alexametrics
24.5 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Dinsos Bungkam Soal Gelandangan di Jember yang Kian Menjamur

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini, seringkali dijumpai gelandangan dan pengemis tengah berkeliaran di Kabupaten Jember. Hal ini tentu bukan masalah baru bagi pemerintah daerah kabupaten setempat. Sebab menurut data yang dicatat oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi penyumbang terbanyak nomor dua se-Jatim.

Berdasarkan data itu, jumlah gelandangan di Jember mencapai 299 jiwa pada tahun 2019. Jika pada dua tahun yang lalu sudah berjumlah ratusan, lalu bagaimana dengan jumlah gelandangan gelandangan pada tahun 2020. Apakah semakin menjamur?

Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasi data terbaru kepada Dinas Sosial Jember. Namun, Plt Kepala Dinas Sosial Wahyu S Handayani bungkam. “Terkait data, untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apapun itu,” ungkapnya, saat di konfirmasi di kantor Dinas Sosial Jalan PB Soedirman Kecamatan Patrang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Pakar Psikologi Ihsan Diky Ramadhan mengatakan, semakin banyaknya jumlah gelandangan disebabkan oleh dua faktor. Pertama faktor internal seperti ekonomi atau pendidikan yang rendah. Dan juga bisa berasal dari rusaknya mental. Kemudian yang kedua faktor ekstrenal, yakni dukungan dari lingkungan.

“Kalau pengemis di lampu merah itu semakin dikasih uang, maka mereka makin konsisten dengan statusnya. Karena berpikir bahwa tindakan mereka itu direspons positif oleh warga dan dengan begitu mereka juga tidak perlu capek-capek kerja,” ungkap Ihsan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini, seringkali dijumpai gelandangan dan pengemis tengah berkeliaran di Kabupaten Jember. Hal ini tentu bukan masalah baru bagi pemerintah daerah kabupaten setempat. Sebab menurut data yang dicatat oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi penyumbang terbanyak nomor dua se-Jatim.

Berdasarkan data itu, jumlah gelandangan di Jember mencapai 299 jiwa pada tahun 2019. Jika pada dua tahun yang lalu sudah berjumlah ratusan, lalu bagaimana dengan jumlah gelandangan gelandangan pada tahun 2020. Apakah semakin menjamur?

Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasi data terbaru kepada Dinas Sosial Jember. Namun, Plt Kepala Dinas Sosial Wahyu S Handayani bungkam. “Terkait data, untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apapun itu,” ungkapnya, saat di konfirmasi di kantor Dinas Sosial Jalan PB Soedirman Kecamatan Patrang.

Sementara itu, Pakar Psikologi Ihsan Diky Ramadhan mengatakan, semakin banyaknya jumlah gelandangan disebabkan oleh dua faktor. Pertama faktor internal seperti ekonomi atau pendidikan yang rendah. Dan juga bisa berasal dari rusaknya mental. Kemudian yang kedua faktor ekstrenal, yakni dukungan dari lingkungan.

“Kalau pengemis di lampu merah itu semakin dikasih uang, maka mereka makin konsisten dengan statusnya. Karena berpikir bahwa tindakan mereka itu direspons positif oleh warga dan dengan begitu mereka juga tidak perlu capek-capek kerja,” ungkap Ihsan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini, seringkali dijumpai gelandangan dan pengemis tengah berkeliaran di Kabupaten Jember. Hal ini tentu bukan masalah baru bagi pemerintah daerah kabupaten setempat. Sebab menurut data yang dicatat oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi penyumbang terbanyak nomor dua se-Jatim.

Berdasarkan data itu, jumlah gelandangan di Jember mencapai 299 jiwa pada tahun 2019. Jika pada dua tahun yang lalu sudah berjumlah ratusan, lalu bagaimana dengan jumlah gelandangan gelandangan pada tahun 2020. Apakah semakin menjamur?

Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasi data terbaru kepada Dinas Sosial Jember. Namun, Plt Kepala Dinas Sosial Wahyu S Handayani bungkam. “Terkait data, untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apapun itu,” ungkapnya, saat di konfirmasi di kantor Dinas Sosial Jalan PB Soedirman Kecamatan Patrang.

Sementara itu, Pakar Psikologi Ihsan Diky Ramadhan mengatakan, semakin banyaknya jumlah gelandangan disebabkan oleh dua faktor. Pertama faktor internal seperti ekonomi atau pendidikan yang rendah. Dan juga bisa berasal dari rusaknya mental. Kemudian yang kedua faktor ekstrenal, yakni dukungan dari lingkungan.

“Kalau pengemis di lampu merah itu semakin dikasih uang, maka mereka makin konsisten dengan statusnya. Karena berpikir bahwa tindakan mereka itu direspons positif oleh warga dan dengan begitu mereka juga tidak perlu capek-capek kerja,” ungkap Ihsan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/