alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Butuh Waktu Panjang Pulihkan Trauma Korban

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Anak korban perkosaan akan mengalami trauma. Baik fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, korban harus mendapat pendampingan untuk mengembalikan kondisi kejiwaannya. Jika tidak, rasa penyesalan dan tak berharga yang dialami akan terus menghantui hingga dewasa. Ini yang dapat merusak masa depan mereka.

Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Kabupaten Jember Muhammad Muhib Alwi menjelaskan, trauma fisik korban terjadi pada daerah-daerah tubuh yang menjadi sasaran pelaku. Sementara trauma psikologis akan ada penyesalan yang sangat mendalam. Misalnya, menyesal karena berteman atau mengenal para pelaku dan kenapa bisa menjadi korban. “Juga penyesalan-penyesalan lain yang kemungkinan bisa muncul dalam diri korban,” terangnya.

Trauma psikologis selanjutnya berupa rasa tidak berharga. Korban akan merasa menjadi seseorang yang tidak berarti lagi dalam kehidupan ini. Apalagi pelakunya lebih dari satu orang. Ketidakberartian hidup tersebut, diakui Muhib, akan berakibat pada perasaan tidak bermakna dalam kehidupan korban. “Kalau sudah sampai begitu, akan muncul dua kemungkinan. Bisa buruk atau baik,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kemungkinan buruk, Muhib mengungkapkan, korban bisa jadi akan menjual diri dan terjun di dunia itu. Jika tidak, kemungkinannya akan menjadi orang yang minder, mengurung, dan menutup diri. “Jika berkepanjangan tanpa penyelesaian, korban bisa mengalami gangguan mental,” imbuh pria yang juga menjadi dosen tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Anak korban perkosaan akan mengalami trauma. Baik fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, korban harus mendapat pendampingan untuk mengembalikan kondisi kejiwaannya. Jika tidak, rasa penyesalan dan tak berharga yang dialami akan terus menghantui hingga dewasa. Ini yang dapat merusak masa depan mereka.

Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Kabupaten Jember Muhammad Muhib Alwi menjelaskan, trauma fisik korban terjadi pada daerah-daerah tubuh yang menjadi sasaran pelaku. Sementara trauma psikologis akan ada penyesalan yang sangat mendalam. Misalnya, menyesal karena berteman atau mengenal para pelaku dan kenapa bisa menjadi korban. “Juga penyesalan-penyesalan lain yang kemungkinan bisa muncul dalam diri korban,” terangnya.

Trauma psikologis selanjutnya berupa rasa tidak berharga. Korban akan merasa menjadi seseorang yang tidak berarti lagi dalam kehidupan ini. Apalagi pelakunya lebih dari satu orang. Ketidakberartian hidup tersebut, diakui Muhib, akan berakibat pada perasaan tidak bermakna dalam kehidupan korban. “Kalau sudah sampai begitu, akan muncul dua kemungkinan. Bisa buruk atau baik,” jelasnya.

Kemungkinan buruk, Muhib mengungkapkan, korban bisa jadi akan menjual diri dan terjun di dunia itu. Jika tidak, kemungkinannya akan menjadi orang yang minder, mengurung, dan menutup diri. “Jika berkepanjangan tanpa penyelesaian, korban bisa mengalami gangguan mental,” imbuh pria yang juga menjadi dosen tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Anak korban perkosaan akan mengalami trauma. Baik fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, korban harus mendapat pendampingan untuk mengembalikan kondisi kejiwaannya. Jika tidak, rasa penyesalan dan tak berharga yang dialami akan terus menghantui hingga dewasa. Ini yang dapat merusak masa depan mereka.

Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Kabupaten Jember Muhammad Muhib Alwi menjelaskan, trauma fisik korban terjadi pada daerah-daerah tubuh yang menjadi sasaran pelaku. Sementara trauma psikologis akan ada penyesalan yang sangat mendalam. Misalnya, menyesal karena berteman atau mengenal para pelaku dan kenapa bisa menjadi korban. “Juga penyesalan-penyesalan lain yang kemungkinan bisa muncul dalam diri korban,” terangnya.

Trauma psikologis selanjutnya berupa rasa tidak berharga. Korban akan merasa menjadi seseorang yang tidak berarti lagi dalam kehidupan ini. Apalagi pelakunya lebih dari satu orang. Ketidakberartian hidup tersebut, diakui Muhib, akan berakibat pada perasaan tidak bermakna dalam kehidupan korban. “Kalau sudah sampai begitu, akan muncul dua kemungkinan. Bisa buruk atau baik,” jelasnya.

Kemungkinan buruk, Muhib mengungkapkan, korban bisa jadi akan menjual diri dan terjun di dunia itu. Jika tidak, kemungkinannya akan menjadi orang yang minder, mengurung, dan menutup diri. “Jika berkepanjangan tanpa penyelesaian, korban bisa mengalami gangguan mental,” imbuh pria yang juga menjadi dosen tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/