alexametrics
23.2 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Potensi Kopi Jember, Pemerintah Harus Berani Branding Ini

Seberapa Besar Kemauan Pemerintah Daerah Memanfaatkan Potensi Kopi di Jember ?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MELIMPAHNYA potensi kopi di Jember tak bisa dipandang sebelah mata. Tak hanya potensial, hampir seluruh fasilitas maupun stakeholder yang membidangi pun sudah genap. Hanya, selama ini petani kopi masih dibiarkan berjalan sendiri menghadapi pasar. Padahal mereka berharap pemerintah hadir dan memberikan perlindungan.

“Jadi, tidak heran kalau petani sering mengeluh, harga kopi murah, ongkos produksi dan harga jual tak sebanding. Itu sebenarnya adalah akibat,” kata Imam Bukhori, founder Barokah Ibrahimi Kopi Lereng Argopuro (Bikla) di Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari.

Menurut Imam, seharusnya pemerintah ikut hadir dalam perputaran kopi. Sebab, hal itu bisa membantu mengatrol perekonomian masyarakat. Ia juga menyebut, ada puluhan ribu hektare lahan kopi milik warga Jember, selain lahan kopi yang dikelola oleh perusahaan milik pemerintah daerah. Dari jumlah itu, rata-rata petaninya menjual kopinya setengah jadi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Alasan kebanyakan petani kopi menjual setengah jadi karena mereka tidak memiliki brand penjualan kopi yang telah diproses. Karenanya, saat kopi dijual ke tengkulak atau ke luar daerah, dan ketika masyarakat mengonsumsi kopi kemasan, harganya sudah melangit. “Seharusnya kita branding dan produk itu juga kita kuasai. Nanti bakal ada nilai ekonomi lebih yang bisa didapatkan,” sebutnya.

Karena itu, lanjut Imam, selama melakukan kemitraan dengan petani-petani kopi di sekitar wilayahnya, Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari, pihaknya memiliki tiga brand kopi yang digagasnya sendiri bersama pihak ketiga. “Brand dan kemitraan ini sangat diperlukan untuk menjaga kualitas, juga menjaga agar harga tidak dipermainkan,” imbuh pria yang juga Pengasuh Pesantren Ihyaussunnah Tugusari, Bangsalsari, ini.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki)  Jawa Timur Misbachul Khoiri Ali juga menjelaskan serupa. Menurutnya, selama ini, Jember memang terkenal dengan komoditas kopi jenis robusta. Dalam setahun saja, bisa menghasilkan sampai 95 persen atau setara 7.000 ton kopi robusta. Sementara sisanya, jenis arabika baru kisaran lima persen atau setara 200 ton setahun. “Jenis kopi robusta Jember itu tergolong terbaik, skor quality-nya mencapai 8,6 sekian,” sebutnya.

Kuantitas dan kualitas itu juga sejalan dengan kondisi topografi di Jember yang hampir setiap daerah atau kecamatan, warganya bermata pencarian sebagai petani kopi. Terlebih daerah pegunungan. Misbah juga membeberkan, keberadaan kopi sebenarnya sudah sangat strategis dan menunggu sentuhan. Semuanya hanya ada di Jember, dan belum ditemukan di daerah mana pun.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MELIMPAHNYA potensi kopi di Jember tak bisa dipandang sebelah mata. Tak hanya potensial, hampir seluruh fasilitas maupun stakeholder yang membidangi pun sudah genap. Hanya, selama ini petani kopi masih dibiarkan berjalan sendiri menghadapi pasar. Padahal mereka berharap pemerintah hadir dan memberikan perlindungan.

“Jadi, tidak heran kalau petani sering mengeluh, harga kopi murah, ongkos produksi dan harga jual tak sebanding. Itu sebenarnya adalah akibat,” kata Imam Bukhori, founder Barokah Ibrahimi Kopi Lereng Argopuro (Bikla) di Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari.

Menurut Imam, seharusnya pemerintah ikut hadir dalam perputaran kopi. Sebab, hal itu bisa membantu mengatrol perekonomian masyarakat. Ia juga menyebut, ada puluhan ribu hektare lahan kopi milik warga Jember, selain lahan kopi yang dikelola oleh perusahaan milik pemerintah daerah. Dari jumlah itu, rata-rata petaninya menjual kopinya setengah jadi.

Alasan kebanyakan petani kopi menjual setengah jadi karena mereka tidak memiliki brand penjualan kopi yang telah diproses. Karenanya, saat kopi dijual ke tengkulak atau ke luar daerah, dan ketika masyarakat mengonsumsi kopi kemasan, harganya sudah melangit. “Seharusnya kita branding dan produk itu juga kita kuasai. Nanti bakal ada nilai ekonomi lebih yang bisa didapatkan,” sebutnya.

