alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Cerita Syaiful, 20 Tahun Menjadi Sopir Lin

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemajuan teknologi rupanya bisa menjadi kabar buruk bagi pekerja konvensional. Ini karena banyak terjadi pergeseran keadaan bahkan penghasilan. Salah satunya adalah sopir lin kuning yang beroperasi di Jember.

Hidup harus tetap berjalan. Sama halnya dengan lin trayek Arjasa–Tawang Alun yang dikemudikan oleh Muhammad Saiful. Sebagai sopir yang sudah mengaspal selama 20 tahun, sepertinya lin sudah melekat di kesehariannya. Menjadi satu-satunya pintu mencari nafkah untuk keluarga.

Setiap hari, Saiful menarik lin dari pukul 17.00 hingga tengah malam. Bergantian dengan saudaranya. Dia mengungkapkan bahwa penumpang lin terus mengalami penurunan. “Bisa sampai 60 persen,” timpalnya, sambil membersihkan lin kuningnya di Terminal Arjasa, Sabtu (21/5).

Mobile_AP_Rectangle 2

Dulu ketika belum ada angkutan daring, tambahnya, setoran yang bisa diberikan sampai Rp 100 ribu. Kini, mentok hanya menyerahkan setoran Rp 40 ribu. Tak benar-benar mengeluh, Saiful masih bersyukur karena banyak trayek lain yang bahkan sudah tidak beroperasi. “Misalnya saja Kreongan–Tawang Alun,” sambungnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemajuan teknologi rupanya bisa menjadi kabar buruk bagi pekerja konvensional. Ini karena banyak terjadi pergeseran keadaan bahkan penghasilan. Salah satunya adalah sopir lin kuning yang beroperasi di Jember.

Hidup harus tetap berjalan. Sama halnya dengan lin trayek Arjasa–Tawang Alun yang dikemudikan oleh Muhammad Saiful. Sebagai sopir yang sudah mengaspal selama 20 tahun, sepertinya lin sudah melekat di kesehariannya. Menjadi satu-satunya pintu mencari nafkah untuk keluarga.

Setiap hari, Saiful menarik lin dari pukul 17.00 hingga tengah malam. Bergantian dengan saudaranya. Dia mengungkapkan bahwa penumpang lin terus mengalami penurunan. “Bisa sampai 60 persen,” timpalnya, sambil membersihkan lin kuningnya di Terminal Arjasa, Sabtu (21/5).

Dulu ketika belum ada angkutan daring, tambahnya, setoran yang bisa diberikan sampai Rp 100 ribu. Kini, mentok hanya menyerahkan setoran Rp 40 ribu. Tak benar-benar mengeluh, Saiful masih bersyukur karena banyak trayek lain yang bahkan sudah tidak beroperasi. “Misalnya saja Kreongan–Tawang Alun,” sambungnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemajuan teknologi rupanya bisa menjadi kabar buruk bagi pekerja konvensional. Ini karena banyak terjadi pergeseran keadaan bahkan penghasilan. Salah satunya adalah sopir lin kuning yang beroperasi di Jember.

Hidup harus tetap berjalan. Sama halnya dengan lin trayek Arjasa–Tawang Alun yang dikemudikan oleh Muhammad Saiful. Sebagai sopir yang sudah mengaspal selama 20 tahun, sepertinya lin sudah melekat di kesehariannya. Menjadi satu-satunya pintu mencari nafkah untuk keluarga.

Setiap hari, Saiful menarik lin dari pukul 17.00 hingga tengah malam. Bergantian dengan saudaranya. Dia mengungkapkan bahwa penumpang lin terus mengalami penurunan. “Bisa sampai 60 persen,” timpalnya, sambil membersihkan lin kuningnya di Terminal Arjasa, Sabtu (21/5).

Dulu ketika belum ada angkutan daring, tambahnya, setoran yang bisa diberikan sampai Rp 100 ribu. Kini, mentok hanya menyerahkan setoran Rp 40 ribu. Tak benar-benar mengeluh, Saiful masih bersyukur karena banyak trayek lain yang bahkan sudah tidak beroperasi. “Misalnya saja Kreongan–Tawang Alun,” sambungnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/