alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ungkap Dua Truk Pestisida Palsu

Limpahan Kasus dari Mabes Polri

Produksinya di Gudang Pakusari

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pekan kemarin, dua truk berpelat nomor B itu tiba di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember. Satu truk boks dan satu bak terbuka. Keduanya tertutup rapat. Siapa sangka, dua kendaraan pengangkut tersebut berisi barang bukti pestisida palsu, limpahan kasus dari Mabes Polri.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Jember Aditya Okto Tohari mengatakan, dua truk itu berisi barang bukti pestisida palsu, bukan pupuk palsu. Hanya isinya yang menjadi barang bukti. Sementara, truk berpelat nomor Jakarta itu tidak termasuk. Kendaraan itu hanya armada yang mengirim dari ibu kota. “Jadi, kasus pemalsuan pestisida ini pelimpahan tahap kedua oleh Mabes Polri,” paparnya.

Aditya menjelaskan, pelimpahan ke Kejari Jember tidak lain karena tempat kejadian perkara (TKP) berada di Jember. Lokasinya di Kecamatan Pakusari. “Jadi, produksinya itu di Jember. Dan tempat produksinya tersebut bukan di rumah, tapi seperti gudang,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pestisida abal-abal tersebut bentuknya tidak cair, melainkan padat. Dari bentuknya, pestisida itu menyerupai pasir yang diwarnai saja. Sehingga, cara itu bisa mengelabui petani. “Orang awam mengira itu asli,” jelasnya.

Pestisida palsu tersebut jelas merugikan penggunanya, karena hasil dan manfaatnya berbeda dan tidak sesuai dengan kandungan yang tercantum dalam label. Artinya, kata Aditya, unsur dalam pestisida abal-abal itu kandungannya berbeda dengan yang ada di kemasan. “Jadi, saat dicek di laboratorium, kandungan pestisida itu tidak sesuai, sehingga dinamakan palsu,” urainya.

Berapa jumlah pestisida yang dijadikan barang bukti tersebut? Aditya belum bisa menjelaskan detail. Sebab, pestisida itu masih dalam wadah kardus. “Jadi, kemasannya itu di kardus seperti kardus air mineral. Bukan kemasan sak seperti pupuk,” ucapnya.

Hingga kini, kejaksaan masih menangkap satu tersangka berinisial MR. Pihaknya sudah menahan tersangka yang sebelumnya tidak ditahan oleh Bareskrim Mabes Polri. Atas perbuatannya, tersangka terancam UU Perlindungan Konsumen dan UU Budi Daya Pertanian Berkelanjutan.

Bentuknya Sulit Dibedakan

Terbongkarnya praktik pembuatan pestisida palsu tersebut sejatinya bukan hal baru yang pernah ditemukan oleh petani Jember. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pestisida bentuk padat granul itu memang rentan dipalsukan. “Kalau jenis itu memang rentan dipalsu,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pekan kemarin, dua truk berpelat nomor B itu tiba di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember. Satu truk boks dan satu bak terbuka. Keduanya tertutup rapat. Siapa sangka, dua kendaraan pengangkut tersebut berisi barang bukti pestisida palsu, limpahan kasus dari Mabes Polri.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Jember Aditya Okto Tohari mengatakan, dua truk itu berisi barang bukti pestisida palsu, bukan pupuk palsu. Hanya isinya yang menjadi barang bukti. Sementara, truk berpelat nomor Jakarta itu tidak termasuk. Kendaraan itu hanya armada yang mengirim dari ibu kota. “Jadi, kasus pemalsuan pestisida ini pelimpahan tahap kedua oleh Mabes Polri,” paparnya.

Aditya menjelaskan, pelimpahan ke Kejari Jember tidak lain karena tempat kejadian perkara (TKP) berada di Jember. Lokasinya di Kecamatan Pakusari. “Jadi, produksinya itu di Jember. Dan tempat produksinya tersebut bukan di rumah, tapi seperti gudang,” ujarnya.

Pestisida abal-abal tersebut bentuknya tidak cair, melainkan padat. Dari bentuknya, pestisida itu menyerupai pasir yang diwarnai saja. Sehingga, cara itu bisa mengelabui petani. “Orang awam mengira itu asli,” jelasnya.

