alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Buang Uang demi Air, Sering Rugi, hingga Gagal Panen

Dampak buruk pengalihan irigasi terhadap pertanian patut diperhatikan. Prioritas penanganan perlu dilakukan pemerintah. Bagaimanapun, sebagian petani Puger Wetan dan Kulon adalah orang yang berpuluh-puluh tahun memiliki mata pencaharian dari sawah yang kini kering.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keriput pipi Maliki menunjukkan bahwa dirinya bukan seorang pria muda. Meski sudah tergolong lansia, namun gara-gara irigasi sawah dialihkan perusahaan, dia rela tidak bekerja untuk ikut menyampaikan aspirasi warga. Harapan kakek 73 tahun ini hanya satu. Sama dengan harapan warga lain yang sempat turun aksi. Yaitu, saluran irigasi dikembalikan lagi ke tempat semula.

Keadaan dulu, sebelum irigasi dipindah, menurutnya cukup tenang. Tetapi, sejak ada pengalihan irigasi, dampak buruk mulai dirasakan sebagian petani. Dampak tersebut adalah aliran air tidak sampai mengaliri sebagian sawah petani. Akibat nyata yang terjadi adalah kekurangan air, alias sawah-sawah banyak yang kekeringan.

Maliki menyebut, bupati, DPRD, serta perusahaan yang mengalihkan irigasi memang tidak merasakan apa yang dialami petani. Pedihnya kekeringan juga memang tidak dirasakan oleh semua petani. Hanya sebagian kecil petani di Puger Wetan, dan sebagian lagi dirasakan petani di Puger Kulon.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Sejak kecil sampai saya tua seperti ini tidak ada masalah. Masalah ini terjadi sejak irigasi sawah dipindah perusahaan. Kalau tidak dipindah, tidak mungkin kami mati-matian berjuang,” papar pria dengan empat anak dan tiga cucu tersebut.

Akibat pengalihan irigasi, petani yang terdampak harus mengeluarkan ongkos lebih demi mendapatkan air. Yaitu membiayai penyedotan air. Rata-rata untuk mengairi sawah per hektare, dibutuhkan Rp 300 ribu sekali siram.

Apabila yang ditanam adalah jagung, maka dibutuhkan setidaknya enam kali penyiraman. Uang yang dibuang demi mendapat air pun sebanyak Rp 300 ribu dikalikan enam kali penyiraman. “Itu kalau jagung. Kalau petani menanam padi, sedikitnya butuh sepuluh kali penyiraman,” ucap Maliki.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keriput pipi Maliki menunjukkan bahwa dirinya bukan seorang pria muda. Meski sudah tergolong lansia, namun gara-gara irigasi sawah dialihkan perusahaan, dia rela tidak bekerja untuk ikut menyampaikan aspirasi warga. Harapan kakek 73 tahun ini hanya satu. Sama dengan harapan warga lain yang sempat turun aksi. Yaitu, saluran irigasi dikembalikan lagi ke tempat semula.

Keadaan dulu, sebelum irigasi dipindah, menurutnya cukup tenang. Tetapi, sejak ada pengalihan irigasi, dampak buruk mulai dirasakan sebagian petani. Dampak tersebut adalah aliran air tidak sampai mengaliri sebagian sawah petani. Akibat nyata yang terjadi adalah kekurangan air, alias sawah-sawah banyak yang kekeringan.

Maliki menyebut, bupati, DPRD, serta perusahaan yang mengalihkan irigasi memang tidak merasakan apa yang dialami petani. Pedihnya kekeringan juga memang tidak dirasakan oleh semua petani. Hanya sebagian kecil petani di Puger Wetan, dan sebagian lagi dirasakan petani di Puger Kulon.

“Sejak kecil sampai saya tua seperti ini tidak ada masalah. Masalah ini terjadi sejak irigasi sawah dipindah perusahaan. Kalau tidak dipindah, tidak mungkin kami mati-matian berjuang,” papar pria dengan empat anak dan tiga cucu tersebut.

Akibat pengalihan irigasi, petani yang terdampak harus mengeluarkan ongkos lebih demi mendapatkan air. Yaitu membiayai penyedotan air. Rata-rata untuk mengairi sawah per hektare, dibutuhkan Rp 300 ribu sekali siram.

Apabila yang ditanam adalah jagung, maka dibutuhkan setidaknya enam kali penyiraman. Uang yang dibuang demi mendapat air pun sebanyak Rp 300 ribu dikalikan enam kali penyiraman. “Itu kalau jagung. Kalau petani menanam padi, sedikitnya butuh sepuluh kali penyiraman,” ucap Maliki.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keriput pipi Maliki menunjukkan bahwa dirinya bukan seorang pria muda. Meski sudah tergolong lansia, namun gara-gara irigasi sawah dialihkan perusahaan, dia rela tidak bekerja untuk ikut menyampaikan aspirasi warga. Harapan kakek 73 tahun ini hanya satu. Sama dengan harapan warga lain yang sempat turun aksi. Yaitu, saluran irigasi dikembalikan lagi ke tempat semula.

Keadaan dulu, sebelum irigasi dipindah, menurutnya cukup tenang. Tetapi, sejak ada pengalihan irigasi, dampak buruk mulai dirasakan sebagian petani. Dampak tersebut adalah aliran air tidak sampai mengaliri sebagian sawah petani. Akibat nyata yang terjadi adalah kekurangan air, alias sawah-sawah banyak yang kekeringan.

Maliki menyebut, bupati, DPRD, serta perusahaan yang mengalihkan irigasi memang tidak merasakan apa yang dialami petani. Pedihnya kekeringan juga memang tidak dirasakan oleh semua petani. Hanya sebagian kecil petani di Puger Wetan, dan sebagian lagi dirasakan petani di Puger Kulon.

“Sejak kecil sampai saya tua seperti ini tidak ada masalah. Masalah ini terjadi sejak irigasi sawah dipindah perusahaan. Kalau tidak dipindah, tidak mungkin kami mati-matian berjuang,” papar pria dengan empat anak dan tiga cucu tersebut.

Akibat pengalihan irigasi, petani yang terdampak harus mengeluarkan ongkos lebih demi mendapatkan air. Yaitu membiayai penyedotan air. Rata-rata untuk mengairi sawah per hektare, dibutuhkan Rp 300 ribu sekali siram.

Apabila yang ditanam adalah jagung, maka dibutuhkan setidaknya enam kali penyiraman. Uang yang dibuang demi mendapat air pun sebanyak Rp 300 ribu dikalikan enam kali penyiraman. “Itu kalau jagung. Kalau petani menanam padi, sedikitnya butuh sepuluh kali penyiraman,” ucap Maliki.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/