Karena itu, lanjut Imam, selama melakukan kemitraan dengan petani-petani kopi di sekitar wilayahnya, Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari, pihaknya memiliki tiga brand kopi yang digagasnya sendiri bersama pihak ketiga. “Brand dan kemitraan ini sangat diperlukan untuk menjaga kualitas, juga menjaga agar harga tidak dipermainkan,” imbuh pria yang juga Pengasuh Pesantren Ihyaussunnah Tugusari, Bangsalsari, ini.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki)  Jawa Timur Misbachul Khoiri Ali juga menjelaskan serupa. Menurutnya, selama ini, Jember memang terkenal dengan komoditas kopi jenis robusta. Dalam setahun saja, bisa menghasilkan sampai 95 persen atau setara 7.000 ton kopi robusta. Sementara sisanya, jenis arabika baru kisaran lima persen atau setara 200 ton setahun. “Jenis kopi robusta Jember itu tergolong terbaik, skor quality-nya mencapai 8,6 sekian,” sebutnya.

Kuantitas dan kualitas itu juga sejalan dengan kondisi topografi di Jember yang hampir setiap daerah atau kecamatan, warganya bermata pencarian sebagai petani kopi. Terlebih daerah pegunungan. Misbah juga membeberkan, keberadaan kopi sebenarnya sudah sangat strategis dan menunggu sentuhan. Semuanya hanya ada di Jember, dan belum ditemukan di daerah mana pun.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MELIMPAHNYA potensi kopi di Jember tak bisa dipandang sebelah mata. Tak hanya potensial, hampir seluruh fasilitas maupun stakeholder yang membidangi pun sudah genap. Hanya, selama ini petani kopi masih dibiarkan berjalan sendiri menghadapi pasar. Padahal mereka berharap pemerintah hadir dan memberikan perlindungan.

“Jadi, tidak heran kalau petani sering mengeluh, harga kopi murah, ongkos produksi dan harga jual tak sebanding. Itu sebenarnya adalah akibat,” kata Imam Bukhori, founder Barokah Ibrahimi Kopi Lereng Argopuro (Bikla) di Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari.

Menurut Imam, seharusnya pemerintah ikut hadir dalam perputaran kopi. Sebab, hal itu bisa membantu mengatrol perekonomian masyarakat. Ia juga menyebut, ada puluhan ribu hektare lahan kopi milik warga Jember, selain lahan kopi yang dikelola oleh perusahaan milik pemerintah daerah. Dari jumlah itu, rata-rata petaninya menjual kopinya setengah jadi.

Alasan kebanyakan petani kopi menjual setengah jadi karena mereka tidak memiliki brand penjualan kopi yang telah diproses. Karenanya, saat kopi dijual ke tengkulak atau ke luar daerah, dan ketika masyarakat mengonsumsi kopi kemasan, harganya sudah melangit. “Seharusnya kita branding dan produk itu juga kita kuasai. Nanti bakal ada nilai ekonomi lebih yang bisa didapatkan,” sebutnya.

Karena itu, lanjut Imam, selama melakukan kemitraan dengan petani-petani kopi di sekitar wilayahnya, Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari, pihaknya memiliki tiga brand kopi yang digagasnya sendiri bersama pihak ketiga. “Brand dan kemitraan ini sangat diperlukan untuk menjaga kualitas, juga menjaga agar harga tidak dipermainkan,” imbuh pria yang juga Pengasuh Pesantren Ihyaussunnah Tugusari, Bangsalsari, ini.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki)  Jawa Timur Misbachul Khoiri Ali juga menjelaskan serupa. Menurutnya, selama ini, Jember memang terkenal dengan komoditas kopi jenis robusta. Dalam setahun saja, bisa menghasilkan sampai 95 persen atau setara 7.000 ton kopi robusta. Sementara sisanya, jenis arabika baru kisaran lima persen atau setara 200 ton setahun. “Jenis kopi robusta Jember itu tergolong terbaik, skor quality-nya mencapai 8,6 sekian,” sebutnya.

Kuantitas dan kualitas itu juga sejalan dengan kondisi topografi di Jember yang hampir setiap daerah atau kecamatan, warganya bermata pencarian sebagai petani kopi. Terlebih daerah pegunungan. Misbah juga membeberkan, keberadaan kopi sebenarnya sudah sangat strategis dan menunggu sentuhan. Semuanya hanya ada di Jember, dan belum ditemukan di daerah mana pun.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/