Pestisida palsu tersebut jelas merugikan penggunanya, karena hasil dan manfaatnya berbeda dan tidak sesuai dengan kandungan yang tercantum dalam label. Artinya, kata Aditya, unsur dalam pestisida abal-abal itu kandungannya berbeda dengan yang ada di kemasan. “Jadi, saat dicek di laboratorium, kandungan pestisida itu tidak sesuai, sehingga dinamakan palsu,” urainya.

Berapa jumlah pestisida yang dijadikan barang bukti tersebut? Aditya belum bisa menjelaskan detail. Sebab, pestisida itu masih dalam wadah kardus. “Jadi, kemasannya itu di kardus seperti kardus air mineral. Bukan kemasan sak seperti pupuk,” ucapnya.

Hingga kini, kejaksaan masih menangkap satu tersangka berinisial MR. Pihaknya sudah menahan tersangka yang sebelumnya tidak ditahan oleh Bareskrim Mabes Polri. Atas perbuatannya, tersangka terancam UU Perlindungan Konsumen dan UU Budi Daya Pertanian Berkelanjutan.

Bentuknya Sulit Dibedakan

Terbongkarnya praktik pembuatan pestisida palsu tersebut sejatinya bukan hal baru yang pernah ditemukan oleh petani Jember. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pestisida bentuk padat granul itu memang rentan dipalsukan. “Kalau jenis itu memang rentan dipalsu,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pekan kemarin, dua truk berpelat nomor B itu tiba di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember. Satu truk boks dan satu bak terbuka. Keduanya tertutup rapat. Siapa sangka, dua kendaraan pengangkut tersebut berisi barang bukti pestisida palsu, limpahan kasus dari Mabes Polri.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Jember Aditya Okto Tohari mengatakan, dua truk itu berisi barang bukti pestisida palsu, bukan pupuk palsu. Hanya isinya yang menjadi barang bukti. Sementara, truk berpelat nomor Jakarta itu tidak termasuk. Kendaraan itu hanya armada yang mengirim dari ibu kota. “Jadi, kasus pemalsuan pestisida ini pelimpahan tahap kedua oleh Mabes Polri,” paparnya.

Aditya menjelaskan, pelimpahan ke Kejari Jember tidak lain karena tempat kejadian perkara (TKP) berada di Jember. Lokasinya di Kecamatan Pakusari. “Jadi, produksinya itu di Jember. Dan tempat produksinya tersebut bukan di rumah, tapi seperti gudang,” ujarnya.

Pestisida abal-abal tersebut bentuknya tidak cair, melainkan padat. Dari bentuknya, pestisida itu menyerupai pasir yang diwarnai saja. Sehingga, cara itu bisa mengelabui petani. “Orang awam mengira itu asli,” jelasnya.

Pestisida palsu tersebut jelas merugikan penggunanya, karena hasil dan manfaatnya berbeda dan tidak sesuai dengan kandungan yang tercantum dalam label. Artinya, kata Aditya, unsur dalam pestisida abal-abal itu kandungannya berbeda dengan yang ada di kemasan. “Jadi, saat dicek di laboratorium, kandungan pestisida itu tidak sesuai, sehingga dinamakan palsu,” urainya.

Berapa jumlah pestisida yang dijadikan barang bukti tersebut? Aditya belum bisa menjelaskan detail. Sebab, pestisida itu masih dalam wadah kardus. “Jadi, kemasannya itu di kardus seperti kardus air mineral. Bukan kemasan sak seperti pupuk,” ucapnya.

Hingga kini, kejaksaan masih menangkap satu tersangka berinisial MR. Pihaknya sudah menahan tersangka yang sebelumnya tidak ditahan oleh Bareskrim Mabes Polri. Atas perbuatannya, tersangka terancam UU Perlindungan Konsumen dan UU Budi Daya Pertanian Berkelanjutan.

Bentuknya Sulit Dibedakan

Terbongkarnya praktik pembuatan pestisida palsu tersebut sejatinya bukan hal baru yang pernah ditemukan oleh petani Jember. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pestisida bentuk padat granul itu memang rentan dipalsukan. “Kalau jenis itu memang rentan dipalsu,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/