alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Sudah Saatnya Berdayakan Tetangga, Yuk!

Berdayakan Tetangga dan Kenalkan Potensi Desa

Mobile_AP_Rectangle 1

TAK ada yang lebih bermakna ketika bisa membantu orang lain. Begitulah perasaan yang dimiliki Retno Dwi Hastuti, seorang perempuan pemilik usaha Ketingting Batik yang sukses memberdayakan para remaja dan ibu-ibu di sekitar rumahnya. Sebagai pembatik yang juga memiliki butik, dia merasa bahwa kemajuan bisnisnya bukan hanya karena kerja kerasnya. Namun, berkat kerja sama dan dukungan dari karyawan yang merupakan tetangganya sendiri.

Awal mula menjadi perajin batik, Retno hanya menginginkan untuk menjalankan bisnis di bidang seni itu seadanya saja. Namun, di tengah perjalanan, sebagian tetangganya yang kebetulan berkumpul di depan rumahnya meminta solusi untuk bisa mendapatkan penghasilan dengan pola kerja yang santai. “Akhirnya saya ajak mereka buat belajar membatik. Siapa pun yang mau, monggo. Setelah saya bilang begitu, ibu-ibu itu senang dan mereka bersemangat,” kenangnya.

Biasanya, para pengusaha batik mengajak atau menerima karyawan yang sudah mahir bekerja demi mengembangkan bisnisnya. Namun, tidak dengan Retno. Dirinya justru mengajak calon karyawan yang belum memiliki pengalaman. Selain mendatangkan tutor dari luar guna mengadakan pelatihan bagi calon karyawan, Retno juga gigih melatih sendiri para calon pegawainya dengan sepenuh hati.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Saya openi satu-satu dan saya tidak pernah marah ke mereka. Bahkan, mereka sendiri yang merasa tidak enak kalau ada yang keliru,” ujarnya, saat dikunjungi oleh Wiwin Agustianingsih, Kabid Pemasaran Dinas Koperasi UMKM Jember, serta Nita Fenti, Kasi Promosi, beberapa waktu lalu. Meski begitu, Retno menambahkan, dirinya tetap telaten mendampingi sampai mereka benar-benar bisa.

Perlahan-lahan para karyawannya mulai lihai memproduksi batik tanpa pendampingan. Sejak saat itulah bisnis industri kreatif itu terus berkembang dan semakin besar. Ia pun mulai menyadari, kesuksesan usahanya juga berkat kerja keras dari para karyawannya.

Selain niat memberdayakan tetangga, usaha batik yang dinamai Ketingting Batik ini juga diniatkan untuk mengangkat potensi yang ada di daerah kebanggaannya. Ya, Desa Keting, Kecamatan Jombang. Sebuah wilayah yang terkenal akan kekayaan ikan ketingnya ini menjadi simbol dari usaha Batik Ketingting. Niatan tersebut bukan datang dari keinginannya. Namun, keinginan sang suami yang pada saat itu juga menjabat sebagai kepala desa.

Retno mengaku, mendiang suaminya dulu sempat berpesan agar dirinya bisa mengangkat dan memperkenalkan desa yang kaya ini. Sebab, terletak di ujung kabupaten, bersebelahan dengan Kabupaten Lumajang, sehingga dirinya juga harus berusaha agar desa yang saat itu dipimpin oleh suaminya tersebut tetap dikenal oleh masyarakat luas. “Alhamdulillah sampai sekarang dikenal sampai ke luar kota juga,” ungkapnya.

- Advertisement -

TAK ada yang lebih bermakna ketika bisa membantu orang lain. Begitulah perasaan yang dimiliki Retno Dwi Hastuti, seorang perempuan pemilik usaha Ketingting Batik yang sukses memberdayakan para remaja dan ibu-ibu di sekitar rumahnya. Sebagai pembatik yang juga memiliki butik, dia merasa bahwa kemajuan bisnisnya bukan hanya karena kerja kerasnya. Namun, berkat kerja sama dan dukungan dari karyawan yang merupakan tetangganya sendiri.

Awal mula menjadi perajin batik, Retno hanya menginginkan untuk menjalankan bisnis di bidang seni itu seadanya saja. Namun, di tengah perjalanan, sebagian tetangganya yang kebetulan berkumpul di depan rumahnya meminta solusi untuk bisa mendapatkan penghasilan dengan pola kerja yang santai. “Akhirnya saya ajak mereka buat belajar membatik. Siapa pun yang mau, monggo. Setelah saya bilang begitu, ibu-ibu itu senang dan mereka bersemangat,” kenangnya.

Biasanya, para pengusaha batik mengajak atau menerima karyawan yang sudah mahir bekerja demi mengembangkan bisnisnya. Namun, tidak dengan Retno. Dirinya justru mengajak calon karyawan yang belum memiliki pengalaman. Selain mendatangkan tutor dari luar guna mengadakan pelatihan bagi calon karyawan, Retno juga gigih melatih sendiri para calon pegawainya dengan sepenuh hati.

