alexametrics
28 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Bisnis Kerupuk Karang Mluwo, Bertahan di Tengah Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dusun Karang Mluwo, Desa Mangli, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember sejak dulu dikenal sebagai kawasan bisnis kerupuk. Hal ini ditandai dengan banyaknya rumah yang memasang anyaman bambu di halaman rumahnya, sebagai alat untuk menjemur kerupuk. Begitu juga dengan produknya, yang sudah sampai ke luar kota.

Namun hal itu tak bisa lagi optimal saat ini. Sejak pemerintah menganjurkan masyarakat untuk beraktivitas di rumah, bisnis kerupuk di Karang Mluwo mulai surut. Seperti yang dialami oleh Trisno, 55, salah satu pemilik pabrik kerupuk yang menjalankan bisnisnya sejak 25 tahun yang lalu.

Dia mengaku bisnisnya terancam rugi sejak Maret lalu. Pabrik yang biasanya memproduksi empat kuintal kerupuk dalam sehari, kini hanya bisa memproduksi dua kuintal saja. Bahkan, meski telah mengurangi jumlah produksi, dia juga masih harus menyimpan sisa kerupuk yang tidak laku. “Biasanya saya nggak pernah nyetok. Sekarang malah nyetok sampai dua ton,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kendati demikian, Trisno sempat meliburkan sebagian pekerja di pabriknya selama kurang lebih dua bulan. Dia tak mau jika pekerja dibayar murah karena tidak adanya pelanggan yang membeli kerupuknya. “Diliburkan itu ada empat orang. Selama kira-kira dua bulan, tapi nggak secara terus menerus. Seminggu libur, dua minggu libur, sampai kalau ditotal sekitar dua bulanan itu wes,” kata dia.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dusun Karang Mluwo, Desa Mangli, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember sejak dulu dikenal sebagai kawasan bisnis kerupuk. Hal ini ditandai dengan banyaknya rumah yang memasang anyaman bambu di halaman rumahnya, sebagai alat untuk menjemur kerupuk. Begitu juga dengan produknya, yang sudah sampai ke luar kota.

Namun hal itu tak bisa lagi optimal saat ini. Sejak pemerintah menganjurkan masyarakat untuk beraktivitas di rumah, bisnis kerupuk di Karang Mluwo mulai surut. Seperti yang dialami oleh Trisno, 55, salah satu pemilik pabrik kerupuk yang menjalankan bisnisnya sejak 25 tahun yang lalu.

Dia mengaku bisnisnya terancam rugi sejak Maret lalu. Pabrik yang biasanya memproduksi empat kuintal kerupuk dalam sehari, kini hanya bisa memproduksi dua kuintal saja. Bahkan, meski telah mengurangi jumlah produksi, dia juga masih harus menyimpan sisa kerupuk yang tidak laku. “Biasanya saya nggak pernah nyetok. Sekarang malah nyetok sampai dua ton,” ungkapnya.

Kendati demikian, Trisno sempat meliburkan sebagian pekerja di pabriknya selama kurang lebih dua bulan. Dia tak mau jika pekerja dibayar murah karena tidak adanya pelanggan yang membeli kerupuknya. “Diliburkan itu ada empat orang. Selama kira-kira dua bulan, tapi nggak secara terus menerus. Seminggu libur, dua minggu libur, sampai kalau ditotal sekitar dua bulanan itu wes,” kata dia.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dusun Karang Mluwo, Desa Mangli, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember sejak dulu dikenal sebagai kawasan bisnis kerupuk. Hal ini ditandai dengan banyaknya rumah yang memasang anyaman bambu di halaman rumahnya, sebagai alat untuk menjemur kerupuk. Begitu juga dengan produknya, yang sudah sampai ke luar kota.

Namun hal itu tak bisa lagi optimal saat ini. Sejak pemerintah menganjurkan masyarakat untuk beraktivitas di rumah, bisnis kerupuk di Karang Mluwo mulai surut. Seperti yang dialami oleh Trisno, 55, salah satu pemilik pabrik kerupuk yang menjalankan bisnisnya sejak 25 tahun yang lalu.

Dia mengaku bisnisnya terancam rugi sejak Maret lalu. Pabrik yang biasanya memproduksi empat kuintal kerupuk dalam sehari, kini hanya bisa memproduksi dua kuintal saja. Bahkan, meski telah mengurangi jumlah produksi, dia juga masih harus menyimpan sisa kerupuk yang tidak laku. “Biasanya saya nggak pernah nyetok. Sekarang malah nyetok sampai dua ton,” ungkapnya.

Kendati demikian, Trisno sempat meliburkan sebagian pekerja di pabriknya selama kurang lebih dua bulan. Dia tak mau jika pekerja dibayar murah karena tidak adanya pelanggan yang membeli kerupuknya. “Diliburkan itu ada empat orang. Selama kira-kira dua bulan, tapi nggak secara terus menerus. Seminggu libur, dua minggu libur, sampai kalau ditotal sekitar dua bulanan itu wes,” kata dia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/