alexametrics
27.6 C
Jember
Monday, 4 July 2022

Keluhan Para Petani Kopi: Produksi Tetap, Harga Jatuh

Produksi Tetap, Harga Jatuh

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SEBENARNYA dari sisi produksi, panen raya kopi saat ini tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya. Hanya harganya saja yang berbeda. Salah satu petani di Suci, Kecamatan Panti, Muhamad Fariz Ali, menyebut, tahun lalu harga kopi bisa mencapai Rp 22 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram. Tapi, sekarang turun berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu.

Fariz yang memiliki lahan 1,5 hektare ini mengaku, setiap panen yang dia peroleh bisa mencapai lima ton kopi. “Kalau di daerah Panti sekarang kopi itu melimpah. Tapi, harganya turun. Banyak kopi punya warga yang laku murah. Punya saya yang gelondong cuma Rp 5.000 per kilo,” Jelasnya.

Ia menjelaskan, kondisi panen yang menguntungkan petani terjadi tahun lalu. Tahun kemarin, kata Faiz, stok kopi kurang, sehingga permintaan gudang atau pabrikan sangat banyak. Kini, hanya beberapa gudang yang mau menerima kopi rakyat. Peluang kopi rakyat semakin tertutup karena ada beberapa gudang yang menjalin kemitraan, sehingga kebutuhan gudang cukup dipasok oleh petani mitra.  “Yang ditakuti adalah pihak gudang. Kalau gudang tutup semua kayak dua bulan lalu. Gudang sempat tutup semua. Lah, kami yang di bawah kelabakan. Panen banyak. Permintaan tidak ada,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berdasarkan pengalamannya, Faiz juga pernah mengalami kerugian. Saat itu, kopi miliknya hanya ditawar dengan harga Rp 18 ribu per kilogram. Menurutnya, ketika harga kopi hanya memiliki nilai tawar di bawah Rp 20 ribu, maka hal itu merupakan sinyal bahwa petani akan gulung tikar.

Selain itu, menurutnya, akses permodalan petani kopi yang telah diakomodasi oleh pemerintah belum berjalan optimal. Salah satu akses permodalan yang didapat petani kopi adalah kerja sama yang telah dibangun oleh pemerintah kabupaten dengan bank daerah. “Petani itu ada modal pinjaman dari bank. Kami kerja sama dengan bank untuk para petani. Karena biaya operasional kopi itu banyak,” ungkapnya lagi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SEBENARNYA dari sisi produksi, panen raya kopi saat ini tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya. Hanya harganya saja yang berbeda. Salah satu petani di Suci, Kecamatan Panti, Muhamad Fariz Ali, menyebut, tahun lalu harga kopi bisa mencapai Rp 22 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram. Tapi, sekarang turun berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu.

Fariz yang memiliki lahan 1,5 hektare ini mengaku, setiap panen yang dia peroleh bisa mencapai lima ton kopi. “Kalau di daerah Panti sekarang kopi itu melimpah. Tapi, harganya turun. Banyak kopi punya warga yang laku murah. Punya saya yang gelondong cuma Rp 5.000 per kilo,” Jelasnya.

Ia menjelaskan, kondisi panen yang menguntungkan petani terjadi tahun lalu. Tahun kemarin, kata Faiz, stok kopi kurang, sehingga permintaan gudang atau pabrikan sangat banyak. Kini, hanya beberapa gudang yang mau menerima kopi rakyat. Peluang kopi rakyat semakin tertutup karena ada beberapa gudang yang menjalin kemitraan, sehingga kebutuhan gudang cukup dipasok oleh petani mitra.  “Yang ditakuti adalah pihak gudang. Kalau gudang tutup semua kayak dua bulan lalu. Gudang sempat tutup semua. Lah, kami yang di bawah kelabakan. Panen banyak. Permintaan tidak ada,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalamannya, Faiz juga pernah mengalami kerugian. Saat itu, kopi miliknya hanya ditawar dengan harga Rp 18 ribu per kilogram. Menurutnya, ketika harga kopi hanya memiliki nilai tawar di bawah Rp 20 ribu, maka hal itu merupakan sinyal bahwa petani akan gulung tikar.

Selain itu, menurutnya, akses permodalan petani kopi yang telah diakomodasi oleh pemerintah belum berjalan optimal. Salah satu akses permodalan yang didapat petani kopi adalah kerja sama yang telah dibangun oleh pemerintah kabupaten dengan bank daerah. “Petani itu ada modal pinjaman dari bank. Kami kerja sama dengan bank untuk para petani. Karena biaya operasional kopi itu banyak,” ungkapnya lagi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SEBENARNYA dari sisi produksi, panen raya kopi saat ini tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya. Hanya harganya saja yang berbeda. Salah satu petani di Suci, Kecamatan Panti, Muhamad Fariz Ali, menyebut, tahun lalu harga kopi bisa mencapai Rp 22 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram. Tapi, sekarang turun berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu.

Fariz yang memiliki lahan 1,5 hektare ini mengaku, setiap panen yang dia peroleh bisa mencapai lima ton kopi. “Kalau di daerah Panti sekarang kopi itu melimpah. Tapi, harganya turun. Banyak kopi punya warga yang laku murah. Punya saya yang gelondong cuma Rp 5.000 per kilo,” Jelasnya.

Ia menjelaskan, kondisi panen yang menguntungkan petani terjadi tahun lalu. Tahun kemarin, kata Faiz, stok kopi kurang, sehingga permintaan gudang atau pabrikan sangat banyak. Kini, hanya beberapa gudang yang mau menerima kopi rakyat. Peluang kopi rakyat semakin tertutup karena ada beberapa gudang yang menjalin kemitraan, sehingga kebutuhan gudang cukup dipasok oleh petani mitra.  “Yang ditakuti adalah pihak gudang. Kalau gudang tutup semua kayak dua bulan lalu. Gudang sempat tutup semua. Lah, kami yang di bawah kelabakan. Panen banyak. Permintaan tidak ada,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalamannya, Faiz juga pernah mengalami kerugian. Saat itu, kopi miliknya hanya ditawar dengan harga Rp 18 ribu per kilogram. Menurutnya, ketika harga kopi hanya memiliki nilai tawar di bawah Rp 20 ribu, maka hal itu merupakan sinyal bahwa petani akan gulung tikar.

Selain itu, menurutnya, akses permodalan petani kopi yang telah diakomodasi oleh pemerintah belum berjalan optimal. Salah satu akses permodalan yang didapat petani kopi adalah kerja sama yang telah dibangun oleh pemerintah kabupaten dengan bank daerah. “Petani itu ada modal pinjaman dari bank. Kami kerja sama dengan bank untuk para petani. Karena biaya operasional kopi itu banyak,” ungkapnya lagi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/