“Saya openi satu-satu dan saya tidak pernah marah ke mereka. Bahkan, mereka sendiri yang merasa tidak enak kalau ada yang keliru,” ujarnya, saat dikunjungi oleh Wiwin Agustianingsih, Kabid Pemasaran Dinas Koperasi UMKM Jember, serta Nita Fenti, Kasi Promosi, beberapa waktu lalu. Meski begitu, Retno menambahkan, dirinya tetap telaten mendampingi sampai mereka benar-benar bisa.

Perlahan-lahan para karyawannya mulai lihai memproduksi batik tanpa pendampingan. Sejak saat itulah bisnis industri kreatif itu terus berkembang dan semakin besar. Ia pun mulai menyadari, kesuksesan usahanya juga berkat kerja keras dari para karyawannya.

Selain niat memberdayakan tetangga, usaha batik yang dinamai Ketingting Batik ini juga diniatkan untuk mengangkat potensi yang ada di daerah kebanggaannya. Ya, Desa Keting, Kecamatan Jombang. Sebuah wilayah yang terkenal akan kekayaan ikan ketingnya ini menjadi simbol dari usaha Batik Ketingting. Niatan tersebut bukan datang dari keinginannya. Namun, keinginan sang suami yang pada saat itu juga menjabat sebagai kepala desa.

Retno mengaku, mendiang suaminya dulu sempat berpesan agar dirinya bisa mengangkat dan memperkenalkan desa yang kaya ini. Sebab, terletak di ujung kabupaten, bersebelahan dengan Kabupaten Lumajang, sehingga dirinya juga harus berusaha agar desa yang saat itu dipimpin oleh suaminya tersebut tetap dikenal oleh masyarakat luas. “Alhamdulillah sampai sekarang dikenal sampai ke luar kota juga,” ungkapnya.

TAK ada yang lebih bermakna ketika bisa membantu orang lain. Begitulah perasaan yang dimiliki Retno Dwi Hastuti, seorang perempuan pemilik usaha Ketingting Batik yang sukses memberdayakan para remaja dan ibu-ibu di sekitar rumahnya. Sebagai pembatik yang juga memiliki butik, dia merasa bahwa kemajuan bisnisnya bukan hanya karena kerja kerasnya. Namun, berkat kerja sama dan dukungan dari karyawan yang merupakan tetangganya sendiri.

Awal mula menjadi perajin batik, Retno hanya menginginkan untuk menjalankan bisnis di bidang seni itu seadanya saja. Namun, di tengah perjalanan, sebagian tetangganya yang kebetulan berkumpul di depan rumahnya meminta solusi untuk bisa mendapatkan penghasilan dengan pola kerja yang santai. “Akhirnya saya ajak mereka buat belajar membatik. Siapa pun yang mau, monggo. Setelah saya bilang begitu, ibu-ibu itu senang dan mereka bersemangat,” kenangnya.

Biasanya, para pengusaha batik mengajak atau menerima karyawan yang sudah mahir bekerja demi mengembangkan bisnisnya. Namun, tidak dengan Retno. Dirinya justru mengajak calon karyawan yang belum memiliki pengalaman. Selain mendatangkan tutor dari luar guna mengadakan pelatihan bagi calon karyawan, Retno juga gigih melatih sendiri para calon pegawainya dengan sepenuh hati.

“Saya openi satu-satu dan saya tidak pernah marah ke mereka. Bahkan, mereka sendiri yang merasa tidak enak kalau ada yang keliru,” ujarnya, saat dikunjungi oleh Wiwin Agustianingsih, Kabid Pemasaran Dinas Koperasi UMKM Jember, serta Nita Fenti, Kasi Promosi, beberapa waktu lalu. Meski begitu, Retno menambahkan, dirinya tetap telaten mendampingi sampai mereka benar-benar bisa.

Perlahan-lahan para karyawannya mulai lihai memproduksi batik tanpa pendampingan. Sejak saat itulah bisnis industri kreatif itu terus berkembang dan semakin besar. Ia pun mulai menyadari, kesuksesan usahanya juga berkat kerja keras dari para karyawannya.

Selain niat memberdayakan tetangga, usaha batik yang dinamai Ketingting Batik ini juga diniatkan untuk mengangkat potensi yang ada di daerah kebanggaannya. Ya, Desa Keting, Kecamatan Jombang. Sebuah wilayah yang terkenal akan kekayaan ikan ketingnya ini menjadi simbol dari usaha Batik Ketingting. Niatan tersebut bukan datang dari keinginannya. Namun, keinginan sang suami yang pada saat itu juga menjabat sebagai kepala desa.

Retno mengaku, mendiang suaminya dulu sempat berpesan agar dirinya bisa mengangkat dan memperkenalkan desa yang kaya ini. Sebab, terletak di ujung kabupaten, bersebelahan dengan Kabupaten Lumajang, sehingga dirinya juga harus berusaha agar desa yang saat itu dipimpin oleh suaminya tersebut tetap dikenal oleh masyarakat luas. “Alhamdulillah sampai sekarang dikenal sampai ke luar kota juga,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/