alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 12 August 2022

Petani Kopi Jember Rentan Terimbas Permainan Pasar, Ini Penjelasannya

Meneropong Nasib Petani Kopi di Jember Kian Lama Makin Tak Berdaya

Mobile_AP_Rectangle 1

Meski termasuk tanaman yang tahan penyakit, namun perawatan tanaman kopi membutuhkan waktu yang tak sebentar. Setiap bulannya, tanaman kopi perlu dilakukan pengecekan, pemupukan, pemotongan ranting, juga okulasi atau penyetekan pohon kopi. “Perawatan besarnya kami lakukan dua kali dalam setahun. Kalau panennya, butuh waktu dua sampai tiga bulan. Sekitar akhir Juli hingga September,” ujarnya.

Berbeda dengan komoditas padi, jagung, dan bahan makanan pokok lainnya, di Jember tidak ada alokasi persediaan pupuk bersubsidi khusus untuk perawatan kopi. Padahal, kata dia, jika dibandingkan dengan produksi komoditas tanaman pangan, potensi produksi kopi di Jember mampu berbaris sejajar. “Setiap daerah ditentukan jatah pupuk untuk padi atau jagung. Jika lahannya seluas sekian, maka jatahnya sekian. Sementara untuk kami, tidak pernah ada jatah pupuk. Jadi, jangan heran kalau petani di sini banyak yang pakai pupuk seadanya,” terangnya.

Bahkan, bagi petani kopi yang hanya memiliki lahan di bawah dua hektare, perawatannya lebih buruk lagi. Sebab, jika dibandingkan antara modal dengan penghasilan jauh tak seimbang. “Paling tidak, dengan lahan seluas dua hektare, itu sudah cukup menghidupi petani. Hasilnya bisa untuk modal dan juga makan sampai musim panen lagi,” papar Pendiri Pesantren Kopi itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Umumnya, lahan seluas satu hektare bisa ditanami 10 hingga 15 ribu pohon kopi. Jika dalam satu pohon kopi rata-rata dapat berbuah seberat lima kilogram, maka setidaknya petani bisa mendapatkan biji kopi sekitar 75 kuintal.

Menurut Ustad Danil, adanya problem berkepanjangan yang menimpa petani kopi bukan lagi menjadi rahasia umum. Tentunya, pemerintah lebih tahu bagaimana nasib masyarakatnya. Sebab, selain ada Badan Pusat Statistik (BPS) yang mendata berapa pendapatan dari kopi, juga ada pemerintah desa yang harusnya menyampaikan keadaan petani di lapangan ke pemerintah di atasnya.

“Mungkin ini karena tidak adanya sinergi antara masyarakat dengan pemerintah, khususnya di bidang kopi. Mulai dari sumber daya manusianya, pengetahuan tentang kopi, pengolahan dan yang lain, utamanya ruang pemasaran. Yang sekiranya petani menjadi lebih berdaya dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada,” pungkasnya.

Reporter : Dian Cahyani dan Delfi Nihayah

Fotografer : Delfi Nihayah

Editor : Mahrus Sholih

Top of Form

- Advertisement -

Meski termasuk tanaman yang tahan penyakit, namun perawatan tanaman kopi membutuhkan waktu yang tak sebentar. Setiap bulannya, tanaman kopi perlu dilakukan pengecekan, pemupukan, pemotongan ranting, juga okulasi atau penyetekan pohon kopi. “Perawatan besarnya kami lakukan dua kali dalam setahun. Kalau panennya, butuh waktu dua sampai tiga bulan. Sekitar akhir Juli hingga September,” ujarnya.

Berbeda dengan komoditas padi, jagung, dan bahan makanan pokok lainnya, di Jember tidak ada alokasi persediaan pupuk bersubsidi khusus untuk perawatan kopi. Padahal, kata dia, jika dibandingkan dengan produksi komoditas tanaman pangan, potensi produksi kopi di Jember mampu berbaris sejajar. “Setiap daerah ditentukan jatah pupuk untuk padi atau jagung. Jika lahannya seluas sekian, maka jatahnya sekian. Sementara untuk kami, tidak pernah ada jatah pupuk. Jadi, jangan heran kalau petani di sini banyak yang pakai pupuk seadanya,” terangnya.

