alexametrics
24.4 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Eks Pimpinan Bank Pelat Merah di Jember Ditahan Terkait Kredit Fiktif

Mobile_AP_Rectangle 1

SURABAYA, RADARJEMBER.ID- Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, menahan tiga tersangka kredit fiktif salah satu bank pelat merah yang berkantor cabang di Jember. Kasus itu terjadi pada 2015 dengan nilai Rp 4,7 miliar.

Ketiga tersangka adalah pria berinisial MIN, 58, pimpinan bank periode 2015-2019, MY, 53, Direktur CV Mutiara Indah Jember, serta NS, 59, Komanditer CV Mutiara Indah Jember.

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, Rabu (22/6) siang, Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejaksaan Tinggi Jatim Fathur Rohman mengatakan, dalam memuluskan niatnya, dua tersangka dari pihak swasta itu, MY dan NS, bekerjasama dengan pimpinan bank MIN.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Korupsi Pasar Tunggu Keputusan MA

Mulanya diajukan kredit dengan pola Keppres kepada bank pelat merah tersebut senilai Rp 2,2 miliar dengan jaminan proyek fiktif. Kemudian, masih di tahun yang sama, menerima penambahan plafon kredit modal kerja Keppres dengan modus serupa. “Semula Rp 2,2 miliar, seluruhnya menjadi Rp 4,7 miliar,” kata Fathur.

Sampai dengan jangka waktu pinjaman berakhir, lanjut Fathur, CV Mutiara Indah tidak pernah mengangsur maupun membayar untuk melunasi pinjaman sejumlah Rp 4,7 miliar tersebut, berikut beserta bunga pinjaman. “Sampai saat proses penyidikan ini dilakukan, (kredit itu) dinyatakan macet,” imbuh Fathur.

- Advertisement -

SURABAYA, RADARJEMBER.ID- Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, menahan tiga tersangka kredit fiktif salah satu bank pelat merah yang berkantor cabang di Jember. Kasus itu terjadi pada 2015 dengan nilai Rp 4,7 miliar.

Ketiga tersangka adalah pria berinisial MIN, 58, pimpinan bank periode 2015-2019, MY, 53, Direktur CV Mutiara Indah Jember, serta NS, 59, Komanditer CV Mutiara Indah Jember.

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, Rabu (22/6) siang, Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejaksaan Tinggi Jatim Fathur Rohman mengatakan, dalam memuluskan niatnya, dua tersangka dari pihak swasta itu, MY dan NS, bekerjasama dengan pimpinan bank MIN.

BACA JUGA: Korupsi Pasar Tunggu Keputusan MA

Mulanya diajukan kredit dengan pola Keppres kepada bank pelat merah tersebut senilai Rp 2,2 miliar dengan jaminan proyek fiktif. Kemudian, masih di tahun yang sama, menerima penambahan plafon kredit modal kerja Keppres dengan modus serupa. “Semula Rp 2,2 miliar, seluruhnya menjadi Rp 4,7 miliar,” kata Fathur.

Sampai dengan jangka waktu pinjaman berakhir, lanjut Fathur, CV Mutiara Indah tidak pernah mengangsur maupun membayar untuk melunasi pinjaman sejumlah Rp 4,7 miliar tersebut, berikut beserta bunga pinjaman. “Sampai saat proses penyidikan ini dilakukan, (kredit itu) dinyatakan macet,” imbuh Fathur.

SURABAYA, RADARJEMBER.ID- Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, menahan tiga tersangka kredit fiktif salah satu bank pelat merah yang berkantor cabang di Jember. Kasus itu terjadi pada 2015 dengan nilai Rp 4,7 miliar.

Ketiga tersangka adalah pria berinisial MIN, 58, pimpinan bank periode 2015-2019, MY, 53, Direktur CV Mutiara Indah Jember, serta NS, 59, Komanditer CV Mutiara Indah Jember.

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, Rabu (22/6) siang, Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejaksaan Tinggi Jatim Fathur Rohman mengatakan, dalam memuluskan niatnya, dua tersangka dari pihak swasta itu, MY dan NS, bekerjasama dengan pimpinan bank MIN.

BACA JUGA: Korupsi Pasar Tunggu Keputusan MA

Mulanya diajukan kredit dengan pola Keppres kepada bank pelat merah tersebut senilai Rp 2,2 miliar dengan jaminan proyek fiktif. Kemudian, masih di tahun yang sama, menerima penambahan plafon kredit modal kerja Keppres dengan modus serupa. “Semula Rp 2,2 miliar, seluruhnya menjadi Rp 4,7 miliar,” kata Fathur.

Sampai dengan jangka waktu pinjaman berakhir, lanjut Fathur, CV Mutiara Indah tidak pernah mengangsur maupun membayar untuk melunasi pinjaman sejumlah Rp 4,7 miliar tersebut, berikut beserta bunga pinjaman. “Sampai saat proses penyidikan ini dilakukan, (kredit itu) dinyatakan macet,” imbuh Fathur.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/