO yang disimpan di jok motornya. Sementara baterai cadangannya adalah baterai lithium biasa seperti baterai HP ataupun power bank yang dirangkai sedemikian rupa dan dibalut kardus aki bekas. “Kardusnya saja merek aki. Tapi dalamnya ya baterai lithium,” tuturnya sembari tertawa.

Agar jarak jelajahnya di jalan raya makin yahud, Sasmito juga menambah daya ampere motor listriknya. Dari awalnya 20 ampere, jadi 40 ampere dan bisa melaju 90 kilometer per jam. Roda bagian belakangnya juga dimodifikasi, memakai ban motor matic and max. “Biar meminimkan selip dan lainnya, ukuran ban juga disesuaikan,” jelasnya.

Nyatanya Sasmito tidak hanya memiliki satu buah motor listrik, tapi tujuh. Dua berbentuk mirip motor, sementara lima lainnya berbentuk sepeda tapi bertenaga listrik. Sepeda lipat biasa yang dipakai anaknya pun juga dibekali dengan baterai lithium. “Dulu sih pernah membuatkan orang sepeda BMX dimodif jadi sepeda listrik,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu tidak ada angin, tidak ada hujan, dan tidak ada suara kendaraan pula. Tapi Sasmito tiba-tiba sudah ada di depan rumah kliennya. “Assalamualaikum,” ucapnya.

Dengan memakai motor listrik itulah yang membuat pergerakan Sasmito senyap tanpa suara. “Enaknya begini motor listrik, bebas suara, bebas asap, dan bebas beli bensin,” katanya.

Dia berangkat dari Tempurejo hingga ke Jenggawah dan memasuki Kota Jember, lalu nanti akan kembali lagi ke kediamannya di Desa Wonoasri, Tempurejo. Total perjalannya kira-kira 140 kilometer. Perjalanan jauh seperti itu baginya sudah biasa, tidak ada takut kehabisan baterai.

Di motor listriknya yang telah dipreteli itu, dirinya juga membawa baterai cadangan. Baterai utama baterai lithium berbasis LTO yang disimpan di jok motornya. Sementara baterai cadangannya adalah baterai lithium biasa seperti baterai HP ataupun power bank yang dirangkai sedemikian rupa dan dibalut kardus aki bekas. “Kardusnya saja merek aki. Tapi dalamnya ya baterai lithium,” tuturnya sembari tertawa.

Agar jarak jelajahnya di jalan raya makin yahud, Sasmito juga menambah daya ampere motor listriknya. Dari awalnya 20 ampere, jadi 40 ampere dan bisa melaju 90 kilometer per jam. Roda bagian belakangnya juga dimodifikasi, memakai ban motor matic and max. “Biar meminimkan selip dan lainnya, ukuran ban juga disesuaikan,” jelasnya.

Nyatanya Sasmito tidak hanya memiliki satu buah motor listrik, tapi tujuh. Dua berbentuk mirip motor, sementara lima lainnya berbentuk sepeda tapi bertenaga listrik. Sepeda lipat biasa yang dipakai anaknya pun juga dibekali dengan baterai lithium. “Dulu sih pernah membuatkan orang sepeda BMX dimodif jadi sepeda listrik,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/