Bahkan, bagi petani kopi yang hanya memiliki lahan di bawah dua hektare, perawatannya lebih buruk lagi. Sebab, jika dibandingkan antara modal dengan penghasilan jauh tak seimbang. “Paling tidak, dengan lahan seluas dua hektare, itu sudah cukup menghidupi petani. Hasilnya bisa untuk modal dan juga makan sampai musim panen lagi,” papar Pendiri Pesantren Kopi itu.

Umumnya, lahan seluas satu hektare bisa ditanami 10 hingga 15 ribu pohon kopi. Jika dalam satu pohon kopi rata-rata dapat berbuah seberat lima kilogram, maka setidaknya petani bisa mendapatkan biji kopi sekitar 75 kuintal.

Menurut Ustad Danil, adanya problem berkepanjangan yang menimpa petani kopi bukan lagi menjadi rahasia umum. Tentunya, pemerintah lebih tahu bagaimana nasib masyarakatnya. Sebab, selain ada Badan Pusat Statistik (BPS) yang mendata berapa pendapatan dari kopi, juga ada pemerintah desa yang harusnya menyampaikan keadaan petani di lapangan ke pemerintah di atasnya.

“Mungkin ini karena tidak adanya sinergi antara masyarakat dengan pemerintah, khususnya di bidang kopi. Mulai dari sumber daya manusianya, pengetahuan tentang kopi, pengolahan dan yang lain, utamanya ruang pemasaran. Yang sekiranya petani menjadi lebih berdaya dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada,” pungkasnya.

Reporter : Dian Cahyani dan Delfi Nihayah

Fotografer : Delfi Nihayah

Editor : Mahrus Sholih

Top of Form

Meski termasuk tanaman yang tahan penyakit, namun perawatan tanaman kopi membutuhkan waktu yang tak sebentar. Setiap bulannya, tanaman kopi perlu dilakukan pengecekan, pemupukan, pemotongan ranting, juga okulasi atau penyetekan pohon kopi. “Perawatan besarnya kami lakukan dua kali dalam setahun. Kalau panennya, butuh waktu dua sampai tiga bulan. Sekitar akhir Juli hingga September,” ujarnya.

Berbeda dengan komoditas padi, jagung, dan bahan makanan pokok lainnya, di Jember tidak ada alokasi persediaan pupuk bersubsidi khusus untuk perawatan kopi. Padahal, kata dia, jika dibandingkan dengan produksi komoditas tanaman pangan, potensi produksi kopi di Jember mampu berbaris sejajar. “Setiap daerah ditentukan jatah pupuk untuk padi atau jagung. Jika lahannya seluas sekian, maka jatahnya sekian. Sementara untuk kami, tidak pernah ada jatah pupuk. Jadi, jangan heran kalau petani di sini banyak yang pakai pupuk seadanya,” terangnya.

Bahkan, bagi petani kopi yang hanya memiliki lahan di bawah dua hektare, perawatannya lebih buruk lagi. Sebab, jika dibandingkan antara modal dengan penghasilan jauh tak seimbang. “Paling tidak, dengan lahan seluas dua hektare, itu sudah cukup menghidupi petani. Hasilnya bisa untuk modal dan juga makan sampai musim panen lagi,” papar Pendiri Pesantren Kopi itu.

Umumnya, lahan seluas satu hektare bisa ditanami 10 hingga 15 ribu pohon kopi. Jika dalam satu pohon kopi rata-rata dapat berbuah seberat lima kilogram, maka setidaknya petani bisa mendapatkan biji kopi sekitar 75 kuintal.

Menurut Ustad Danil, adanya problem berkepanjangan yang menimpa petani kopi bukan lagi menjadi rahasia umum. Tentunya, pemerintah lebih tahu bagaimana nasib masyarakatnya. Sebab, selain ada Badan Pusat Statistik (BPS) yang mendata berapa pendapatan dari kopi, juga ada pemerintah desa yang harusnya menyampaikan keadaan petani di lapangan ke pemerintah di atasnya.

“Mungkin ini karena tidak adanya sinergi antara masyarakat dengan pemerintah, khususnya di bidang kopi. Mulai dari sumber daya manusianya, pengetahuan tentang kopi, pengolahan dan yang lain, utamanya ruang pemasaran. Yang sekiranya petani menjadi lebih berdaya dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada,” pungkasnya.

Reporter : Dian Cahyani dan Delfi Nihayah

Fotografer : Delfi Nihayah

Editor : Mahrus Sholih

Top of Form

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/