alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Butuh Waktu Panjang Pulihkan Trauma Korban

Mobile_AP_Rectangle 1

Untuk itu, Muhib menegaskan, pendampingan kepada korban sangat dibutuhkan. Pendampingan itu untuk mengembalikan kebermaknaan hidup korban. Utamanya, bagaimana meyakinkan korban bahwa apa yang menimpa dirinya adalah musibah dan semua yang terjadi bukan kesalahannya. Dengan begitu, kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada korban dapat dihindari. “Pendampingan ini juga membutuhkan proses panjang dan intensif,” ujarnya.

Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Jember tersebut menambahkan, kemungkinan baik yang muncul pada korban bisa berupa motivasi agar selanjutnya menjadi pejuang kemanusiaan, relawan pendampingan untuk anak-anak yang mengalami nasib serupa. “Itu pun jika korban berada pada lingkungan yang baik,” ucapnya.

Dalam hal itu, orang tua menjadi kunci utama yang patut disadarkan lebih dulu. Mengingat, orang tua bisa syok dan menyalahkan anaknya sebagai korban. Cara selanjutnya, menempatkan korban di tempat rehabilitasi. “Sayangnya, di Jawa Timur tempat rehabilitasi untuk korban seperti ini hanya ada di Malang. Yakni Panti Sosial Petirahan Anak (PSPA) Bima Sakti di Songgokerto, Kota Batu,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia pun berharap, ada tempat yang bisa dijadikan pusat rehabilitasi korban kekerasan seksual di Kabupaten Jember. Bisa pondok pesantren yang peduli dengan hal-hal seperti ini atau tempat lain. “Jadi, ada peran dari para tokoh agama untuk membantu menyadarkan diri korban supaya bangkit dari keterpurukan,” pungkasnya.

- Advertisement -

Untuk itu, Muhib menegaskan, pendampingan kepada korban sangat dibutuhkan. Pendampingan itu untuk mengembalikan kebermaknaan hidup korban. Utamanya, bagaimana meyakinkan korban bahwa apa yang menimpa dirinya adalah musibah dan semua yang terjadi bukan kesalahannya. Dengan begitu, kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada korban dapat dihindari. “Pendampingan ini juga membutuhkan proses panjang dan intensif,” ujarnya.

Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Jember tersebut menambahkan, kemungkinan baik yang muncul pada korban bisa berupa motivasi agar selanjutnya menjadi pejuang kemanusiaan, relawan pendampingan untuk anak-anak yang mengalami nasib serupa. “Itu pun jika korban berada pada lingkungan yang baik,” ucapnya.

Dalam hal itu, orang tua menjadi kunci utama yang patut disadarkan lebih dulu. Mengingat, orang tua bisa syok dan menyalahkan anaknya sebagai korban. Cara selanjutnya, menempatkan korban di tempat rehabilitasi. “Sayangnya, di Jawa Timur tempat rehabilitasi untuk korban seperti ini hanya ada di Malang. Yakni Panti Sosial Petirahan Anak (PSPA) Bima Sakti di Songgokerto, Kota Batu,” tuturnya.

Dia pun berharap, ada tempat yang bisa dijadikan pusat rehabilitasi korban kekerasan seksual di Kabupaten Jember. Bisa pondok pesantren yang peduli dengan hal-hal seperti ini atau tempat lain. “Jadi, ada peran dari para tokoh agama untuk membantu menyadarkan diri korban supaya bangkit dari keterpurukan,” pungkasnya.

Untuk itu, Muhib menegaskan, pendampingan kepada korban sangat dibutuhkan. Pendampingan itu untuk mengembalikan kebermaknaan hidup korban. Utamanya, bagaimana meyakinkan korban bahwa apa yang menimpa dirinya adalah musibah dan semua yang terjadi bukan kesalahannya. Dengan begitu, kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada korban dapat dihindari. “Pendampingan ini juga membutuhkan proses panjang dan intensif,” ujarnya.

Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Jember tersebut menambahkan, kemungkinan baik yang muncul pada korban bisa berupa motivasi agar selanjutnya menjadi pejuang kemanusiaan, relawan pendampingan untuk anak-anak yang mengalami nasib serupa. “Itu pun jika korban berada pada lingkungan yang baik,” ucapnya.

Dalam hal itu, orang tua menjadi kunci utama yang patut disadarkan lebih dulu. Mengingat, orang tua bisa syok dan menyalahkan anaknya sebagai korban. Cara selanjutnya, menempatkan korban di tempat rehabilitasi. “Sayangnya, di Jawa Timur tempat rehabilitasi untuk korban seperti ini hanya ada di Malang. Yakni Panti Sosial Petirahan Anak (PSPA) Bima Sakti di Songgokerto, Kota Batu,” tuturnya.

Dia pun berharap, ada tempat yang bisa dijadikan pusat rehabilitasi korban kekerasan seksual di Kabupaten Jember. Bisa pondok pesantren yang peduli dengan hal-hal seperti ini atau tempat lain. “Jadi, ada peran dari para tokoh agama untuk membantu menyadarkan diri korban supaya bangkit dari keterpurukan,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/