alexametrics
22 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Era Digital, Mau Tidak Mau Ikuti Zaman

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kecemburuan akan pengaturan transportasi konvensional dan daring bukan saja terjadi di kota besar seperti Jakarta. Hal itu juga merambah ke daerah-daerah, salah satunya Jember.  Transportasi konvensional seperti lin semakin tertekan begitu ada transportasi daring.

BACA JUGA : Konvensional Terkontrol, Online Tidak!

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jember Agus Wijaya menganggap tidak perlu adanya gesekan antara transportasi konvensional dengan angkutan daring. “Semua tergantung dari diri masing-masing. Terlebih, kami tidak bisa menolak perkembangan zaman,” ujarnya, (19/5) kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat ini masuk pada era Revolusi Industri 4.0, era serba digital dalam segala hal. Bidang transformasi juga serba daring. Tidak ada lagi yang dinamakan susah dan sulit, karena teknologi menawarkan fasilitas yang serba mudah dan memungkinkan. “Kini kita sudah masuk era digital, ya mau tidak mau kita harus mengikuti zaman,” kata Agus.

Baginya, pemerintah hanya sebagai regulator. Dengan adanya transportasi konvensional dan daring yang ingin terus menunjukkan eksistensinya, maka harus mengubah jasa pelayanan. “Kalau mereka masih mempertahankan model lama, ya tidak lama mereka akan terdepak,” jelasnya.

Menurut Agus, pada tahun 80-an ada sekitar 400-an lebih kendaraan konvensional yang beroperasi. Namun, seiring berjalannya waktu, terdapat sekitar 150-an lebih yang saat ini bertahan. Tentu hal tersebut merupakan persaingan transportasi. Akan tetapi, semua akan kembali pada pengguna jasa, yakni masyarakat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kecemburuan akan pengaturan transportasi konvensional dan daring bukan saja terjadi di kota besar seperti Jakarta. Hal itu juga merambah ke daerah-daerah, salah satunya Jember.  Transportasi konvensional seperti lin semakin tertekan begitu ada transportasi daring.

BACA JUGA : Konvensional Terkontrol, Online Tidak!

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jember Agus Wijaya menganggap tidak perlu adanya gesekan antara transportasi konvensional dengan angkutan daring. “Semua tergantung dari diri masing-masing. Terlebih, kami tidak bisa menolak perkembangan zaman,” ujarnya, (19/5) kemarin.

Saat ini masuk pada era Revolusi Industri 4.0, era serba digital dalam segala hal. Bidang transformasi juga serba daring. Tidak ada lagi yang dinamakan susah dan sulit, karena teknologi menawarkan fasilitas yang serba mudah dan memungkinkan. “Kini kita sudah masuk era digital, ya mau tidak mau kita harus mengikuti zaman,” kata Agus.

Baginya, pemerintah hanya sebagai regulator. Dengan adanya transportasi konvensional dan daring yang ingin terus menunjukkan eksistensinya, maka harus mengubah jasa pelayanan. “Kalau mereka masih mempertahankan model lama, ya tidak lama mereka akan terdepak,” jelasnya.

Menurut Agus, pada tahun 80-an ada sekitar 400-an lebih kendaraan konvensional yang beroperasi. Namun, seiring berjalannya waktu, terdapat sekitar 150-an lebih yang saat ini bertahan. Tentu hal tersebut merupakan persaingan transportasi. Akan tetapi, semua akan kembali pada pengguna jasa, yakni masyarakat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kecemburuan akan pengaturan transportasi konvensional dan daring bukan saja terjadi di kota besar seperti Jakarta. Hal itu juga merambah ke daerah-daerah, salah satunya Jember.  Transportasi konvensional seperti lin semakin tertekan begitu ada transportasi daring.

BACA JUGA : Konvensional Terkontrol, Online Tidak!

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jember Agus Wijaya menganggap tidak perlu adanya gesekan antara transportasi konvensional dengan angkutan daring. “Semua tergantung dari diri masing-masing. Terlebih, kami tidak bisa menolak perkembangan zaman,” ujarnya, (19/5) kemarin.

Saat ini masuk pada era Revolusi Industri 4.0, era serba digital dalam segala hal. Bidang transformasi juga serba daring. Tidak ada lagi yang dinamakan susah dan sulit, karena teknologi menawarkan fasilitas yang serba mudah dan memungkinkan. “Kini kita sudah masuk era digital, ya mau tidak mau kita harus mengikuti zaman,” kata Agus.

Baginya, pemerintah hanya sebagai regulator. Dengan adanya transportasi konvensional dan daring yang ingin terus menunjukkan eksistensinya, maka harus mengubah jasa pelayanan. “Kalau mereka masih mempertahankan model lama, ya tidak lama mereka akan terdepak,” jelasnya.

Menurut Agus, pada tahun 80-an ada sekitar 400-an lebih kendaraan konvensional yang beroperasi. Namun, seiring berjalannya waktu, terdapat sekitar 150-an lebih yang saat ini bertahan. Tentu hal tersebut merupakan persaingan transportasi. Akan tetapi, semua akan kembali pada pengguna jasa, yakni masyarakat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/